Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Iran Tolak Negosiasi dan Pantang Damai dengan AS

Irvan Sihombing
05/3/2026 19:47
Iran Tolak Negosiasi dan Pantang Damai dengan AS
Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi saat menyampaikan pernyataan pers di kediamaannya di Jakarta, Kamis (5/4/2026). ANTARA/Kuntum Khaira Riswan/(Antara)

DUTA Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan Teheran menolak semua bentuk negosiasi dengan Amerika Serikat dan tidak akan menerima tawaran mediasi dari negara manapun untuk meredakan konflik Timur Tengah.

Pernyataan itu disampaikan Dubes Boroujerdi saat ditemui di kediamannya di Jakarta, Kamis (5/3/2026), menanggapi kesiapan pemerintah Indonesia dan Presiden Prabowo Subianto menjadi mediator.

“Terkait usulan pemerintah Indonesia, kami tidak akan melakukan negosiasi dalam bentuk apa pun dengan pihak musuh, karena kami tidak lagi mempercayai proses negosiasi,” ujar Boroujerdi.

Dubes Boroujerdi menegaskan, Iran telah melakukan tiga negosiasi dengan AS sebelumnya, namun selalu gagal karena Washington melanggar perjanjian atau melancarkan serangan.

Negosiasi pertama terkait kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2015. AS kemudian menarik diri dari perjanjian tersebut.

Negosiasi kedua berlangsung melalui lima putaran, namun di tengah proses, AS menyerang Iran pada Juni 2025.

Negosiasi ketiga dilakukan secara tak langsung dengan Oman sebagai mediator di Jenewa, Swiss. Namun negosiasi itu juga berakhir tanpa kesepakatan sebelum operasi militer AS-Iran dimulai.

Merujuk pada pengalaman sebelumnya, Boroujerdi menegaskan bahwa Iran tidak akan membuka ruang negosiasi lagi dan akan mengejar kemenangan dalam konflik saat ini.

“Untuk kali ini, kami tidak akan menerima bentuk negosiasi apapun dan kami akan mengejar perang ini sampai kemenangan Iran,” ucapnya.

Selain Indonesia, Presiden Rusia, Vladimir Putin, sebelumnya menawarkan diri sebagai mediator. Menurut Kremlin, Putin menyampaikan penawaran tersebut saat berbicara dengan Presiden UEA, Mohammed bin Zayed Al Nahyan, untuk menindaklanjuti keluhan terkait serangan yang terjadi. (Ant/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya