Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Israel dan Libanon Duduk Semeja Lagi setelah Puluhan Tahun

Haufan Hasyim Salengeke
04/12/2025 09:36
Israel dan Libanon Duduk Semeja Lagi setelah Puluhan Tahun
Kendaraan lapis baja UNIFIL berpatroli di pintu masuk Kota Naqoura di Libanon selatan, dekat perbatasan dengan Israel, pada 17 Juni 2024.(Mahmoud Zayyat/AFP)

UNTUK pertama kalinya dalam beberapa dekade, perwakilan sipil Israel dan Libanon kembali duduk semeja. Pertemuan yang berlangsung di markas Pasukan Sementara PBB di Libanon (UNIFIL), Naqoura, Libanon, Rabu (3/12) kemarin itu menjadi babak baru dari mekanisme pemantauan gencatan senjata setahun terakhir di tengah perang Israel-Hizbullah.

Israel mengirim Uri Resnick, Wakil Direktur Kebijakan Luar Negeri Dewan Keamanan Nasional. Amerika Serikat (AS), yang mendorong pertemuan ini sejak awal, menugaskan Morgan Ortagus sebagai ketua delegasi. Libanon menunjuk mantan Duta Besar untuk AS, Simon Karam, setelah sebelumnya menerima permintaan Washington untuk mengirim utusan sipil, bukan militer.

Narasi tak Sinkron

Dari awal, kedua pihak sudah berjalan dengan narasi yang tak sepenuhnya selaras. Kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut pertemuan itu sebagai ‘langkah awal’ menuju hubungan dan kerja sama ekonomi antara kedua negara.

Sikap itu langsung dibantah Beirut. Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menegaskan negaranya ‘jauh dari’ rencana normalisasi apa pun. Ia mengingatkan bahwa Libanon masih berpegang pada Inisiatif Perdamaian Arab 2002 yang mensyaratkan pembentukan negara Palestina sebagai prasyarat hubungan diplomatik. “Jadi jelas, siapa pun yang mengikuti berita ini tahu bahwa kami tidak sedang menuju ke sana,” ujar Salam.

Tekanan AS

Libanon mengakui permintaan AS untuk mengirim perwakilan sipil, sementara Netanyahu disebut-sebut mendapat desakan serupa dari Gedung Putih. Di tengah tekanan itu, kantor Netanyahu tetap menyebut pertemuan berlangsung dalam ‘suasana positif’ dan menghasilkan kesepakatan untuk mengembangkan ide-ide kerja sama ekonomi.

Di sisi lain, Israel kembali menegaskan satu hal yang tak berubah, yaitu tuntutan pelucutan senjata Hizbullah. “Pelucutan senjata Hizbullah adalah wajib, apa pun perkembangan pembahasan ekonomi,” kata pernyataan Israel.

Babak Awal yang Rapuh

Belum jelas apakah pertemuan ini akan membuka kelanjutan dialog yang lebih substantif atau sekadar menjadi pertemuan simbolik di bawah payung PBB dan tekanan diplomatik AS. Namun Israel menyatakan kedua pihak sepakat melanjutkan pembicaraan.

Pertemuan Naqoura itu setidaknya menjadi jeda diplomatik pertama setelah puluhan tahun ketegangan tak kunjung reda.

Pertemuan tersebut merupakan bagian dari Mekanisme Implementasi Penghentian Permusuhan, atau Cessation of Hostilities Implementation Mechanism, yang terdiri dari pejabat AS, UNIFIL, Israel, Prancis, dan Libanon, yang bertujuan untuk mendorong gencatan senjata yang dicapai lebih dari setahun yang lalu dengan Israel.

Yerusalem dan Beirut terakhir kali mengadakan pembicaraan tidak langsung di Naqoura untuk menyelesaikan batas maritim pada tahun 2022 yang ditengahi oleh AS. (Times of Israel/B-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik