Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Kutuk Penyiksaan Brutal Israel di Penjara Ofer, Hamas: Kejahatan Perang

Media Indonesia
16/2/2026 13:59
Kutuk Penyiksaan Brutal Israel di Penjara Ofer, Hamas: Kejahatan Perang
Nelayan Palestina.(Al Jazeera)

Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, mengeluarkan pernyataan keras yang mengutuk tindakan Israel terhadap para tahanan Palestina. Hamas menyebut penyiksaan brutal yang terjadi di fasilitas penahanan Israel sebagai kejahatan perang yang nyata dan pelanggaran berat terhadap hukum internasional serta norma-norma kemanusiaan global.

Kecaman ini muncul menyusul laporan mengerikan mengenai kondisi tahanan di Penjara Ofer yang berada di bawah pengawasan langsung pejabat sayap kanan Israel, Itamar Ben-Gvir. Situasi ini dinilai sebagai tantangan terbuka terhadap otoritas hukum internasional yang selama ini dianggap bungkam oleh pihak Palestina.

Poin Utama Kecaman Hamas:

  • Penyiksaan sistematis di Penjara Ofer di bawah kendali Itamar Ben-Gvir.
  • Kritik terhadap sikap diam dunia internasional atas praktik kekerasan penjara.
  • Tuduhan penggunaan metode "rezim fasis" dalam menangani tahanan politik.

Rezim Fasih dan Pengawasan Itamar Ben-Gvir

Dalam pernyataan yang dikutip melalui jaringan Al Jazeera, Hamas menyoroti bahwa praktik penyiksaan di Penjara Ofer bukan sekadar insiden terisolasi, melainkan kebijakan yang sistematis. Keterlibatan Itamar Ben-Gvir dalam mengawasi fasilitas tersebut memperkuat tuduhan Hamas mengenai adanya agenda "rezim fasis" yang melegalkan kekerasan terhadap tahanan.

Hamas juga mengkritik keras sikap diam dunia internasional serta kebijakan persetujuan hukuman mati yang mulai digaungkan di internal pemerintahan Israel. Menurut Hamas, absennya tindakan tegas dari komunitas global justru memberikan lampu hijau bagi Israel untuk melanjutkan praktik kekerasan di dalam penjara.

Temuan Mengerikan RS Nasser: Luka Bakar Besi Panas

Kondisi memprihatinkan para tahanan diperkuat oleh kesaksian dr. Ahmad Al-Farra, Kepala Rumah Sakit Nasser di Gaza. Ia mengungkapkan bahwa jasad para tahanan yang dikembalikan ke Gaza berada dalam kondisi yang sangat mengenaskan, sehingga proses identifikasi menjadi hampir mustahil dilakukan.

Beberapa temuan medis yang sangat mengkhawatirkan meliputi:

  • Luka bakar di bagian perut akibat tempelan batang besi panas yang dilakukan saat korban masih hidup.
  • Kondisi jasad yang mengalami pembusukan lanjut sebelum dikembalikan ke pihak Palestina.
  • Dari tujuh jasad yang diterima, hanya satu yang berhasil diidentifikasi secara positif karena hilangnya ciri-ciri fisik akibat penyiksaan berat.

Dugaan Pencurian Organ dan Penghapusan Identitas

Salah satu poin paling krusial dalam laporan medis tersebut adalah ditemukannya kapas yang menyumpal bagian dalam jasad. Hal ini menimbulkan kecurigaan kuat adanya praktik pencurian organ terhadap para tahanan Palestina sebelum mereka dinyatakan gugur atau dikembalikan ke pihak keluarga.

Selain itu, dr. Al-Farra mencatat bahwa otoritas Israel sebenarnya mengetahui identitas para tahanan tersebut, namun mereka sengaja merahasiakan nama-nama korban. Tindakan ini dianggap sebagai upaya sistematis untuk menghapus jejak kejahatan dan mempersulit keluarga korban dalam menuntut keadilan.

Desakan Pertanggungjawaban Internasional

Menanggapi fakta-fakta mengerikan ini, Hamas mendesak komunitas internasional, badan hak asasi manusia, dan PBB untuk segera turun tangan. Mereka menuntut adanya investigasi independen terhadap kondisi di Penjara Ofer dan fasilitas penahanan Israel lainnya.

Pelanggaran yang dilakukan oleh rezim Zionis ini ditegaskan sebagai kejahatan perang yang terus berlangsung. Hamas menekankan bahwa tanpa adanya tekanan diplomatik dan hukum yang nyata, praktik dehumanisasi terhadap warga Palestina di dalam penjara tidak akan pernah berakhir. (IRNA/Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik