Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

Berjalan di Atas 'Kulit Telur', Paus Leo XIV Pilih Diplomasi Hati-Hati Hadapi Trump

Thalatie K Yani
03/2/2026 08:32
Berjalan di Atas 'Kulit Telur', Paus Leo XIV Pilih Diplomasi Hati-Hati Hadapi Trump
Paus Leo XIV, paus pertama asal AS, memilih jalur diplomasi hati-hati dalam menghadapi polarisasi politik di tanah airnya dan kebijakan keras Donald Trump.(Vatican news)

PAUS Leo XIV, paus pertama asal Amerika Serikat dalam sejarah, kini tengah menghadapi tantangan berat dalam menavigasi lanskap politik AS yang sangat terpolarisasi. Sejak terpilih pada Mei 2025, pontifex kelahiran Chicago ini memilih strategi kritik tidak langsung demi menjaga pintu komunikasi dengan pemerintahan Presiden Donald Trump tetap terbuka.

Meski sebelumnya sempat mengecam perlakuan "tidak manusiawi" terhadap migran dan menolak "diplomasi kekerasan", dalam beberapa pekan terakhir Paus Leo XIV tampak lebih menahan diri. Ia tidak berkomentar langsung mengenai ketegangan di Iran, rencana AS terhadap Greenland, maupun situasi yang memanas di Minneapolis setelah dua pengunjuk rasa tewas tertembak agen federal.

"Leo sangat berhati-hati. Sebagai orang Amerika, ia secara alami merupakan lawan dari Trumpisme. Namun, terkait Amerika Serikat, ia seperti sedang berjalan di atas kulit telur," ujar seorang sumber Vatikan kepada AFP.

Gereja dalam Pusaran Polarisasi

Strategi pengendalian diri ini diambil karena Paus menyadari Gereja Katolik di Amerika Serikat juga berada dalam tekanan, terutama badan imigrasi ICE. Gereja sering kali menjadi sasaran melalui populasi yang mereka bantu, seperti komunitas Hispanik dan para migran.

Alih-alih terjun langsung ke medan konflik politik, Paus lebih memilih mengandalkan hierarki uskup Amerika untuk memberikan respons pertama. Pekan lalu, Uskup Agung Paul Coakley, ketua konferensi uskup AS, bereaksi keras atas pembunuhan Renee Good dan Alex Pretti di Minneapolis, dengan menyatakan adanya "kegagalan dalam masyarakat kita untuk menghormati martabat setiap kehidupan manusia."

Kritik tajam juga datang dari Uskup Anthony Taylor yang menyebut adanya kemiripan antara kondisi AS saat ini dengan sejarah kelam masa lalu.

"Kita ditakdirkan untuk mengulangi kegagalan masa lalu jika kita tidak bersedia mengingat dan belajar darinya," tulis Taylor.

Menjaga Marwah Gereja

Di panggung internasional, tiga kardinal terkemuka, Blase Cupich, Robert McElroy, dan Joseph Tobin, mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam pergeseran intervensi Amerika dan ancaman terhadap perdamaian dunia. Teks tersebut dikabarkan telah menerima persetujuan diam-diam dari Paus Leo XIV.

Vatikan juga terus berupaya melakukan diplomasi di balik layar. Pada akhir Desember lalu, Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, mencoba membujuk Washington untuk membatalkan operasi militer di Venezuela demi menghindari pertumpahan darah.

Strategi "menunggu dan melihat" ini juga terlihat saat Vatikan merespons undangan masuk ke "Dewan Perdamaian" bentukan Trump untuk Gaza. Hingga kini, Paus Leo XIV belum bertemu langsung dengan Trump, meskipun ia sempat menerima Wakil Presiden JD Vance tak lama setelah terpilih.

Bagi Vatikan, tujuan utamanya adalah menjaga reputasi jangka panjang Gereja. Sebagaimana dijelaskan sejarawan Massimo Faggioli, tantangan besarnya adalah mencegah agar sejarah tidak mencatat Gereja Amerika terikat pada Trumpisme. "Risikonya adalah disintegrasi, bahkan runtuhnya reputasi dan peran historis Gereja Amerika," ungkapnya. (AFP/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya