Headline

Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%

Iran Ancam Serang Pusat Data Negara Arab yang Bantu Militer AS

Media Indonesia
12/3/2026 16:24
Iran Ancam Serang Pusat Data Negara Arab yang Bantu Militer AS
Rudal Iran.(Al Jazeera)

ESKALASI konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang mengkhawatirkan. Pemerintah Iran dilaporkan tengah mempertimbangkan serangan terhadap pusat data (data center) di sejumlah negara Arab yang diduga digunakan oleh Amerika Serikat (AS) untuk mendukung operasi militer dan intelijen melawan Teheran.

Informasi ini diungkapkan oleh sumber diplomatik Iran kepada kantor berita RIA Novosti pada Rabu (11/3/2026). Langkah ini diambil sebagai respons atas dugaan keterlibatan infrastruktur negara-negara tetangga dalam memfasilitasi tekanan militer Washington terhadap kedaulatan Iran.

Infrastruktur Digital Jadi Target Militer

Sumber tersebut menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak hanya memanfaatkan pangkalan fisik, tetapi juga menggunakan pusat data dan infrastruktur serat optik (optical fiber) milik negara-negara Arab untuk melancarkan serangan siber maupun koordinasi intelijen.

"Amerika Serikat menggunakan pusat data di negara-negara Arab untuk mendukung operasi intelijen dan militer terhadap Iran. Ada kemungkinan Iran akan menyerang pusat-pusat data tersebut dalam beberapa hari mendatang," ujar sumber diplomatik tersebut, Kamis (12/3/2026).

Teheran menilai pemerintah negara-negara Arab terkait tidak mengambil langkah konkret untuk mencegah penyalahgunaan infrastruktur sipil mereka oleh militer AS. Hal ini dianggap Iran sebagai bentuk pembiaran yang melegitimasi target-target tersebut untuk diserang secara militer.

Konteks Konflik: Ancaman ini muncul menyusul serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap target-target di dalam wilayah Iran pada 28 Februari 2026 yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban sipil.

Balasan terhadap Agresi AS-Israel

Iran sebelumnya melakukan aksi balasan dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer milik AS yang tersebar di Timur Tengah. Ketegangan ini bermula dari klaim Washington dan Tel Aviv bahwa serangan mereka diperlukan untuk menetralisasi program nuklir Iran.

Namun, dalam perkembangan terbaru, kedua negara tersebut secara terbuka menyatakan bahwa operasi militer yang dilakukan bertujuan mendorong perubahan kekuasaan (regime change) di Teheran. Pernyataan ini semakin memanaskan situasi diplomatik di kawasan tersebut.

Dampak terhadap Stabilitas Kawasan

Jika Iran benar-benar merealisasikan serangan terhadap pusat data di negara-negara Arab, hal ini diprediksi akan mengganggu stabilitas internet dan komunikasi global, mengingat posisi strategis Timur Tengah dalam jalur kabel bawah laut dan pusat data regional.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari negara-negara Arab terkait ancaman Teheran tersebut. Namun, para analis militer memperingatkan bahwa perang asimetris yang melibatkan infrastruktur digital dapat memicu konflik terbuka yang lebih luas di seluruh kawasan Teluk.

Situasi di Teheran dan Washington tetap tegang, dengan kedua belah pihak dalam posisi siaga tempur tertinggi. Mata uang rupiah dan harga komoditas global diperkirakan akan berfluktuasi merespons ketidakpastian keamanan di pusat energi dunia ini. (
Sputnik/RIA Novosti/Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya