Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Israel Perluas Garis Kuning Lebih Dalam ke Jalur Gaza

Wisnu Arto Subari
19/1/2026 19:57
Israel Perluas Garis Kuning Lebih Dalam ke Jalur Gaza
Warga Gaza.(Al Jazeera)

ISRAEL memindahkan blok-blok yang seharusnya menandai garis kendali pascagencatan senjata lebih jauh ke dalam Jalur Gaza di beberapa tempat. Ini menimbulkan kebingungan di kalangan Palestina.

Citra satelit yang ditinjau oleh BBC Verify, Sabtu (17/1), menunjukkan bahwa di setidaknya tiga area, Israel menempatkan blok-blok tersebut, sebelum kemudian kembali dan memindahkan posisi tersebut lebih jauh ke dalam Jalur Gaza.

Berdasarkan kesepakatan yang ditengahi AS dengan Hamas, Israel setuju menarik pasukan melewati garis yang ditandai dengan warna kuning pada peta militer Israel yang diilustrasikan di lapangan dengan blok-blok beton berwarna kuning.

Menteri Pertahanan Israel Katz memperingatkan pada Oktober bahwa siapa pun yang melintasi Garis Kuning akan dihadapi dengan tembakan.

Sejak komentar itu, terjadi serangkaian insiden mematikan di sekitar garis tersebut.

Di Beit Lahia, Jabalia, dan al-Tuffah, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menempatkan blok-blok tersebut dan kemudian kembali untuk memindahkannya lebih jauh ke dalam Gaza. Secara total, 16 posisi dipindahkan.

Di lingkungan al-Tuffah di Kota Gaza, citra satelit menunjukkan bahwa pasukan IDF memindahkan setidaknya tujuh blok yang ditempatkan antara 27 November dan 25 Desember.

Posisi penanda tersebut dipindahkan rata-rata 295 meter (968 kaki) lebih dalam ke Jalur Gaza.

Selain blok yang dipindahkan, BBC Verify memetakan 205 penanda lain. Lebih dari setengahnya ditempatkan jauh lebih dalam ke Jalur Gaza daripada garis yang ditandai pada peta.

Seorang juru bicara IDF mengatakan pihaknya menolak semua klaim bahwa Garis Kuning dipindahkan atau dilintasi oleh pasukan IDF.

"IDF beroperasi untuk menandai Garis Kuning secara visual sesuai dengan kondisi di lapangan dan penilaian situasi operasional yang sedang berlangsung," tambah mereka.

Analisis citra satelit hingga 11 Januari menunjukkan beberapa bagian Garis Kuning--yang digambarkan oleh kepala militer Israel sebagai garis perbatasan baru--juga tetap tidak ditandai di lapangan lebih dari tiga bulan sejak gencatan senjata dimulai.

Citra satelit terbaru yang ditinjau oleh BBC Verify menunjukkan bahwa blok-blok tersebut belum ditempatkan di sepanjang wilayah seluas kurang lebih 10 km (enam mil). Ini membuat beberapa orang di Gaza kesulitan mengetahui area yang disebut IDF sebagai zona pertempuran berbahaya.

Bulan lalu, seorang pria berusia 23 tahun di dekat Khan Younis--yang namanya dirahasiakan oleh BBC demi keselamatannya sendiri--mengatakan bahwa pasukan Israel tiba-tiba memindahkan blok-blok di dekatnya melewati garis yang dipetakan. Ini membuatnya terperangkap.

"Kami sekarang tinggal di dalam Garis Kuning, di belakang blok-blok kuning, tanpa tahu apa nasib kami," katanya. "Suasana di malam hari sangat menakutkan. Kami mendengar ledakan peluru, tentara maju, tembakan, dan drone berdesing di atas kepala tanpa henti. Kami juga ditembak langsung."

Profesor Andreas Krieg, seorang ahli keamanan Timur Tengah dari King's College London, menyebut pemindahan blok-blok tersebut sebagai alat untuk rekayasa teritorial.

"Dengan mempertahankan garis batas hukum di peta dan blok fisik yang berjarak ratusan meter, Israel mempertahankan kemampuan menggeser tempat tinggal, pergerakan, dan pertanian warga Gaza tanpa pernah secara resmi mengumumkan perubahan perbatasan," katanya.

Namun, Presiden Institut Strategi dan Keamanan Jerusalem, Efraim Inbar, menyatakan bahwa garis batas yang dipetakan mungkin tidak memperhitungkan penghalang alami terhadap penanda. Insinyur IDF mungkin menempatkan blok-blok tersebut di tempat yang menurut mereka lebih mudah ditempatkan.

Serangkaian insiden mematikan di sekitar Garis Kuning

Sejak peringatan Katz pada Oktober, pasukan telah menembak orang-orang yang menyeberangi Garis Kuning setidaknya dalam 69 kesempatan, menurut analisis unggahan Telegram IDF dan pernyataan kepada BBC.

Pada 19 Desember, IDF melakukan serangan terhadap sekolah yang menampung pengungsi di lingkungan al-Tuffah di Kota Gaza, sekitar 330 meter di dalam sisi Palestina dari garis tersebut. Ini hanya beberapa meter dari blok kuning yang dipindahkan ke sana.

Saksi mata mengatakan kejadian itu terjadi saat pesta pernikahan sedang berlangsung tepat di dekat gedung sekolah. Lima orang, termasuk anak-anak, tewas dalam ledakan tersebut, kata badan Pertahanan Sipil Gaza yang dikelola Hamas.

Pernyataan IDF terkait hari itu mengatakan mereka menembak individu yang mencurigakan di sebelah barat Garis Kuning. Insiden tersebut masih dalam tinjauan dan mereka menyesalkan setiap kerugian yang menimpa individu yang tidak terlibat.

Dalam insiden mematikan lain, Zaher Nasser Shamiya yang berusia 17 tahun tewas di dekat blok kuning di kamp Jabalia di Gaza utara. Ayahnya mengatakan pasukan IDF menembaknya sebelum melindasnya dengan tank pada 10 Desember.

"Tank itu menghancurkan tubuhnya menjadi berkeping-keping. Tank itu masuk ke area aman (sebelah barat Garis Kuning) dan menabraknya," katanya. BBC Verify menghubungi IDF untuk meminta komentar tentang insiden tersebut.

Pada November, media lokal melaporkan bahwa dua anak--berusia delapan dan 10 atau 11 tahun--tewas oleh pasukan Israel. Paman mereka mengatakan bahwa keduanya sedang mengumpulkan kayu bakar untuk ayah mereka yang cacat ketika mereka terbunuh.

Menanggapi kematian tersebut, pernyataan IDF mengatakan bahwa mereka melenyapkan dua tersangka yang melintasi Garis Kuning, melakukan aktivitas mencurigakan di lapangan, dan mendekati pasukan IDF. Pernyataan tersebut tidak memberikan rincian tentang bagaimana keduanya diidentifikasi sebagai tersangka.

Seorang juru bicara IDF menuduh pejuang Hamas menembaki pasukan enam kali di luar Garis Kuning selama seminggu terakhir dalam pernyataan kepada BBC Verify.

Pembongkaran dan penguatan

Meskipun Israel setuju menarik pasukannya ke belakang Garis Kuning berdasarkan kesepakatan gencatan senjata Oktober, video dan citra satelit yang dilihat oleh BBC Verify berulang kali menunjukkan kendaraan IDF beroperasi di luar Garis Kuning yang dipetakan.

Dalam klip yang terverifikasi, kendaraan pengangkut personel lapis baja dan buldoser terlihat 400 meter melewati Garis Kuning yang dipetakan. Citra satelit yang diambil pada 25 Desember tampak menunjukkan tank, ekskavator, dan kendaraan IDF lain berada sekitar 260 meter di luar Garis Kuning di Beit Lahia.

Dalam beberapa kasus, pergerakan blok diikuti oleh penghancuran bangunan di dekatnya oleh IDF.

Di bagian timur Kota Gaza, citra satelit menunjukkan bahwa ratusan bangunan diratakan hingga bahkan melampaui posisi pertama blok, kemudian penanda dipindahkan dan terjadi penghancuran lebih lanjut.

Di daerah Jabalia yang berdekatan, pasukan Israel menghancurkan serangkaian bangunan sekolah yang berada sekitar 150 meter di dalam garis yang dipetakan.

Dalam beberapa kasus penghancuran oleh IDF, puing-puing tersebut secara efektif menyembunyikan penanda dari warga Palestina di lapangan.

Seorang juru bicara IDF mengatakan bahwa pasukan sedang membongkar jaringan terowongan Hamas yang menurut mereka membentang di bawah bangunan di kedua sisi Garis Kuning. Ia menambahkan bahwa penghancuran terowongan tersebut dapat menyebabkan runtuhnya bangunan di kedua sisi garis.

Pada Rabu, AS mengatakan fase kedua kesepakatan gencatan senjata akan segera dimulai. Israel diharapkan untuk menarik diri dari bagian-bagian tambahan Jalur Gaza. Namun, tidak ada penyebutan tentang jangka waktu penarikan tersebut yang terkait dengan demiliterisasi Hamas berdasarkan kesepakatan gencatan senjata Oktober lalu.

Di beberapa bagian Jalur Gaza, penanda ditempatkan sesaat sebelum pekerjaan dimulai pada pembangunan benteng sementara Israel seperti penghalang jalan dan penghalang pertahanan di luar Garis Kuning yang dipetakan.

Krieg mengatakan kepada BBC Verify bahwa pergerakan blok-blok tersebut pada akhirnya akan memungkinkan Israel untuk mengubah sebagian Gaza menjadi zona steril.

"Dalam praktiknya, itu berarti status tanah kurang berkaitan dengan yang dikatakan peta gencatan senjata dan lebih berkaitan dengan blok-blok beton berada pada hari tertentu," katanya. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya