Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan sikap dan pernyataan kontroversial. Dia menyatakan tidak butuh hukum internasional.
Baru-baru ini, AS dikritik lantaran melancarkan operasi militer di Venezuela. Sang presiden pun mengatakan kewenangannya memerintahkan operasi militer di berbagai belahan dunia didasarkan pada moralitas pribadi yang ia yakini. Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan The New York Times yang dipublikasikan pada Kamis (8/1) waktu setempat.
Komentar tersebut muncul beberapa hari setelah Trump melancarkan operasi kilat yang berujung pada tumbangnya pemimpin Venezuela Nicolas Maduro. Pun di tengah ancamannya terhadap sejumlah negara lain dan wilayah otonom Greenland.
“Ya, ada satu hal. Moralitas saya sendiri. Pikiran saya sendiri. Itu satu-satunya hal yang bisa menghentikan saya,” ujar Trump ketika ditanya apakah ada batasan terhadap kekuasaannya di tingkat global.
“Saya tidak membutuhkan hukum internasional,” lanjutnya.
Meski begitu, Trump kemudian menyebut tetap mematuhi hukum internasional, namun dengan catatan. “Saya memang mematuhinya, tetapi itu tergantung apa definisi hukum internasional yang Anda maksud,” katanya.
Amerika Serikat bukan anggota Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC) yang menangani kejahatan perang dan selama ini kerap menolak putusan Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ), lembaga peradilan tertinggi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Di dalam negeri, Trump juga memiliki rekam jejak panjang bersinggungan dengan hukum. Ia dua kali dimakzulkan, sempat menghadapi sejumlah dakwaan federal, termasuk tuduhan bersekongkol untuk membatalkan hasil Pemilu 2020 yang kemudian gugur setelah ia kembali terpilih. Trump juga pernah dinyatakan bersalah dalam kasus pembayaran uang tutup mulut kepada seorang bintang film dewasa.
Meski kerap menyebut dirinya sebagai presiden perdamaian dan menyatakan minatnya meraih Hadiah Nobel Perdamaian, Trump justru mengawali masa jabatan keduanya dengan serangkaian operasi militer.
Pada Juni lalu, ia memerintahkan serangan terhadap program nuklir Iran. Dalam setahun terakhir, AS di bawah kepemimpinannya juga melancarkan serangan di Irak, Nigeria, Somalia, Suriah, Yaman, dan yang terbaru Venezuela.
Setelah Maduro ditangkap, Trump semakin berani melontarkan ancaman terhadap sejumlah negara lain, termasuk Kolombia serta Greenland yang berada di bawah administrasi Denmark yang merupakan sesama anggota NATO.
Di Kongres, sebagian anggota parlemen, termasuk dari Partai Republik, berupaya membatasi kewenangan presiden. Pada Kamis, Senat meloloskan langkah awal sebuah rancangan untuk membatasi aksi militer presiden terkait Venezuela. Namun, jika rancangan itu sampai ke meja presiden, Trump diperkirakan akan melakukan veto.(AFP/M-2)
The Carpenter's Son merupakan film yang disutradarai Lotfy Nathan, film ini menjadi kontroversi karena Lotfy membungkus kisah The Boy (Yesus di waktu muda) dalam genre horor supranatural
Faktor lain yang melahirkan putusan pengadilan kontroversial adalah kualitas hakim dalam memutus perkara.
Direktur Eksekutif Leip Tanziel Aziezi menilai tidak semua putusan pengadilan yang kontroversial itu muncul karena didasarkan suap ataupun mafia peradilan.
Miftah Maulana Habiburrahman, resmi mengumumkan pengunduran dirinya pada Jumat (6/12).
Aktor Michael Malarkey menjadi perbincangan hangat setelah menolak kopi Starbucks di sebuah acara publik di Florida, 17 November 2024.
Laporan NYT mengungkap AS menggunakan pesawat samaran sipil dalam serangan kapal Venezuela, memicu dugaan kejahatan perang dan taktik terlarang 'perfidy'.
Trump menegaskan batasan atas kekuasaannya sebagai pemimpin tertinggi militer dan politik AS hanya pikirannya sendiri.
Perang aspal awal abad ke-20 mengungkap bagaimana intervensi AS, utang, dan perebutan sumber daya membentuk krisis Venezuela hingga kini.
Pengakuan Israel terhadap Somaliland sebagai negara merdeka menuai kecaman luas dari berbagai negara dan organisasi internasional.
Serangkaian serangan militer AS terhadap kapal yang diduga pengangkut narkotika memunculkan pertanyaan hukum setelah muncul laporan bahwa dua penyintas tewas dalam serangan lanjutan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved