Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Krisis NATO Memanas akibat Ancaman Trump atas Greenland, Menlu AS akan Temui Pejabat Denmark

Reynaldi Andrian Pamungkas
08/1/2026 21:15
Krisis NATO Memanas akibat Ancaman Trump atas Greenland, Menlu AS akan Temui Pejabat Denmark
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berbicara setelah mengunjungi pusat pemulangan migran dan menyaksikan demonstrasi anjing yang dilatih untuk mengendus narkotika di Bandara Internasional La Aurora di Kota Guatemala.(Mark Schiefelbein / POOL / AFP)

MENTERI Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mengatakan bahwa ia berencana bertemu dengan para pejabat Denmark pekan depan untuk membahas Greenland, di tengah meningkatnya krisis di dalam NATO akibat ancaman Presiden Donald Trump untuk mengambil alih wilayah Arktik tersebut.

Pertemuan mendesak itu diminta oleh menteri luar negeri Greenland dan Denmark. Pemerintah Denmark menegaskan bahwa setiap invasi atau penyitaan Greenland oleh sekutu NATO-nya sendiri akan menandai berakhirnya aliansi militer Barat serta tatanan keamanan global pasca-Perang Dunia II.

Berbicara kepada wartawan di Washington, Rubio tidak menjawab secara langsung pertanyaan mengenai apakah pemerintahan Trump bersedia mempertaruhkan NATO dengan melanjutkan opsi militer untuk menguasai Greenland.

“Saya tidak di sini untuk membahas Denmark atau intervensi militer. Saya akan bertemu dengan mereka pekan depan, kami akan melakukan pembicaraan itu nanti, dan saya tidak punya hal lain untuk ditambahkan saat ini,” ujar Rubio.

Ia menambahkan bahwa setiap presiden AS tetap memiliki opsi untuk menangani ancaman keamanan nasional melalui cara militer.

Prancis pada Selasa menyatakan sedang bekerja sama dengan sekutu-sekutunya untuk menentukan langkah yang harus diambil jika AS benar-benar menginvasi Greenland.

“Kami ingin bertindak, tetapi kami ingin melakukannya bersama mitra Eropa kami,” kata Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noël Barrot, kepada radio France Inter.

Rubio mengatakan Trump telah membicarakan keinginan untuk mengakuisisi Greenland sejak masa jabatan pertamanya.

“Itu selalu menjadi niat presiden sejak awal. Dia bukan presiden AS pertama yang mempertimbangkan atau melihat bagaimana kita bisa memperoleh Greenland,” katanya.

Gedung Putih menyatakan bahwa Trump lebih memilih jalur diplomasi, tetapi tidak menutup kemungkinan aksi militer.

“Itu adalah sesuatu yang saat ini sedang dibahas secara aktif oleh presiden dan tim keamanan nasionalnya,” kata juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, ketika ditanya tentang kemungkinan tawaran AS untuk membeli wilayah tersebut dari Denmark.

“Presiden telah sangat terbuka dan jelas bahwa ia memandang hal ini demi kepentingan terbaik Amerika Serikat untuk mencegah agresi Rusia dan China di kawasan Arktik. Karena itulah timnya sedang membahas seperti apa bentuk potensi pembelian itu,” tambah Leavitt.

Ketika ditanya mengapa AS menolak menyingkirkan opsi militer, Leavitt menjawab: “Presiden-presiden sebelumnya sering kali menyingkirkan opsi tertentu dan secara terbuka menyiarkan strategi kebijakan luar negeri mereka kepada dunia, bukan hanya kepada sekutu tetapi juga kepada musuh. Itu bukan cara presiden ini bertindak.”

“Semua opsi selalu ada di atas meja. Namun, saya tegaskan bahwa pilihan pertama presiden selalu diplomasi,” ujarnya.

Leavitt juga ditekan mengenai apa yang akan diperoleh AS dari penguasaan Greenland, mengingat AS sudah memiliki akses ke pangkalan militer di sana.

“Kendali yang lebih besar atas kawasan Arktik dan memastikan China serta Rusia tidak dapat melanjutkan agresi mereka di wilayah yang sangat penting dan strategis ini,” katanya.

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, disebut telah “menyampaikan posisinya mengenai Greenland” dalam percakapan telepon dengan Trump pada Rabu malam, menurut Downing Street, meski tidak merinci isi pembicaraan tersebut. Starmer sebelumnya berulang kali menegaskan bahwa masa depan Greenland harus ditentukan oleh Greenland dan Denmark sendiri.

Trump pada Rabu menyatakan bahwa AS tidak akan meninggalkan NATO, meskipun menyampaikan kritik terhadap aliansi tersebut melalui unggahan media sosial yang bernada menyindir.

“Kami akan selalu ada untuk NATO, bahkan jika mereka tidak ada untuk kami,” tulis Trump di Truth Social.

Ia menambahkan bahwa Rusia dan China “tidak akan memiliki rasa takut sedikit pun” terhadap NATO tanpa AS, serta mengkritik negara-negara anggota yang menurutnya tidak memenuhi komitmen belanja pertahanan 2% dari PDB.

Setelah salah satu ajudan utama Trump pada Selasa mengatakan bahwa AS mungkin bersedia merebut Greenland dengan kekuatan militer, para pemimpin Eropa bersatu mendukung Denmark dan Greenland dalam sebuah teguran langka terhadap Gedung Putih, dengan menegaskan bahwa Greenland “milik rakyatnya”.

Barrot mengatakan bahwa dalam panggilan telepon dengan Rubio pada Selasa, Menlu AS itu telah “menyingkirkan kemungkinan invasi” ke Greenland.

“Saya sendiri berbicara dengan Marco Rubio kemarin, dan ia mengonfirmasi bahwa itu bukan pendekatan yang diambil,” kata Barrot.

Trump memang telah lama menyatakan minatnya terhadap Greenland. Namun, dalam beberapa hari terakhir, terutama setelah operasi militer AS di Venezuela pada Sabtu yang menggulingkan Presiden Nicolás Maduro retorika pemerintahan Trump meningkat tajam, memicu ketegangan internasional dan mempertanyakan kelangsungan NATO.

Pada Selasa malam, parlemen Denmark menggelar pertemuan luar biasa untuk membahas situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya tersebut. Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Løkke Rasmussen, bersama mitranya dari Greenland, Vivian Motzfeldt, menyatakan tengah mengupayakan pertemuan mendesak dengan Rubio.

“Kami ingin menambahkan nuansa dalam percakapan ini. Adu teriak harus digantikan dengan dialog yang lebih masuk akal. Sekarang,” kata Rasmussen melalui media sosial.

Trump sebelumnya mengklaim bahwa Greenland “dipenuhi kapal-kapal China dan Rusia” serta menyatakan Denmark tidak mampu mempertahankan wilayah tersebut. Namun Rasmussen membantah klaim itu.

“Gambaran tentang kapal Rusia dan China yang berada tepat di fjord Nuuk serta investasi besar-besaran China tidaklah benar,” katanya.

Menurut Rasmussen, situasi ini “didasarkan pada salah tafsir mengenai apa yang sebenarnya terjadi”, seraya menambahkan: “Kami menjaga kerajaan.”

Menteri Pertahanan Denmark, Troels Lund Poulsen, juga membantah klaim AS bahwa Denmark kurang berbuat untuk melindungi Greenland.

“Kami telah menginvestasikan hampir 100 miliar kroner Denmark (sekitar £11,6 miliar) untuk kemampuan keamanan,” ujarnya. (Z-4)

Sumber: The Guardian



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya