Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Antisipasi Perang Iran, Inggris Kucurkan Rp2 Triliun untuk Aktifkan Kembali Pabrik CO2

Thalatie K Yani
26/3/2026 11:31
Antisipasi Perang Iran, Inggris Kucurkan Rp2 Triliun untuk Aktifkan Kembali Pabrik CO2
Pemerintah Inggris investasi £100 juta buka kembali pabrik CO2 di Teesside. Langkah darurat ini diambil guna menjaga pasokan pangan di tengah konflik Iran.(Ensus)

PEMERINTAH Inggris dilaporkan siap menginvestasikan dana sebesar £100 juta (sekitar Rp2 triliun) sebagai langkah darurat untuk membuka kembali pabrik produksi karbon dioksida (CO2) yang sempat ditutup. Rencana kontigensi ini diambil guna memitigasi gangguan pasokan komoditas vital yang dipicu oleh meluasnya eskalasi perang di Iran.

Departemen Bisnis Inggris diperkirakan akan mengumumkan pada Kamis (26/3/2026) bahwa situs di Teesside, yang dioperasikan oleh perusahaan Ensus, akan kembali beroperasi setelah sebelumnya dihentikan (mothballed) tahun lalu.

Vitalitas CO2 dalam Rantai Pasok Pangan

Karbon dioksida memegang peranan krusial dalam industri makanan dan minuman. Gas ini digunakan untuk membius hewan ternak sebelum penyembelihan, sebagai bahan pengemasan untuk menjaga kesegaran makanan, hingga memberikan efek karbonasi pada minuman bersoda.

Pabrik di Teesside tersebut sejatinya memproduksi bioetanol, di mana CO2 merupakan produk sampingan (byproduct) dari proses manufakturnya. Sebelumnya, pabrik ini terpaksa berhenti beroperasi setelah Inggris mencapai kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat yang menghapus tarif impor etanol asal Negeri Paman Sam.

Langkah pengaktifan kembali ini, yang pertama kali dilaporkan oleh Financial Times, diyakini didorong oleh kekhawatiran atas melonjaknya biaya energi bagi perusahaan pupuk di Eropa, yang juga merupakan produsen utama CO2.

Dampak Penutupan Selat Hormuz

Lonjakan harga minyak dan gas dunia terjadi secara drastis sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan aksi militer terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Situasi kian pelik setelah Teheran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menyalurkan seperlima pasokan minyak dan gas global.

Inggris memiliki catatan buruk terkait krisis CO2. Pada 2021 dan 2022, industri makanan dan minuman Inggris sempat terguncang hebat akibat lonjakan harga gas grosir yang membuat produsen pupuk kesulitan menanggung biaya produksi.

Kebijakan penghapusan tarif impor etanol sebesar 19% dari AS pada Mei tahun lalu sempat membuat produsen lokal seperti Vivergo Fuels dan Ensus kalah bersaing hingga akhirnya menutup operasional mereka. Namun, dengan ancaman krisis energi global saat ini, Pemerintah Inggris memilih untuk mengamankan kedaulatan pasokan domestik melalui investasi besar tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Departemen Bisnis dan Perdagangan Inggris maupun Ensus memilih untuk tidak memberikan komentar terkait detail rencana pengumuman tersebut. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya