Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
KETEGANGAN geopolitik di Timur Tengah mencapai titik didih baru pada awal 2026. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran untuk kembali ke meja perundingan nuklir atau hadapi aksi militer yang jauh lebih destruktif dibandingkan serangan tahun lalu.
Peringatan ini disampaikan seiring pergerakan armada tempur Angkatan Laut AS, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, yang dilaporkan telah memasuki perairan strategis kawasan tersebut. Langkah ini dinilai sebagai taktik "tekanan maksimum" jilid dua untuk memaksa Iran menyepakati perjanjian nuklir baru yang "adil dan merata".
Melalui platform Truth Social, Rabu (28/1), Trump menegaskan bahwa kesabaran Washington menipis. Ia mengisyaratkan bahwa opsi militer bukan sekadar gertakan, terutama setelah rezim Iran melakukan penindasan brutal terhadap gelombang protes anti-pemerintah yang menelan ribuan korban jiwa.
"Waktu hampir habis," tulis Trump. Ia memperingatkan bahwa jika Teheran menolak berunding, serangan berikutnya akan "jauh lebih buruk" daripada operasi militer AS terhadap fasilitas nuklir Iran yang terjadi tahun lalu.
Meski demikian, sumber di lingkaran dalam Gedung Putih menyebutkan bahwa Trump masih mempertimbangkan opsi diplomatik. "Saya lebih memilih tidak terjadi apa pun, tetapi kami memantau mereka dengan sangat cermat," ujar Trump, Jumat lalu, sembari mengonfirmasi pergerakan kapal perang AS untuk langkah antisipasi.
Merespons ancaman tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran dalam kondisi siaga penuh. Teheran memperingatkan bahwa setiap agresi terhadap wilayah udara atau perairan Iran akan dibalas dengan kekuatan yang "mengguncang Timur Tengah".
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menambahkan bahwa tidak ada negosiasi langsung yang terjadi saat ini. "Jika mereka mengeklaim ingin bernegosiasi, mereka harus berhenti membuat ancaman," tegasnya melalui platform X.
Di pusat kota Teheran, sentimen anti-AS dikobarkan melalui propaganda visual. Sebuah poster raksasa setinggi empat lantai di Lapangan Enghelab menampilkan ilustrasi kapal induk AS yang hancur dengan tulisan: "Jika Anda menabur angin, Anda akan menuai badai."
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa latihan tempur Angkatan Udara AS sedang berlangsung untuk memastikan kemampuan serangan cepat ("rapid deployment") dengan jejak logistik minimal. Namun, operasi ini menghadapi tantangan geopolitik.
Sekutu AS di Teluk, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), telah menegaskan penolakan mereka untuk mengizinkan wilayah udaranya digunakan sebagai landasan serangan terhadap Iran. UEA bahkan menyatakan tidak akan memberikan dukungan logistik untuk operasi ofensif tersebut, meskipun menjadi tuan rumah bagi pangkalan pasukan AS.
| Pihak Terlibat | Posisi & Tindakan (Januari 2026) |
|---|---|
| Amerika Serikat | Mengerahkan USS Abraham Lincoln; Menuntut negosiasi nuklir via ancaman militer. |
| Iran | Menolak negosiasi di bawah tekanan; Mengancam balasan masif; Meningkatkan retorika pertahanan. |
| Uni Eropa | Membahas penetapan IRGC sebagai organisasi teroris; Menyiapkan sanksi tambahan. |
| Arab Saudi & UEA | Menolak wilayahnya dijadikan basis serangan AS ke Iran (Netralitas Strategis). |
Eskalasi ini tidak hanya terjadi di ranah militer. Di Brussels, Uni Eropa (UE) menghadapi desakan kuat untuk memasukkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) ke dalam daftar organisasi teroris. Langkah ini didorong oleh laporan Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS, yang menyebut lebih dari 5.800 demonstran tewas sejak protes dimulai akhir bulan lalu.
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, dan Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, dijadwalkan bertemu Kamis ini untuk mematangkan sanksi baru. "Penderitaan warga sipil Iran akibat penindasan terbaru menuntut respons tegas dari komunitas internasional," ujar Tajani.
Situasi ini menempatkan stabilitas global di ujung tanduk, dengan pasar energi dan ekonomi dunia memantau ketat setiap pergerakan di Selat Hormuz.
Garda Revolusi Iran (IRGC) bersumpah tidak akan berhenti menyerang pangkalan AS dan Israel sampai musuh dikalahkan total. Simak update situasi terbaru di sini.
PRANCIS berada dalam posisi dilematis di tengah perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Presiden Emmanuel Macron mengkritik serangan militer terhadap Iran
Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, menegaskan Iran hanya mengincar kemenangan atas AS dan Israel. Ia menuntut ganti rugi serangan dan pencabutan sanksi ekonomi.
Iran berencana menyerang pusat data dan infrastruktur serat optik di negara Arab yang digunakan militer AS. Ketegangan Timur Tengah meningkat pascaserangan Israel.
Presiden Masoud Pezeshkian ungkap 3 syarat akhiri perang dengan AS dan Israel. Militer Iran ancam serang titik ekonomi di Teluk Persia jika pelabuhan diincar.
PEMERINTAH Iran memperingatkan akan menindak keras demonstrasi anti-pemerintah di tengah perang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Organisasi itu menambahkan bahwa seluruh awak kapal dilaporkan selamat dan sejauh ini tidak ada dampak lingkungan yang terdeteksi.
KORPS Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan peningkatan eskalasi militer besar-besaran dengan menyiapkan rudal berhulu ledak satu ton.
Garda Revolusi Iran (IRGC) bersumpah tidak akan berhenti menyerang pangkalan AS dan Israel sampai musuh dikalahkan total. Simak update situasi terbaru di sini.
Pemerintah tengah menyiapkan langkah antisipatif dengan mencari alternatif sumber impor minyak mentah selain dari kawasan Timur Tengah.
Iran bersedia menghentikan perang jika tiga syarat utama dipenuhi oleh Amerika Serikat.
PRANCIS berada dalam posisi dilematis di tengah perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Presiden Emmanuel Macron mengkritik serangan militer terhadap Iran
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved