Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
SETIAP kali LaTonya melihat foto dirinya saat pertama kali menyusui bayi laki-lakinya, ia merasa sangat emosional. Sebagai seorang ibu yang hidup dengan HIV/AIDS di Colorado, momen ini sangat berarti baginya.
Bagi LaTonya, menyusui adalah momen yang ingin diabadikan selamanya.
"Itulah betapa pentingnya bagi saya bisa menyusui," kata LaTonya tentang foto-fotonya seperti dikutip dari CNN, Rabu (22/5).
Baca juga : Angka Kasus HIV di Bengkulu Terus Meningkat
"Jadi, saya ingin memastikan kami memiliki kenangan itu selamanya."
Untuk pertama kalinya, American Academy of Pediatrics (AAP) mengubah pendiriannya dengan menyatakan bahwa orang dengan HIV bisa menyusui bayinya jika mereka mengikuti pedoman tertentu dan mendapatkan dukungan dari tim medis mereka.
Menghindari menyusui adalah satu-satunya opsi dengan risiko nol untuk penularan HIV, tetapi mulai sekarang, para dokter anak harus menawarkan dukungan dan konseling bagi wanita yang ingin menyusui, yang menerima pengobatan antiretroviral (ART) sesuai resep, dan yang menjaga jumlah virus dalam tubuh pada tingkat yang tidak terdeteksi, menurut laporan klinis baru dari AAP yang diterbitkan Senin di jurnal Pediatrics.
Baca juga : Tak Hanya Sifilis, Ini Daftar Penyakit Menular Seksual Akibat Virus dan Bakeri yang Perlu Diwaspadai
Sebelumnya, akademi merekomendasikan agar ibu dengan HIV di Amerika Serikat tidak menyusui bayi mereka, terlepas dari jumlah virus dalam tubuh dan penggunaan terapi antiretroviral.
Rekomendasi untuk tidak menyusui bagi orang dengan HIV telah ada sejak sekitar tahun 1985, ketika Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS merekomendasikan agar wanita dengan infeksi HIV menghindari menyusui.
"Namun, AAP merekomendasikan bahwa bagi orang dengan HIV di Amerika Serikat, pemberian makanan pengganti (dengan susu formula atau susu donor yang telah disertifikasi) adalah satu-satunya opsi yang 100% pasti mencegah penularan HIV pascanatal," kata laporan baru tersebut.
Baca juga : HIV/AIDS: Gejala, Pencegahan, dan Pengobatan
Namun, profesional kesehatan anak harus siap memberikan konseling tentang pemberian makanan bayi.
LaTonya telah hidup dengan HIV selama sekitar 20 tahun, katanya, tetapi begitu ia melahirkan putranya, ia tahu bahwa ia ingin menyusui karena manfaat kesehatan yang akan dimiliki ASI bagi bayi. Seperti proteksi terhadap mengurangi risiko asma, obesitas, diabetes tipe 1, dan sindrom kematian mendadak bayi.
"Menjadi seorang ibu benar-benar luar biasa. Saya tidak akan menukarnya dengan apa pun di dunia ini," kata LaTonya.
Baca juga : Vaxinia si Virus Pembunuh Kanker, Segera Disuntikkan ke Manusia
Menurut dia, setiap orang tua ingin memberikan "kesempatan terbaik" bagi anak mereka untuk menjadi orang terbaik yang mereka bisa.
"Saya merasa menyusui adalah langkah menuju kemampuan saya untuk menyediakan itu bagi anak saya," katanya.
Setelah berbicara tentang keputusannya dengan dokternya, mereka mengembangkan rencana untuknya menyusui karena viral load-nya tidak terdeteksi dan dia sedang menjalani pengobatan antiretroviral.
Seorang dokter anak di Colorado Lisa Abuogi menyampaikan, bayi yang menerima antiretroviral pencegahan, risiko penularan HIV melalui ASI tampaknya paling tinggi pada empat hingga enam minggu pertama kehidupan, berkisar antara 5% hingga 6%. Namun risikonya "diperkirakan kurang dari 1%" jika ibu menjalani pengobatan antiretroviral dan virusnya ditekan dalam tubuhnya, yang berarti tidak ada viral load yang terdeteksi.
"Orang hamil dengan HIV yang sedang menjalani pengobatan dan tidak terdeteksi dapat didukung untuk menyusui," kata Lisa Abuogi.
Abuogi menyampaikan, beberapa wanita merasa malu atau tertekan atau merasa tidak memenuhi peran mereka sebagai ibu jika mereka tidak bisa menyusui, dan beberapa sangat khawatir bahwa hal itu mengungkapkan status HIV mereka di komunitas mereka.
Sebab menyusui adalah norma dan Anda harus menjelaskan mengapa Anda tidak melakukannya. Diperkirakan sekitar 5.000 orang dengan HIV melahirkan di Amerika Serikat setiap tahun.
"Jadi, memiliki kesempatan untuk menawarkan pilihan kepada wanita, seperti yang dimiliki semua wanita, dan mendukung keputusan mereka sangat memberdayakan," kata Abuogi.
"Orang yang hidup dengan HIV harus memiliki semua opsi pemberian makanan bayi yang sama seperti orang lain, dan kami benar-benar bekerja untuk membuat keputusan itu aman bagi wanita."
Tahun lalu, panel penasihat Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS membuat pembaruan serupa pada rekomendasinya tentang pemberian makanan bayi, dengan mengatakan bahwa individu dengan HIV yang menjalani ART dengan viral load yang tidak terdeteksi secara berkelanjutan dan yang memilih untuk menyusui harus didukung dalam keputusan ini.
Spesialis penyakit menular anak dan peneliti di Mayo Clinic di Minnesota Rana Chakraborty menyampaikan, sejumlah peneliti mampu menunjukkan bahwa menyusui dapat dilakukan dengan aman jika ibu menjalani terapi antiretroviral dan mempertahankan viral load HIV yang tidak terdeteksi. Dengan kata lain, jumlah virus dalam satu tetes darah perlu kurang dari 50 salinan per mililiter.
"Di AS, ini juga bisa dilakukan. Namun, menyusui selama infeksi HIV ibu dipantau tim medis yang mendukung untuk memastikan bahwa ini dapat dilakukan dengan aman untuk ibu dan bayi," lanjut dia.
Profesor epidemiologi dan pediatri di Pusat Medis Universitas Columbia di New York Elaine Abrams menyampaikan, pada awal 2000-an, muncul penelitian yang menunjukkan bahwa bayi yang lahir dari ibu dengan HIV di ngara-negara berpenghasilan rendah memiliki risiko penyakit dan kematian yang lebih tinggi ketika mereka diberi susu formula. Hal tersebut mendorong Organisasi Kesehatan Dunia untuk merekomendasikan agar orang dengan HIV menyusui bayi mereka di tempat-tempat tanpa air minum yang aman dan formula yang mudah diakses.
Seiring dengan semakin banyaknya ibu dengan HIV yang menyusui, lebih banyak penelitian kemudian menemukan bahwa ketika ibu mengonsumsi ART atau bayi diberi antiretroviral secara preventif, itu secara efektif mengurangi risiko penularan HIV.
"Situasi ini mungkin disebabkan oleh kerusakan integritas usus bayi yang mengonsumsi zat selain air susu ibu, penurunan jumlah zat antiviral atau antiinflamasi yang biasanya dikonsumsi dalam air susu ibu, atau mekanisme lainnya," tandas dia. (Z-10)
Dinas Kesehatan Jawa Timur tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan kuratif dan pelaporan kasus, melainkan perlu memperkuat langkah preventif.
"Hasil pendataan kami, temuan HIV/AIDS selama 10 bulan mulai Januari-Oktober di Kota Sukabumi ada 124 kasus. Terdapat lima orang meninggal dunia,"
Para pengidap HIV/AIDS harus mendapat jaminan kesehatan dari pemerintah.
KETUA DPP PDI Perjuangan Bidang Kesehatan dan Lingkungan Hidup, Ribka Tjiptaning, menyoroti masih adanya stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Universitas Esa Unggul melalui akademisi dan pakar Mikrobiologi, memberikan pandangan dan informasi ilmiah terkini terkait perkembangan penanganan HIV/AIDS di dunia dan Indonesia.
Stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV bisa menghambat pengobatan.
Kemenkes memberikan apresiasi kepada Dexa Medica melalui Penghargaan Karya Anak Bangsa 2025 atas kontribusinya sebagai industri farmasi dengan uji klinis obat bahan alam terbanyak
Di tengah maraknya produk yang beredar, kredibilitas riset dan sertifikasi menjadi kriteria seleksi utama bagi konsumen cerdas.
INDONESIA resmi memulai uji klinis fase 1 vaksin tuberkulosis (Tb) berbasis inhalasi pertama di dunia.
Pil kontrasepsi pria eksperimental YCT-529 tanpa hormon lolos uji awal tanpa efek samping serius, membuka jalan jadi kontrasepsi pria pertama yang aman dan efektif.
Vaksin tuberkulosis merupakan vaksin tuberkulosis inhalasi pertama. Vaksin ini dikembangkan dengan menggunakan tiga antigen.
Pelaksanaan uji klinis dimulai pada 3 September 2024, dan rekrutmen partisipan secara resmi telah selesai per 16 April 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved