Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Hizbullah Luncurkan 20 Roket ke Israel, Targetkan Radar Iron Dome Haifa

Media Indonesia
08/3/2026 17:36
Hizbullah Luncurkan 20 Roket ke Israel, Targetkan Radar Iron Dome Haifa
Simpatisan Hizbullah Libanon berduka atas wafatnya Ali Khamenei.(Al Jazeera)

KELOMPOK Hizbullah Libanon mengumumkan telah meluncurkan sedikitnya 20 gelombang serangan menggunakan roket dan drone ke wilayah Israel utara pada Sabtu (8/3/2026). Serangan masif ini menargetkan instalasi militer strategis serta konsentrasi pasukan pertahanan Israel (IDF).

Pihak Hizbullah menyatakan dalam pernyataan resmi via Anadolu bahwa aksi ini merupakan respons langsung atas serangan udara Israel yang menghantam puluhan kota dan desa di Libanon, termasuk wilayah pinggiran selatan Beirut yang padat penduduk.

Radar Iron Dome Haifa Jadi Target Utama

Salah satu pencapaian strategis yang diklaim Hizbullah dalam operasi kali ini adalah serangan terhadap sistem radar Iron Dome di lokasi Kiryat Eliezer. Fasilitas tersebut merupakan komponen vital dalam jaringan pertahanan udara Israel yang melindungi kota pelabuhan Haifa.

Selain itu, Hizbullah melaporkan penggunaan rudal presisi untuk menghantam pangkalan Tel Hashomer. Target ini menjadi sorotan karena lokasinya yang berada jauh di dalam wilayah Israel, yakni sekitar 120 kilometer dari garis perbatasan Libanon.

Peringatan Evakuasi dan Serangan Drone

Sebelum melancarkan serangan udara, Hizbullah sempat mengeluarkan instruksi evakuasi bagi warga sipil di kota Nahariya dan Kiryat Shmona. Melalui saluran Telegram yang menyertakan peta digital, kelompok tersebut mendesak warga untuk segera bergerak ke arah selatan demi menghindari dampak pertempuran.

Kota Nahariya kemudian dihantam tiga gelombang serangan roket dan sekawanan pesawat nirawak (drone). Serangan lain juga menyasar objek vital berikut:

  • Pangkalan Stella Maris di Haifa.
  • Kompleks industri militer Rafael di dekat kota Acre.
  • Pangkalan Ein Zeitim di barat laut Safed.
  • Posisi militer di sekitar perlintasan Gerbang Fatima.

Kegagalan Operasi Pasukan Khusus Israel

Sementara itu, militer Israel secara terbuka mengakui kegagalan operasi pasukan khusus yang digelar pada malam hari di Libanon timur. Operasi tersebut dirancang untuk mencari sisa-sisa jasad navigator Ron Arad yang hilang sejak puluhan tahun lalu, namun tim tersebut kembali tanpa hasil.

Situasi di perbatasan tetap mencekam seiring dengan kampanye militer Israel yang meluas di Libanon. Hal ini merupakan dampak rentetan dari perang regional yang dipicu oleh agresi militer Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran pada akhir Februari 2026.

Data Korban: Sejak Oktober 2023, serangan Israel di Libanon tercatat telah menewaskan lebih dari 4.000 orang dan melukai 17.000 lainnya, meskipun terdapat kesepakatan gencatan senjata sejak November 2024. (Anadolu/Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya