Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Indonesia Lakukan Uji Klinis Fase 1 Vaksin Tb Inhalasi Pertama di Dunia

M Iqbal Al Machmudi
14/11/2025 16:44
Indonesia Lakukan Uji Klinis Fase 1 Vaksin Tb Inhalasi Pertama di Dunia
Pemeriksaan pasien Tb(Antara Foto)

INDONESIA resmi memulai uji klinis fase 1 vaksin tuberkulosis (Tb) berbasis inhalasi pertama di dunia. Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus atau yang akrab disapa Benny menyebut langkah ini sebagai bagian dari program nasional pemberantasan Tb yang menjadi prioritas Presiden RI Prabowo Subianto.

"Pemberantasan Tb adalah program hasil terbaik cepat dari Presiden Prabowo yang harus segera direalisasikan," kata Benny dalam keterangannya, Jumat (14/11).

Berbeda dengan vaksin pada umumnya yang diberikan melalui suntikan, vaksin Tb inhalasi diberikan dalam bentuk uap halus yang dihirup oleh pasien. Penelitian ini dipimpin oleh Prof. Erlina Burhan dan melibatkan berbagai institusi, di antaranya RS Persahabatan, RS Islam Cempaka Putih, Etana, serta CanSino Incorporation dari Tiongkok.

Benny menambahkan, kebutuhan anggaran untuk program pemberantasan Tb secara nasional diperkirakan mencapai Rp10 triliun sampai Rp20 triliun, termasuk dukungan sosial bagi pasien dari keluarga miskin.

"Karena kami bukan hanya mengobati pasien TBC, tapi nanti rumah pasien TBC yang miskin akan dibantu renovasi. Pemberian makanan bergizi dari Kementerian Sosial dan Kementerian Tenaga Kerja juga akan dilibatkan,” jelasnya.

Sementara itu Erlina menjelaskan, uji klinis ini telah melewati proses panjang sebelum memasuki tahap fase 1. Setelah mendapatkan persetujuan etik dari Komite Etik RS Persahabatan pada April, Komite Etik RS Islam Cempaka Putih di Juli, dan izin Badan POM pada Mei 2025, uji klinis akhirnya resmi dimulai.

"Tujuan utamanya adalah mengevaluasi keamanan dan kemampuan imunogenisitas vaksin pada individu dewasa sehat berusia 18–49 tahun,” ujar Erlina.

Sebanyak 36 sukarelawan akan berpartisipasi, terbagi dalam dua kelompok dosis berbeda. Rekrutmen dilakukan di RS Islam Cempaka Putih, sementara tindakan medis lanjutan seperti Bronchoalveolar Lavage Fluid (BALF) dilaksanakan di RS Persahabatan yang memiliki fasilitas bronkoskopi.

Menariknya, metode inhalasi memungkinkan vaksin masuk langsung ke sistem pernapasan dan menstimulasi kekebalan lokal di paru-paru. Para partisipan akan menjalani pemantauan lanjutan pada hari ke-28, ke-90, dan ke-180 untuk memastikan respons imun dan keamanan vaksin.

"Vaksin Tb inhalasi ini akan menjadi terobosan besar dalam upaya pemberantasan tuberkulosis di Indonesia dan dunia,” kata Prof. Erlina.

Pemerintah menargetkan penurunan kasus Tb dari 380 menjadi 65 kasus per 100 ribu penduduk, agar Indonesia sejajar dengan negara maju dalam pengendalian Tb.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) Taruna Ikrar menyampaikan dukungan penuh terhadap pengembangan vaksin ini.

"Bukti dukungan kami berupa persetujuan pelaksanaan uji klinis fase 1 yang sudah kami keluarkan dan sampaikan,” jelas Taruna.

Ia menambahkan, setelah fase 1 dinyatakan aman, BPOM akan memproses izin untuk fase 2 dan 3 guna menentukan dosis serta efikasi vaksin.

"Saya yakin, berdasarkan insting saya sebagai ahli farmakologi, insya Allah ini sukses,” tegasnya.

Pemerintah berharap, dengan percepatan uji klinis vaksin Tb inhalasi, Indonesia dapat menekan kasus Tb secara signifikan dan mencapai target bebas Tb pada 2030. (H-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik