Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Senator AS Desak Trump Akhiri Perang untuk Cegah Bencana

Ferdian Ananda Majni
15/3/2026 11:32
Senator AS Desak Trump Akhiri Perang untuk Cegah Bencana
Senator dari Partai Demokrat, Chris Murphy, menilai Presiden Donald Trump telah kehilangan kendali atas konflik yang kini meluas di kawasan Timur Tengah.(Media Sosial X)

SALAH seorang senator senior Amerika Serikat (AS) memperingatkan perang yang dilancarkan Washington dan Tel Aviv terhadap Iran, mendorong Timur Tengah ke dalam krisis yang semakin berbahaya. 

Senator dari Partai Demokrat, Chris Murphy, menilai Presiden Donald Trump telah kehilangan kendali atas konflik yang kini meluas di kawasan.

Pernyataan itu disampaikan Murphy melalui serangkaian unggahan di platform X. Ia menyebut perang tersebut telah menjerumuskan kawasan ke dalam spiral kekerasan yang sulit dikendalikan.

"Sekarang sudah sangat jelas Trump telah kehilangan kendali atas perang ini. Dia salah menilai kemampuan Iran untuk membalas. Kawasan itu terbakar," tulis Murphy dikutip middleeasteye, Minggu (15/3).

Selat Hormuz

Menurutnya, krisis pertama berpusat di Selat Hormuz, jalur pelayaran sempit yang dilalui lebih dari 20% pasokan minyak dan gas dunia. Murphy menilai Washington meremehkan kemampuan Iran untuk mengganggu jalur vital tersebut.

"Trump percaya Iran tidak akan menutup Selat Hormuz. Ia salah. Dan sekarang harga minyak melonjak," ujarnya.

Murphy menambahkan penggunaan drone, kapal cepat, dan ranjau laut oleh Iran membuat perairan itu sangat sulit diamankan. 

Senjata-senjata tersebut, katanya, tidak dapat dihilangkan. Jumlahnya terlalu banyak, terlalu tersebar, dan tersembunyi, sehingga pengawalan kapal tanker berisiko tinggi bagi Angkatan Laut AS.

Perang Modern

Krisis kedua, lanjut Murphy, berkaitan dengan meningkatnya peran drone dalam peperangan modern. Ia menilai Iran mampu menyerang fasilitas energi di kawasan secara berkelanjutan karena memiliki persediaan drone murah dalam jumlah besar.

"Iran dapat menyerang lokasi minyak di wilayah tersebut tanpa batas waktu karena mereka memiliki begitu banyak drone murah yang dipersenjatai," tulisnya.

Murphy juga merujuk pada dampak perang di Ukraina sebagai bukti perubahan karakter konflik modern. 

"Jika Trump memperhatikan Perang Ukraina, ia akan menyadari bagaimana peperangan telah berubah. Tetapi ia tidak melakukannya. Dan ia melakukan kesalahan," tambahnya.

Di saat yang sama, sistem pertahanan udara di kawasan disebut berada di bawah tekanan. Israel bahkan telah memperingatkan Washington bahwa stok pencegat rudal balistiknya menipis saat perang memasuki minggu ketiga.

Murphy menilai konflik kini meluas secara geografis. Ia menyebut kelompok sekutu Iran di Libanon dan Irak telah menyerang target Israel dan Amerika, sementara Tel Aviv mengancam akan melancarkan invasi darat besar-besaran ke Libanon. "Perang regional yang lebih luas sedang meletus," tulisnya.

Ia juga memperingatkan potensi keterlibatan kelompok Houthi di Yaman yang dapat mengganggu jalur pelayaran di Laut Merah, serta kemungkinan memburuknya situasi di Suriah.  "Suriah bisa meledak lagi," katanya.

Ketidak Stabilan Jangka Panjang

Murphy menyoroti ketiadaan strategi akhir dari pemerintahan Trump. Menurutnya, Washington tidak memiliki rencana jelas untuk mengakhiri perang, sementara Iran dan sekutunya mampu menciptakan ketidakstabilan dalam jangka panjang. "Trump tidak memiliki tujuan akhir. Iran dan proksinya dapat menciptakan kekacauan tanpa batas waktu," ujarnya.

Ia memperingatkan invasi darat AS ke Iran akan berujung pada konsekuensi yang sangat besar. Operasi semacam itu, katanya, akan menjadi Armageddon dengan ribuan korban jiwa di pihak Amerika.

Murphy juga menilai deklarasi kemenangan sepihak tidak akan menyelesaikan masalah.  "Menyatakan kemenangan palsu? Maka para garis keras Iran yang baru berkuasa hanya akan membangun kembali apa yang telah kita hancurkan," tulisnya.

Menutup pernyataannya, Murphy mendesak pemerintah AS untuk segera mengakhiri konflik guna mencegah bencana yang lebih luas.

"Semua ini sepenuhnya dapat diprediksi. Terus terang, itulah mengapa presiden-presiden sebelumnya tidak sebodoh itu untuk memulai perang seperti ini," tegasnya.

"Trump telah kehilangan kendali atas perang. Langkah terbaiknya sekarang adalah mengurangi kerugian dan mengakhirinya. Itulah satu-satunya cara untuk mencegah bencana yang lebih besar," pungkasnya. (Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya