Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Dubes Boroujerdi: Iran sudah Tiga Kali Negosiasi tapi Selalu Dikhianati AS

Irvan Sihombing
05/3/2026 19:58
Dubes Boroujerdi: Iran sudah Tiga Kali Negosiasi tapi Selalu Dikhianati AS
Menteri Luar Negeri Sugiono (kanan) berbincang dengan Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi seperti diunggah dalam Instagram Sekretariat Kabinet yang dikutip di Jakarta, Kamis (5/3/2026).(Instagram/sekretariat.kabinet)

IRAN secara resmi menutup pintu dialog dan menolak segala bentuk tawaran mediasi untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah. Sikap keras Teheran ini didasari oleh rekam jejak diplomasi masa lalu di mana tiga kali upaya negosiasi selalu berakhir dengan pengkhianatan dan pelanggaran komitmen oleh pihak Amerika Serikat (AS).

Pernyataan tegas tersebut disampaikan oleh Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, saat ditemui di kediamannya di Jakarta pada Kamis (5/3/2026). Ia membeberkan alasan mendalam di balik hilangnya kepercayaan Iran terhadap meja perundingan.

Menurut Boroujerdi, kegagalan pertama terjadi pada kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) tahun 2015, di mana AS secara sepihak menarik diri. Negosiasi kedua yang berlangsung selama lima putaran juga berantakan setelah AS melancarkan serangan ke Iran pada Juni 2025 di tengah proses komunikasi.

Upaya ketiga, yang dilakukan secara tidak langsung melalui mediasi Oman di Jenewa, Swiss, juga berakhir buntu tanpa kesepakatan sebelum operasi militer AS-Iran pecah. Berkaca pada rangkaian peristiwa tersebut, Teheran menyatakan tidak akan lagi memberikan kesempatan bagi jalur diplomasi.

“Untuk kali ini, kami tidak akan menerima bentuk negosiasi apapun dan kami akan mengejar perang ini sampai kemenangan Iran,” ucap Boroujerdi.

Tolak tawaran Indonesia

Sikap ini sekaligus menjadi jawaban atas kesediaan Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang menawarkan diri sebagai mediator perdamaian. Boroujerdi menegaskan bahwa penolakan ini berlaku untuk semua pihak dan negara manapun yang menawarkan bantuan mediasi.

“Terkait usulan pemerintah Indonesia, kami tidak akan melakukan negosiasi dalam bentuk apa pun dengan pihak musuh, karena kami tidak lagi mempercayai proses negosiasi,” pungkasnya. 

Selain Indonesia, Presiden Rusia, Vladimir Putin, sebelumnya menawarkan diri sebagai mediator. Menurut Kremlin, Putin menyampaikan penawaran tersebut saat berbicara dengan Presiden UEA, Mohammed bin Zayed Al Nahyan, untuk menindaklanjuti keluhan terkait serangan yang terjadi. (Ant/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya