Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

AS Tangkap Maduro, Israel: Pukulan bagi Poros Iran

Ferdian Ananda Majni
04/1/2026 22:36
AS Tangkap Maduro, Israel: Pukulan bagi Poros Iran
Nicolas Maduro.(Al Jazeera)

PARA pejabat Israel menilai serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela pada Sabtu (3/1) sebagai pukulan signifikan bagi poros Iran. Iran mengukuhkan kehadirannya di negara tersebut selama beberapa dekade, sebagian melalui jaringan Hizbullah dan Garda Revolusi Iran.

Israel memandang rezim Presiden Nicolas Maduro sebagai gerbang Iran ke Amerika Latin. 

Para pejabat menilai Hizbullah yang mendapat dukungan Iran memiliki pijakan kuat di Venezuela. Sejumlah tokoh senior Garda Revolusi disebut memperoleh kewarganegaraan Venezuela. 

Hal ini memungkinkan mereka bergerak bebas di Amerika Selatan sekaligus memperluas pengaruh Iran di kawasan tersebut.

Israel melihat rezim Maduro tidak hanya memusuhi Israel tetapi juga menjalin hubungan erat dengan Iran. Pendahulunya, Hugo Chavez, memutus hubungan diplomatik dengan Israel pada 2009. 

Sejak masa Chavez, Iran menjadi salah satu sekutu strategis Venezuela. Kedua negara kaya minyak itu terus menjalin kerja sama ekonomi dan militer yang erat.

Venezuela dan Iran, bersama Rusia, diketahui memanfaatkan armada bayangan gabungan untuk mengekspor minyak, menghindari sanksi Amerika Serikat dan internasional. 

Selain itu, kedua negara melakukan perdagangan minyak dan produk terkait. Iran memasok minyak olahan ke Venezuela serta membantu pembangunan infrastruktur penyulingan di sana.

Salah satu faktor yang memperkuat posisi Hizbullah di Venezuela ialah komunitas Libanon yang besar di negara itu. Imigrasi Libanon ke Venezuela dimulai akhir abad ke-19 dan meningkat pesat setelah perang saudara Libanon pada pertengahan 1970-an. 

Menurut artikel yang diterbitkan Atlantic Council pada 2020, selama bertahun-tahun, organisasi tersebut terlibat dalam perdagangan narkoba dan pencucian uang, memindahkan dana antara Venezuela, Libanon, dan Suriah.

Peneliti senior di Program Iran dan Poros Syiah Institut Studi Keamanan Nasional Tel Aviv, Danny Citrinowicz, menyebut bahwa Hizbullah kemungkinan menggunakan Venezuela untuk menyediakan paspor bagi anggotanya, memungkinkan mobilitas bebas di Amerika Selatan, dan menjalin hubungan dengan kartel narkoba demi mendanai operasinya.

Citrinowicz menambahkan bahwa Iran menggunakan Venezuela sebagai basis sel-sel teroris, termasuk yang terlibat dalam rencana pembunuhan duta besar Israel untuk Meksiko, Einat Kranz Neiger, yang berhasil digagalkan pada awal November.

"Dari semua negara di Amerika Latin yang melibatkan Iran, Nikaragua, Kuba, Bolivia di masa lalu, dan sedikit di Brasil, Venezuela sangat penting," katanya.

Teheran disebutnya menginvestasikan sumber daya besar di Caracas, termasuk penjualan senjata dan pembangunan pabrik drone bersama.

Menurut Citrinowicz, Iran kemungkinan akan memperdalam pengaruhnya di Amerika Latin, terutama Nikaragua dan Kuba, yang dianggap benteng perlawanan terhadap AS, meski wilayah ini tengah mengalami pergeseran politik ke kanan dan munculnya beberapa pemimpin pro-Trump baru-baru ini.

Harapan Israel dan Dampak Regional

Israel menyambut baik perkembangan terakhir dan berharap penangkapan Maduro oleh pemerintahan Trump serta tekanan terhadap Presiden sayap kiri Kolombia, Gustavo Petro, dapat memperkuat tren ini.

Bolivia, misalnya, memperbarui hubungan diplomatik dengan Israel pada Desember lalu. Hubungan sempat terputus pada 2009, dipulihkan pada 2020, dan kembali terhenti pada Oktober 2023 setelah Israel melancarkan serangan ke Gaza sebagai respons atas pembantaian 7 Oktober. 

Sementara itu, Presiden terpilih Cile, Jose Antonio Kast, yang berhaluan kanan jauh, menyatakan dukungan terhadap mendiang diktator Augusto Pinochet.

Israel berharap serangan AS terhadap Venezuela dan penangkapan Maduro akan membalik hasil pemilihan yang menempatkan Maduro berkuasa. Pengawas internasional mengeklaim hasil pemilihan telah dimanipulasi. 

Pemerintah Israel lebih menyukai Edmundo Gonzalez, diplomat dan tokoh oposisi yang mencalonkan diri melawan Maduro.

Namun, di Amerika Latin, sebagian pihak melihat serangan AS dan upaya menggulingkan Maduro sebagai bencana strategis. Seorang pejabat Brasil kepada Haaretz memperingatkan bahwa invasi AS ke Venezuela dapat memicu kekacauan serupa invasi Amerika ke Irak. 

"Sama seperti intervensi tersebut menyebabkan kekacauan politik dan militer, munculnya gerakan ISIS, organisasi teroris, dan penderitaan kemanusiaan yang mengerikan, invasi militer ke Venezuela akan sepenuhnya mengganggu ketertiban di wilayah Amazon dan Andes," katanya.

Pejabat itu juga memperingatkan bahwa invasi dapat memperkuat pengedar narkoba dan kelompok gerilya yang memanfaatkan perdagangan narkoba.

"Hasilnya akan sangat buruk," tambahnya.

Berbeda dengan Irak sebelum penggulingan Saddam Hussein pada 2003, Venezuela memiliki oposisi yang terorganisasi dan mendapat dukungan internasional. Jika rezim Maduro benar-benar jatuh, fakta ini dapat mengurangi risiko konflik antargeng dan kekacauan berskala besar, sehingga muncul optimisme hati-hati di Israel.

Nasib Komunitas Yahudi Venezuela

Meski demikian, serangan AS menimbulkan kekhawatiran tentang nasib komunitas Yahudi di Venezuela yang berjumlah sekitar 4.500 orang dan sebagian besar berada di Caracas. Komunitas ini sempat menyusut di bawah Chavez dan Maduro, tetapi tetap aktif dan relatif mapan.

Israel menilai komunitas tersebut memiliki orientasi Zionis yang kuat. Meskipun mereka khawatir terhadap dampak serangan AS, Israel optimistis pengaruh komunitas ini akan bertambah dengan kemungkinan tergulingnya rezim Maduro. (Hareetz/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya