Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

AS, Qatar, dan Israel Bertemu Bahas Gaza

Ferdian Ananda Majni
09/12/2025 08:13
AS, Qatar, dan Israel Bertemu Bahas Gaza
Kondisi di Gaza.(Al Jazeera)

AS, Qatar, dan Israel mengadakan pertemuan trilateral di New York pada Minggu (7/12). Seorang pejabat senior Gedung Putih mengatakan itu kepada AFP, kemarin. Itu terjadi beberapa bulan setelah jet Israel melakukan serangan udara di Doha yang gagal menargetkan pimpinan Hamas.

Pejabat Gedung Putih tersebut mengonfirmasi bahwa pertemuan tersebut terjadi tetapi tidak memberikan detail lebih lanjut.

Dua sumber mengatakan kepada media berita AS Axios bahwa pertemuan tersebut merupakan pertemuan tingkat tertinggi antara kedua negara sejak kesepakatan untuk mengakhiri perang genosida di Jalur Gaza. Qatar berperan sebagai mediator utama gencatan senjata tersebut.

Axios juga melaporkan bahwa utusan Gedung Putih Steve Witkoff menjadi tuan rumah pertemuan tersebut. Kepala Mossad David Barnea mewakili Israel dan seorang pejabat senior Qatar yang tidak disebutkan namanya menghadiri pertemuan itu.

Qatar, bersama dengan Mesir dan AS, membantu menengahi gencatan senjata komprehensif antara Israel dan Hamas yang masih rentan. Israel masih terus menyerang Gaza yang banyak menimbulkan korban jiwa.

Pada Sabtu (6/12), Qatar dan Mesir menyerukan penarikan pasukan Israel dan pengerahan pasukan stabilisasi internasional untuk sepenuhnya melaksanakan perjanjian untuk mengakhiri konflik di Gaza. Berbicara dalam konferensi diplomatik di Doha, Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengatakan gencatan senjata tidak dapat diselesaikan kecuali ada penarikan penuh pasukan Israel dan ada stabilitas kembali di Gaza.

Menurut Axios, fokus utama pertemuan Minggu sebagian besar pada pelaksanaan perjanjian damai Gaza. Serangan Israel di Doha pada 9 September gagal menargetkan negosiator utama Hamas Khalil al-Hayra dan anggota kelompok militan lain Palestina.

Serangan itu justru menewaskan enam orang, di antaranya warga sipil, dan memicu gelombang kritik, termasuk teguran dari Presiden AS Donald Trump. Axios mengatakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kemudian menelepon Al Thani dari Gedung Putih atas desakan Trump untuk meminta maaf atas serangan tersebut.

Sekarang Israel dan Hamas bersiap memasuki fase kedua dari peta jalan yang dirancang AS. Perbedaan pandangan mulai muncul terkait peran pasukan stabilisasi internasional yang rencananya ditempatkan di wilayah tersebut.

Pejabat senior Hamas, Basem Naim, menyampaikan bahwa draf rencana AS masih membutuhkan banyak penjelasan. Ia menegaskan bahwa Hamas bersedia membahas opsi seperti pembekuan atau penyimpanan senjata selama gencatan senjata berlanjut. 

Namun, kelompok itu tetap menolak kehadiran pasukan stabilisasi internasional yang diberi mandat melakukan pelucutan senjata. "Kami menyambut pasukan (Perserikatan Bangsa-Bangsa) untuk berada di dekat perbatasan, mengawasi perjanjian gencatan senjata, melaporkan pelanggaran, dan mencegah segala bentuk eskalasi," ujarnya. (Al Jazeera/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik