Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Pertahanan Israel Yoav Gallant telah meminta Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengesampingkan pemerintahan Israel di Gaza dan memaparkan rencananya pascaperang. Dalam kesempatan itu Gallant memperingatkan ia menentang pemerintahan Israel di wilayah kantong Palestina.
“‘Hari setelah Hamas’ hanya akan tercapai jika entitas Palestina mengambil kendali atas Gaza, didampingi oleh aktor-aktor internasional, membangun pemerintahan alternatif terhadap pemerintahan Hamas,” kata Gallant dalam konferensi pers di Kirya, markas besar militer Israel, Rabu (15/5).
“Saya menyerukan kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mengambil keputusan dan menyatakan Israel tidak akan membentuk kendali sipil atas Jalur Gaza, Israel tidak akan membentuk pemerintahan militer di Jalur Gaza, dan pemerintahan alternatif selain Hamas di Jalur Gaza akan segera dinaikkan,” imbuhnya.
Baca juga : Nasib Gencatan Senjata di Gaza Masih Kelam
Pernyataan Gallant muncul ketika pertanyaan serius mengenai strategi jangka panjang Israel di Gaza.
Para pejabat militer Israel diam-diam telah memperingatkan kurangnya strategi jangka panjang dalam pemerintahan pascaperang akan mengakibatkan pola serupa terulang di seluruh Gaza.
Para pejabat tinggi Amerika melakukan hal tersebut secara terbuka, dimana Menteri Luar Negeri Antony Blinken memperingatkan Israel harus “fokus pada apa yang bisa dan harus dilakukan di masa depan” untuk menghindari “anarki dan kekosongan yang mungkin akan diisi oleh kekacauan.”
Baca juga : Benjamin Netanyahu Bersikeras Hancurkan Rafah
Gallant sebelumnya mengatakan dia menentang kendali Israel atas Gaza pascaperang. Namun pernyataannya pada Rabu menjadi paling langsung mengenai topik tersebut ketika dia memperingatkan konsekuensi dari kehadiran militer Israel dalam jangka panjang di Gaza dan langsung memanggil Netanyahu.
“Saya tidak akan menyetujui pembentukan pemerintahan militer Israel di Gaza. Israel tidak boleh mendirikan pemerintahan sipil di Gaza,” katanya.
Ia memperingatkan pendudukan militer di wilayah Palestina akan menimbulkan banyak korban berupa “pertumpahan darah dan korban jiwa, serta kerugian ekonomi yang besar,” ia memperingatkan.
Baca juga : Pejabat Jalur Gaza: Serangan Israel Bunuh Sembilan Anggota Keluarga di Rafah
Netanyahu tampaknya menanggapi pernyataan Gallant pada Rabu malam, dengan mengatakan dalam pernyataan video yang diposting ke media sosial bahwa baik Hamas maupun Otoritas Palestina bukanlah entitas yang dapat diterima untuk memerintah Gaza.
“Saya tidak bersedia mengganti Hamastan dengan Fatahstan,” katanya merujuk pada Fatah, partai politik Palestina yang mendominasi Otoritas Palestina.
Netanyahu juga mengatakan bahwa kekalahan total Hamas akan menjadi prasyarat bagi pemerintahan sipil baru di Gaza. “Selama Hamas masih ada, tidak ada entitas lain yang akan memasuki Gaza untuk mengurus aspek sipil, terutama Otoritas Palestina,” katanya.
Baca juga : Israel Terjepit di Antara Iran dan Hamas
Pernyataan Gallant memicu badai politik di Israel, dengan sejumlah anggota parlemen sayap kanan mengutuk pernyataan Gallant dan beberapa bahkan mendesak Netanyahu untuk mencopotnya dari jabatannya. Sementara itu, anggota kabinet perang, Menteri Benny Gantz, mendukung pendirian Gallant, dengan mengatakan bahwa dia “mengatakan kebenaran”.
Bentrokan publik antara Gallant dan Netanyahu terjadi setelah Amerika berulang kali menyerukan agar Israel membuat rencana yang jelas untuk Gaza pascaperang.
“Kami tidak mendukung dan tidak akan mendukung pendudukan Israel. Kami juga tentu saja tidak mendukung pemerintahan Hamas di Gaza,” Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan kepada wartawan pada konferensi pers di Kyiv, Ukraina, pada hari Rabu, sambil menambahkan, “Kami juga tidak boleh mengalami anarki dan kekosongan yang mungkin terjadi. dipenuhi oleh kekacauan.”
“Perlu ada rencana yang jelas dan konkrit, dan kami berharap Israel dapat mewujudkan ide-idenya,” katanya. (CNN/Z-3)
Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem menyampaikan bahwa kelompok itu akan melanjutkan apa yang dia gambarkan sebagai "pertempuran defensif" melawan Israel.
Komandan Polisi Dubai Dhahi Khalfan desak negara Teluk perkuat hubungan dengan Israel dan Barat, serta kritik negara Arab lain di tengah perang regional melawan Iran.
Ketua Parlemen Iran Qalibaf mengancam bakal menyerang infrastruktur vital negara kawasan jika terbukti membantu musuh menduduki salah satu pulau strategis milik Iran.
MENTERI Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran tidak akan maju ke meja perundingan dan memilih melanjutkan perlawanan terhadap Amerika Serikat dan Israel di tengah konflik
Penasihat kebijakan luar negeri Trump menyebut AS tidak berkepentingan memperpanjang konflik dengan Iran lebih dari tiga bulan.
WFH adalah salah satu ‘aksi cepat’ yang dapat menghemat konsumsi BBM untuk sementara waktu.
Analisis pakar sebut perang AS-Israel gagal picu revolusi di Iran. Agresi militer justru perkuat loyalitas militer dan bungkam kelompok moderat di internal Teheran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu umumkan perluasan zona keamanan di Libanon Selatan hingga Sungai Litani. Langkah ini memicu kekhawatiran pendudukan jangka panjang.
Eskalasi di Libanon meningkat setelah militer Israel meluncurkan serangkaian serangan udara ke pinggiran Beirut dan menangkap dua anggota pasukan komando Hizbullah.
PM Israel Benjamin Netanyahu tegaskan serangan ke Iran dan Libanon terus berlanjut meski ada klaim kesepakatan dari Donald Trump. Pakistan tawarkan diri jadi mediator.
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump melontarkan tudingan keras kepada Presiden Israel Isaac Herzog terkait janji pengampunan bagi Benjamin Netanyahu yang disebut tidak pernah ditepati.
Human Rights Watch mendesak Hungaria menangkap PM Israel Benjamin Netanyahu terkait surat perintah ICC atas dugaan kejahatan perang di Gaza saat kunjungannya Sabtu ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved