Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Makamkan Petinggi yang Tewas Dibunuh Israel, Hizbullah Hadapi Dilema

Wisnu Arto Subari
25/11/2025 08:37
Makamkan Petinggi yang Tewas Dibunuh Israel, Hizbullah Hadapi Dilema
Serangan Israel di Libanon.(Al Jazeera)

HIZBULLAH mengadakan pemakaman pada Senin (24/11) untuk panglima militer tertingginya dan anggota lain dari kelompok militan tersebut sehari setelah serangan mematikan Israel di Beirut selatan. Garda Revolusi Iran mendesak balas dendam.

Haytham Ali Tabatabai adalah komandan paling senior dari kelompok yang didukung Iran tersebut yang dibunuh oleh Israel sejak gencatan senjata November 2024 yang bertujuan mengakhiri lebih dari setahun permusuhan antara kedua belah pihak. Serangan pada Minggu terjadi ketika Israel meningkatkan serangannya terhadap Libanon dan Washington yang meningkatkan tekanan kepada pemerintah untuk melucuti senjata kelompok tersebut serta memotong sumber pendanaannya.

Teheran mengecam pembunuhan Tabatabai sebagai pengecut. Korps Garda Revolusi Islam Iran mengatakan hak Poros Perlawanan dan Hizbullah Libanon untuk membalas dendam atas darah para pejuang Islam yang pemberani tidak perlu dipertanyakan lagi. Ia merujuk pada kelompok bersenjata yang didukung Iran yang melawan penjajah Israel. 

Ratusan pendukung bergabung dalam prosesi pemakaman pada Senin di pinggiran selatan Beirut yang padat penduduk. Hizbullah berduka, untuk Tabatabai dan dua rekannya, yang peti matinya dibungkus bendera kuning kelompok tersebut, kata seorang koresponden AFP.

Kerumunan meneriakkan slogan-slogan menentang Israel dan AS. Para pendukung membawa potret sejumlah pemimpin kelompok tersebut dan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Prancis dan PBB Prihatin

Kementerian luar negeri Prancis dan juru bicara Sekjen PBB Antonio Guterres menyatakan keprihatinan atas serangan tersebut dan mendesak penahanan diri. Stephane Dujarric dari PBB mengingatkan para pihak bahwa warga sipil dan wilayah sipil tidak boleh menjadi sasaran.

Militer Israel mengatakan telah, "Menghabisi teroris Haytham Ali Tabatabai, kepala staf umum Hizbullah." Kelompok tersebut mengumumkan tewasnya Tabatabai dan empat anggota lain dalam serangan tersebut. 

Hizbullah mengatakan Tabatabai mengambil alih peran pemimpin militer setelah perang terakhir dengan Israel yang mengakibatkan kelompok tersebut sangat lemah dan komandan seniornya tewas, termasuk pemimpin lamanya, Hassan Nasrallah.

Israel melancarkan serangan hampir setiap hari di Libanon meskipun ada gencatan senjata. Biasanya Zionis mengatakan bahwa mereka menargetkan anggota dan infrastruktur Hizbullah dan menuduh kelompok tersebut mempersenjatai kembali persenjataan mereka.

Menurut gencatan senjata, Hizbullah akan mundur ke utara Sungai Litani, sekitar 30 kilometer dari perbatasan Israel dan infrastruktur militernya di sana dibongkar. Berdasarkan rencana yang disetujui pemerintah, tentara Libanon akan menyelesaikan pelucutan senjata Hizbullah di wilayah tersebut pada akhir tahun, sebelum menyerang seluruh wilayah negara itu.

Hizbullah menolak seruan untuk menyerahkan senjatanya. Setelah pembunuhan Tabatabai, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan ia tidak akan membiarkan Hizbullah membangun kembali kekuatannya dan mendesak pemerintah Libanon untuk memenuhi komitmennya untuk melucuti senjata Hizbullah.

Seorang sumber yang dekat dengan Hizbullah mengatakan kepada AFP dengan syarat anonim bahwa terdapat dua pendapat di dalam kelompok tersebut. Ada yang ingin menanggapi pembunuhan tersebut dan lainnya ingin menahan diri untuk tidak melakukannya. Akan tetapi para pemimpin cenderung mengadopsi bentuk diplomasi yang paling ekstrem pada tahap saat ini. 

Pilihan sangat Terbatas

Pejabat senior Hizbullah, Ali Damush, mengatakan pada pemakaman bahwa pembunuhan Tabatabai bertujuan mendorong Hizbullah agar menyerah dan tunduk, tetapi tujuan ini tidak akan pernah tercapai. "Israel khawatir tentang kemungkinan respons Hizbullah dan seharusnya tetap khawatir," ujarnya. 

Ia mendesak otoritas Libanon untuk menghadapi agresi tersebut dengan segala cara dan menolak tekanan yang berusaha memaksa Libanon untuk mematuhi perintah Amerika dan persyaratan Israel.

Peneliti Dewan Atlantik, Nicholas Blanford, mengatakan kepada AFP bahwa pilihan Hizbullah sangat terbatas.
"Basis pendukungnya menuntut balas, tetapi jika Hizbullah merespons secara langsung, Israel akan membalas dengan sangat keras dan tidak seorang pun di Libanon akan berterima kasih kepada Hizbullah untuk itu," ujarnya.

Serangan pada Minggu merupakan pukulan terbesar bagi Hizbullah sejak gencatan senjata karena senioritas Tabatabai. "Hal ini menunjukkan bahwa Israel masih dapat menemukan dan menargetkan pejabat senior terlepas dari tindakan perlindungan apa pun yang dilakukan Hizbullah sejak perang," tambah Blanford.

Militer Libanon mengatakan sedang melaksanakan rencananya untuk melucuti senjata Hizbullah, tetapi Amerika Serikat dan Israel menuduh otoritas Lebanon menunda-nunda. 

Mengecam serangan tersebut, Perdana Menteri Nawaf Salam mengatakan pada Minggu bahwa satu-satunya cara memperkuat stabilitas ialah melalui memperluas kewenangan negara atas seluruh wilayahnya.

Desember lalu, Hizbullah juga kehilangan rute pasokan utama melalui Suriah dengan jatuhnya penguasa dan sekutu lamanya, Bashar al-Assad. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya