Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Keluarga Korban Kecelakaan Pesawat Jeju Air Desak Investigasi Independen

Ferdian Ananda Majni
30/12/2025 13:58
Keluarga Korban Kecelakaan Pesawat Jeju Air Desak Investigasi Independen
Kecelakaan pesawat Jeju Air yang menewaskan 179 dari 181 penumpang di Korea Selatan tahun lalu(Sosial media X)

INVESTIGASI atas kecelakaan pesawat Jeju Air yang menewaskan 179 orang di Korea Selatan akan melampaui batas waktu satu tahun untuk merilis laporan resmi yang membuat keluarga korban frustasi.

Keluarga korban yang terus menuntut kejelasan mengenai penyebab tragedi tersebut. Dewan investigasi kecelakaan penerbangan negara itu dipastikan tidak dapat merilis laporan sementara pada peringatan satu tahun kecelakaan, pada Senin (29/12).

Kedua pejabat dewan tersebut menyampaikan informasi ini dengan syarat anonim, mengingat sensitivitas kasus yang masih berlangsung.

Kecelakaan terjadi pada 29 Desember 2024 ketika sebuah pesawat Boeing 737-800 melakukan pendaratan darurat di Bandara Muan. 

Pesawat tersebut melampaui ujung landasan pacu, menabrak tanggul beton, lalu meledak dan terbakar hebat. Insiden ini menewaskan 179 dari total 181 orang di dalam pesawat, dengan hanya dua orang yang selamat.

Dalam laporan pendahuluan yang dirilis pada Januari, Dewan Investigasi Kecelakaan Penerbangan dan Kereta Api menyatakan bahwa kedua mesin pesawat mengalami tabrakan dengan burung.

Dalam pembaruan lanjutan pada Juli, para penyelidik menyebutkan bahwa pilot mematikan mesin yang mengalami kerusakan lebih ringan setelah insiden tabrakan burung tersebut.

Sejumlah anggota keluarga korban menyampaikan bahwa mereka merasa penyelidikan sejauh ini cenderung menyalahkan pilot, tanpa menggali faktor-faktor lain yang mungkin berperan, termasuk keberadaan struktur beton di luar ujung landasan pacu yang diduga memperparah dampak kecelakaan.

"Rasanya semua jenis keraguan semakin membesar. Sementara itu, satu tahun telah berlalu, dan rasanya frustrasi hanya terus meningkat," kata Ryu Kum-Ji, seorang wanita berusia 42 tahun yang kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan itu.

Ryu bersama keluarga korban lainnya melakukan aksi protes dengan mencukur rambut mereka di depan kantor kepresidenan. Mereka menuntut adanya penyelidikan yang independen dan transparan.

Menurut Ryu, kemungkinan kesalahan kebijakan atau kelalaian dari Kementerian Transportasi juga perlu diselidiki sebagai bagian dari penyebab kecelakaan.

Seorang pejabat Kementerian Transportasi mengatakan kepada keluarga korban awal bulan ini bahwa pemerintah akan menindaklanjuti berbagai kekhawatiran yang disampaikan.

"Kami menanggapi dengan serius kekhawatiran Anda yang menyatakan bahwa upaya pemerintah tidak cukup dalam proses (menemukan kebenaran)," kata wakil menteri kedua kementerian transportasi. 

"Pemerintah akan mendukung keluarga korban dan akan meneliti lebih lanjut," tambahnya.

Parlemen Korea Selatan dijadwalkan memulai penyelidikan independen atas kecelakaan tersebut pada hari Selasa (30/12).

Berdasarkan ketentuan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), laporan akhir investigasi kecelakaan pesawat seharusnya diselesaikan dalam waktu satu tahun. 

Apabila belum memungkinkan, lembaga investigasi diwajibkan merilis pernyataan sementara setiap peringatan tahunan yang memuat perkembangan penyelidikan serta isu keselamatan yang teridentifikasi.

Namun demikian, dewan investigasi belum berencana menerbitkan laporan kemajuan tersebut. Kedua pejabat menyatakan hal ini berkaitan dengan proses legislasi yang sedang berjalan untuk menjamin independensi lembaga investigasi tersebut.

Para anggota parlemen telah mengusulkan perubahan struktur dengan mengganti anggota dewan serta memindahkan pengawasan dari Kementerian Transportasi ke kantor perdana menteri.

"Kami akan menghormati keputusan komite yang baru dibentuk mengenai waktu penerbitan pernyataan sementara," kata salah satu pejabat dewan. (CNA/H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik