Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Perang Aspal: Jejak Lama Campur Tangan AS di Venezuela sebelum Era Minyak

Haufan Hasyim Salengke
07/1/2026 14:50
Perang Aspal: Jejak Lama Campur Tangan AS di Venezuela sebelum Era Minyak
Cipriano Castro (1858–1924) adalah presiden Venezuela dari 1902 hingga ia digulingkan pada 1908. Ia meninggal dalam pengasingan.(Hulton Archive/Getty Images)

SEBELUM Nicolas Maduro dan Hugo Chavez, ada Cipriano Castro. Sebelum Donald Trump, ada Theodore Roosevelt. Dan sebelum minyak bumi, ada aspal.

Itu adalah kutipan pengingat tepat waktu berdasarkan buku America, América: A New History of the New World tentang krisis Venezuela yang kerap disorot dalam geopolitik global hari ini, yang ternyata memiliki akar panjang sejak awal abad ke-20, jauh sebelum minyak bumi menjadi komoditas strategis. Sejarah menunjukkan bahwa konflik berdarah di negara Amerika Latin itu pernah dipicu oleh perebutan aspal oleh pengusaha Amerika Serikat (AS) dengan dukungan langsung elite politik Washington.

Melansir The Nation, Selasa (6/1), berdasarkan America, América: A New History of the New World, konflik tersebut melibatkan Johnny Mack, kontraktor asal Philadelphia yang berambisi memonopoli industri aspal AS. Melalui National Asphalt Trust, Mack menargetkan Danau Bermudez di timur Venezuela—salah satu cadangan aspal alam terbesar dunia.

Sebagai tokoh Republik berpengaruh, Mack memiliki koneksi ke pucuk pemerintahan AS. Senator Pennsylvania dan Wakil Menteri Luar Negeri AS menjadi investor Trust. Diplomat AS di Venezuela menerima suap langsung. Presiden Trust, Jenderal Vinton Greene, dekat dengan Presiden McKinley dan Theodore Roosevelt.

Ketika Presiden Venezuela Cipriano Castro menolak berpihak pada Trust, Mack dengan mudah mendorong pengerahan kapal perang AS ke pesisir Venezuela sebagai tekanan.

Tak berhenti di situ, Trust membiayai pemberontakan Manuel Antonio Matos, pesaing Castro, dengan kapal perang, senjata, dan dana ratusan ribu dolar. Pemberontakan itu gagal, namun menewaskan ribuan orang dan menghancurkan infrastruktur nasional.

Media internasional dimanipulasi. Satu-satunya koresponden berbahasa Inggris di Venezuela adalah investor Trust. Ia menggambarkan Castro sebagai tiran, memicu kepanikan kreditur. Mata uang Venezuela anjlok, utang melonjak.

Ketika Castro menyita ladang aspal Bermúdez dan menantang legalitas utang luar negeri. Ia mempertanyakan legalitas pinjaman yang dimiliki Venezuela, beberapa di antaranya berasal dari sebelum kemerdekaan pada 1820-an. Ia mengancam akan gagal bayar utang kepada kreditor AS dan Eropa.

Sebagai respons, Jerman, Inggris, dan Italia mengirim kapal perang. Mereka ikut campur untuk menagih utang Venezuela, membombardir pesisir Venezuela. Desa-desa yang terdiri dari gubuk lumpur dan rumah-rumah bata lumpur dikepung dan dihantam artileri modern—menandai salah satu konfrontasi multinasional paling berbahaya sebelum Perang Dunia I.

Argentina memprotes agresi ini melalui Doktrin Drago, menegaskan bahwa utang publik tak boleh ditagih dengan kekuatan militer. Roosevelt menolak doktrin itu. Baginya, negara ‘nakal’ pantas ‘dihajar’.

Namun akhirnya, di bawah tekanan internasional, sengketa dibawa ke Mahkamah Den Haag. Di sana, hakim menegaskan prinsip kesetaraan kedaulatan: semua negara, besar atau kecil, berhak atas perlakuan hukum yang sama, menolak anggapan bahwa negara ‘lemah’ dapat diperlakukan di luar hukum internasional.

Prinsip tersebut bertentangan langsung dengan pandangan Roosevelt. Tekanan politik AS tetap berlanjut.

Pada 1907, Mahkamah Agung Venezuela mendenda anak perusahaan Mack sebesar US$5juta atas kerusakan akibat pemberontakan yang dibiayainya. AS menolak putusan itu. Castro akhirnya jatuh. Pemerintahan baru yang patuh pada Washington berkuasa. Asphalt Trust pun mengamankan klaimnya.

Sekitar 15.000 warga Venezuela tewas demi perebutan kawah aspal. Tak lama kemudian, perburuan beralih dari aspal ke minyak bumi.

Sejarah ini menunjukkan bahwa krisis Venezuela akhir-akhir ini bukanlah fenomena baru. Perebutan sumber daya, campur tangan asing, dan pembenaran kekerasan atas nama investasi telah membentuk perjalanan panjang negara tersebut—sebuah pola yang terus berulang hingga hari ini. (B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya