Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Serangan Udara Baru Israel Hantam Libanon Selatan

Thalatie K Yani
05/12/2025 05:35
Serangan Udara Baru Israel Hantam Libanon Selatan
Militer Israel kembali melancarkan serangan udara di Libanon selatan kurang dari sehari setelah pembicaraan langsung pertama.(Media Sosial X)

MILITER Israel melancarkan rangkaian serangan udara baru di Libanon selatan. Kurang dari 24 jam setelah Israel dan Libanon menggelar pembicaraan langsung pertama mereka dalam beberapa dekade. Serangan itu menargetkan lokasi di Mjadel, Baraachit, Jbaa, dan Mahrouna, dengan warga diminta mengungsi dari area sekitar titik yang diklaim Israel sebagai gudang senjata kelompok yang didukung Iran. Tidak ada laporan korban jiwa.

Seorang juru bicara militer Israel mengatakan lokasi tersebut merupakan “pelanggaran gencatan senjata”. Ia menegaskan Israel akan terus bertindak “untuk menghilangkan setiap ancaman” terhadap negaranya.

Sejak gencatan senjata diberlakukan pada November 2024 setelah 13 bulan konflik, Israel melakukan serangan hampir setiap hari di wilayah Libanon. Pemimpin politik Libanon sebelumnya telah mengecam serangan-serangan serupa sebagai pelanggaran kesepakatan.

Penarikan Pasukan

Pada tahap pertama kesepakatan yang ditengahi Amerika Serikat dan Prancis, pasukan Israel seharusnya menarik diri dari Libanon selatan, sementara Hizbullah diwajibkan menarik pejuang dan persenjataannya dari wilayah selatan Sungai Litani, sekitar 30 kilometer dari perbatasan. Namun rencana ini ditolak oleh Hizbullah dan sekutunya.

Dalam beberapa pekan terakhir, Israel mempertahankan posisi di sejumlah titik strategis perbatasan dan meningkatkan intensitas serangan udara. Para pejabat Israel menyebut eskalasi ini dipicu upaya Hizbullah membangun kembali infrastruktur militernya dan melihat pemerintah Libanon dianggap tidak cukup mengambil langkah untuk melucuti kelompok tersebut.

Perdamaian

Serangan pada Kamis itu terjadi tak lama setelah perwakilan sipil Israel dan Libanon bertemu di kota perbatasan Naqoura dalam forum yang digelar di markas misi penjaga perdamaian PBB, Unifil. Pertemuan tersebut berlangsung dalam agenda komite pemantau gencatan senjata, yang sebelumnya hanya dihadiri pejabat militer dari AS, Prancis, Libanon, Israel, dan Unifil.

Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pertemuan berlangsung “dalam suasana yang baik” dan kedua pihak “sepakat menyusun gagasan untuk memajukan kemungkinan kerja sama ekonomi Israel-Libanon”. Namun pejabat Israel juga menegaskan “pelucutan senjata Hizbullah tetap menjadi kewajiban, terlepas dari kemajuan kerja sama ekonomi”.

Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menyampaikan sikap lebih berhati-hati, menekankan Libanon masih “jauh” dari normalisasi diplomatik dengan Israel. Ia menegaskan pembicaraan kali ini berfokus pada “meredakan ketegangan”.

“Kami belum memasuki pembicaraan perdamaian,” ujarnya, seraya menyebut prioritas Libanon adalah penghentian permusuhan, pembebasan warga Libanon yang ditahan Israel, dan penarikan penuh Israel dari wilayahnya. Salam juga membuka kemungkinan penempatan pasukan AS dan Prancis untuk memverifikasi proses pelucutan senjata Hizbullah.

Serangan terbaru dan langkah diplomatik ini berlangsung bertepatan dengan kunjungan delegasi Dewan Keamanan PBB ke Lebanon untuk meninjau implementasi gencatan senjata yang dinilai masih tersendat. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik