Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
PANGERAN Iran yang sedang dalam exile Reza Pahlavi mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk intervensi dalam kerusuhan yang menyebabkan bentrokan antara demonstran dan petugas keamanan.
Demonstrasi di Iran yang kedua dimulai awal pekan ini setelah Pahlavi mendorong warga yang marah untuk bersuara menentang Republik Islam Iran, di tengah kesulitan ekonomi yang parah yang dihadapi negara tersebut. Protes saat ini, yang merupakan gelombang penolakan terbesar dalam tiga tahun terakhir, dimulai bulan lalu di Pasar Besar Tehran, di mana para pedagang mengutuk penurunan nilai mata uang rial yang drastis.
Rezim di Iran menghadapi tekanan internasional yang sangat besar, dengan Presiden AS Donald Trump mengancam pemerintah untuk membantu para demonstran jika pasukan keamanan menembaki mereka.
Pahlavi berkata, “Presiden (Trump), ini panggilan mendesak dan segera yang memerlukan perhatian, dukungan dan tindakan Anda. Semalam Anda menyaksikan jutaan warga Iran yang berani di jalanan menghadapi peluru tajam. Hari ini, mereka tidak hanya menghadapi peluru, tetapi juga pemadaman komunikasi total. Tidak ada internet. Tidak ada telepon kabel.”
“Ali Khamenei, yang takut akan berakhirnya rezim kriminalnya di tangan rakyat dan dengan bantuan janji kuat Anda untuk mendukung para demonstran, telah mengancam rakyat di jalanan dengan tindakan represif yang brutal. Dan dia ingin menggunakan pemadaman ini untuk membunuh para pahlawan muda ini,” tambahnya.
Dalam komentar pertamanya mengenai protes yang semakin memanas sejak 3 Januari, Khamenei pada Jumat menyebut para demonstran sebagai “pengacau” dan “penghancur”.
Dalam pidato yang disiarkan di televisi nasional, Khamenei mengatakan tangan Presiden AS Donald Trump telah ternoda oleh darah warga Iran. Pernyataan ini merujuk pada perang Israel pada Juni melawan Republik Islam Iran, yang didukung dan diikuti oleh Amerika Serikat dengan serangan udara.
Dia memprediksi bahwa Trump akan “digulingkan” seperti dinasti kekaisaran yang berkuasa di Iran hingga Revolusi 1979.
“Semua orang tahu bahwa Republik Islam berkuasa dengan darah ratusan ribu orang yang mulia, dan ia tidak akan mundur di hadapan para perusuh.” (First Post/H-4)
Reza Pahlavi menyatakan keyakinannya bahwa keruntuhan Republik Islam Iran hanyalah masalah waktu.
Pelajari sejarah Mohammad Mosaddegh, perdana menteri Iran yang berani menasionalisasi minyak dan melawan imperialisme Barat hingga digulingkan dalam kudeta 1953.
Berikut dampak sanksi AS terhadap Iran dan rekam jejaknya di negara tersebut.
REZA Pahlavi, putra mahkota Iran yang diasingkan, menyerukan kepada Presiden Trump untuk mengambil tindakan terhadap rezim Iran sesegera mungkin.
Pelajari sejarah Kudeta Iran 1953 (Operasi Ajax). Bagaimana penggulingan PM Mosaddegh memperkuat kekuasaan Shah Reza Pahlavi dan peran intelijen Barat.
Telusuri perjalanan panjang sejarah pemerintah Iran, mulai dari era Megah Kekaisaran Achaemenid hingga transformasi menjadi Republik Islam pasca Revolusi 1979.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan bahwa militer Iran kini jauh lebih siap menghadapi konflik bersenjata dibandingkan medio Juni lalu.
Menlu Iran Abbas Araghchi nyatakan siap dialog dengan AS jika setara, namun tegas menolak negosiasi di bawah ancaman militer dan enggan bahas program rudal.
MENTERI Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth menegaskan kesiapan penuh militer AS menghadapi Iran, di tengah meningkatnya ketegangan.
IRAN memperkuat kemampuan militernya dengan mengintegrasikan 1.000 drone tempur baru ke dalam angkatan bersenjata, di tengah meningkatnya ketegangan dan ancaman serangan AS.
Donald Trump mendesak Teheran segera berunding untuk mencapai kesepakatan baru terkait senjata nuklir atau bersiap menghadapi serangan dari AS.
Selain penetapan status teroris bagi IRGC, Uni Eropa juga memperluas daftar sanksi individu. Sebanyak 15 pejabat dari sektor keamanan dan peradilan Iran secara resmi masuk dalam daftar hitam.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved