Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Reza Pahlavi Serukan Dunia Bantu Gulingkan Rezim Iran di Tengah Protes Berdarah

Basuki Eka Purnama
17/1/2026 08:00
Reza Pahlavi Serukan Dunia Bantu Gulingkan Rezim Iran di Tengah Protes Berdarah
Putra mahkota terakhir Iran yang kini berada dalam pengasingan, Reza Pahlavi.(AFP/SAUL LOEB )

PUTRA mahkota terakhir Iran yang kini berada dalam pengasingan, Reza Pahlavi, menyerukan komunitas internasional untuk mengambil langkah nyata dalam membantu pengunjuk rasa menumbangkan pemerintah Iran. 

Dalam konferensi pers di Washington, Jumat (16/1) waktu setempat, Pahlavi menyatakan keyakinannya bahwa keruntuhan Republik Islam Iran hanyalah masalah waktu.

"Republik Islam akan jatuh—bukan 'jika', melainkan 'kapan'," tegas Pahlavi di hadapan media.

Seruan ini muncul di tengah gelombang protes besar yang dipicu krisis ekonomi sejak 28 Desember lalu. 

Demonstrasi yang awalnya menuntut perbaikan biaya hidup tersebut dengan cepat berubah menjadi gerakan politik yang menuntut berakhirnya kepemimpinan Pemimpin Tertinggi Ali Hosseini Khamenei.

Krisis Kemanusiaan dan Tindakan Keras

Data dari lembaga hak asasi manusia HRANA menyebutkan sedikitnya 2.677 orang telah tewas dalam bentrokan tersebut, dengan ribuan lainnya masih dalam proses verifikasi. Selain itu, sekitar 19.000 pengunjuk rasa dilaporkan telah ditangkap.

Pemerintah Iran sendiri bergeming dan melabeli aksi protes tersebut sebagai "kerusuhan" yang ditunggangi oleh musuh-musuh luar negeri. 

Sejak 8 Januari, otoritas setempat memberlakukan pemadaman internet total untuk meredam koordinasi massa dan menutupi tindakan keras aparat keamanan di lapangan.

Dalam keterangannya, Pahlavi mengklaim bahwa sebagian aparat keamanan Iran mulai menolak terlibat dalam penumpasan demonstran. Akibatnya, ia menuduh pemerintah mendatangkan milisi asing untuk membungkam rakyatnya sendiri.

Tuntutan Aksi Nyata

Pahlavi mendesak kekuatan global untuk memberikan tekanan ekonomi yang lebih berat, mengusir diplomat Iran, dan menuntut pembebasan tahanan politik. Secara spesifik, ia meminta adanya serangan terarah terhadap infrastruktur komando Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

Ia juga menyoroti pentingnya akses informasi bagi rakyat Iran. 

"Rakyat Iran sedang mengambil tindakan tegas di lapangan. Sekarang saatnya komunitas internasional bergabung sepenuhnya dengan mereka," ujarnya. 

Ia mendesak penyediaan layanan internet satelit seperti Starlink untuk menembus sensor pemerintah.

Sikap Amerika Serikat

Terkait peran Amerika Serikat (AS), Pahlavi optimis terhadap komitmen Presiden Donald Trump. Meski menolak merinci detail diskusinya dengan pejabat senior AS, ia menyatakan, "Saya percaya Presiden Trump adalah orang yang memegang kata-katanya, dan pada akhirnya, dia akan berdiri bersama rakyat Iran."

Sebelumnya, Presiden Trump telah memperingatkan Teheran agar tidak mengeksekusi pengunjuk rasa dan mengancam akan mengambil "tindakan yang sangat tegas" jika hal itu terjadi. 

Di sisi lain, parlemen Iran membalas dengan ancaman akan menjadikan pangkalan militer AS dan wilayah Israel sebagai target jika terjadi serangan.

Visi Masa Depan

Menutup keterangannya, Pahlavi menyatakan siap kembali ke Iran untuk memfasilitasi pembentukan konstitusi baru yang menjunjung tinggi demokrasi, pemisahan agama dan negara, serta kebebasan individu. Namun, ia menegaskan bahwa penentuan pemimpin masa depan sepenuhnya berada di tangan rakyat.

"Dengan atau tanpa bantuan dunia, rezim ini akan runtuh. Namun, keruntuhan itu akan terjadi lebih cepat dan lebih banyak nyawa yang terselamatkan jika dunia mengubah kata-kata menjadi tindakan nyata," pungkasnya. (bbc/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya