Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Era Netanyahu, Israel Kehilangan 211.000 Warga dalam Eksodus Massal

Wisnu Arto Subari
02/1/2026 21:31
Era Netanyahu, Israel Kehilangan 211.000 Warga dalam Eksodus Massal
Warga Israel.(Al Jazeera)

ISRAEL mencatat emigrasi bersih sebanyak 144.270 orang selama tiga tahun pemerintahan Benjamin Netanyahu saat ini. Sebanyak 211.439 warga Israel meninggalkan negara itu dan hanya 67.200 yang Kembali. Ini menurut data dari Biro Pusat Statistik.

Tren migrasi negatif berlanjut pada 2025. Sebanyak 69.300 warga Israel meninggalkan negara dan 19.000 kembali, menghasilkan emigrasi bersih sekitar 50.000 orang, seperti yang dilaporkan oleh surat kabar keuangan TheMarker pada 1 Januari.

Eksodus tersebut mengurangi tingkat pertumbuhan penduduk tahunan Israel dari sekitar 2% menjadi 1,1% pada 2025. Ini serupa dengan tingkat 2024. 

Perang dingin yang sedang berlangsung dengan Iran dan konflik terpisah dengan Hamas Palestina, Hizbullah Libanon menjadi faktor penyebab.

Tahun 2024 menandai rekor emigrasi Israel dengan sekitar 83.000 orang meninggalkan negara itu. Angka ini termasuk imigran Ukraina yang memperoleh kewarganegaraan Israel dalam beberapa tahun terakhir sebelum berangkat ke negara ketiga, termasuk Inggris dan AS.

Bahkan tanpa memasukkan warga Israel keturunan Ukraina, data menunjukkan peningkatan tajam dalam tren migrasi negatif. Padahal, pemerintahan saat ini berupaya meremehkan data itu dalam beberapa bulan terakhir.

Menurut biro statistik, proporsi emigran baru yang memiliki gelar pendidikan tinggi lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. 

Pada 2023, 39,6% dari mereka yang meninggalkan negara itu tidak memiliki kualifikasi akademis, turun dari angka yang lebih tinggi sebelumnya. Di antara mereka yang kembali, sekitar 54% bukan akademisi. 

Antara Januari 2023 dan September 2024, Israel kehilangan 875 dokter, 633 pemegang gelar doktor di bidang sains, teknologi, dan matematika, dan lebih dari 3.000 insinyur.

Setelah memperhitungkan mereka yang kembali, kerugian bersih mencapai 481 dokter, 224 pemegang gelar PhD, dan 2.330 insinyur. Demikian catatan para peneliti universitas.

Mereka yang beremigrasi pada 2023-2024 membayar pajak lebih dari 1,5 miliar ILS (US$430 juta) selama tahun sebelum keberangkatan mereka.

Sebagian besar emigran diklasifikasikan sebagai Yahudi dan lainnya daripada warga negara Arab. Ini menunjukkan bahwa tingkat emigrasi Arab tetap di bawah proporsi mereka dalam populasi. (Intellinews/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya