Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
ANGKATAN Laut Iran menyita kapal tanker minyak milik Amerika Serikat di Laut Oman. Dalam pernyataan yang disiarkan oleh media pemerintah, angkatan laut mengatakan kapal AS tersebut disita berdasarkan perintah pengadilan.
AL mengatakan tanker minyak itu mencuri minyak Iran tahun lalu di bawah arahan AS dan memasok minyak tersebut ke Washington.
Menurut pernyataan itu, kapal tangki tersebut berlayar di Laut Oman ketika disita melalui perintah pengadilan sebagai balasan atas pencurian minyak Iran oleh AS.
Baca juga : Rusia dan Iran Tinggalkan Dolar AS
Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa tanker yang disita telah dipindahkan ke pelabuhan Iran dan diserahkan kepada lembaga kehakiman untuk dilakukan tindakan hukum.
Perincian insiden tersebut masih belum jelas. Angkatan Laut Iran diperkirakan akan merilis pernyataan terperinci setelahnya.
Baca juga : Harga Minyak Naik 3% Imbas Ledakan di Iran dan Protes di Libia
Sementara itu, laporan media yang mengutip perusahaan keamanan maritim Inggris Ambrey mengatakan tanker berbendera Kepulauan Marshall itu "ditumpangi oleh orang-orang bersenjata di lepas pantai Oman" ketika berlayar dekat Kota Sohar di Oman.
Sistem pelacakan AIS pada kapal tangki itu dilaporkan dimatikan saat berlayar menuju pelabuhan Bandar-e-Jask, Iran.
Menurut laporan media, kapal yang disita oleh Angkatan Laut Iran itu memuat 145.000 metrik ton minyak di pelabuhan Basra, Irak.
Tanker yang dinamai St Nikolas itu terlibat dalam perselisihan antara Teheran dan Washington tahun lalu setelah kapal tersebut disita oleh AS pada April dalam tindakan penegakan sanksi saat kapal tersebut berlayar dengan nama Suez Rajan.
St Nikolas dipandu menuju pelabuhan Texas, tempat kapal tersebut berlabuh selama empat bulan sebelum Angkatan Laut AS menurunkan 800.000 barel minyak senilai sekitar $56 juta (Rp871,4 miliar) dan mengabaikan peringatan Iran.
Washington pada saat itu menuduh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mencoba mengirim minyak Iran selundupan ke Tiongkok, yang merupakan pelanggaran sanksi.
Sebelum minyak diturunkan di lepas pantai Texas, para pejabat militer Iran memperingatkan akan adanya konsekuensi yang berat. Komandan Angkatan Laut IRGC Alireza Tanjsiri pada saat itu mengatakan “era tabrak lari” sudah berakhir.
“Dengan ini kami menyatakan bahwa kami meminta pertanggungjawaban perusahaan minyak mana pun yang berusaha menurunkan minyak mentah kami dari kapal itu, dan kami juga meminta pertanggungjawaban Amerika,” katanya saat itu. (Anadolu/Ant/Z-4)
Memang realisme politik Trump untuk menahan kemerosotan AS merupakan preseden yang mengancam tatanan internasional.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengakui ribuan orang tewas dalam aksi protes anti-pemerintah. Ia menuding campur tangan AS dan Donald Trump sebagai pemicu kekerasan.
Presiden Iran Pezeshkian mengeklaim AS & Israel adalah dalang kerusuhan.
Otoritas Iran mengeklaim telah menahan 3.000 orang. Di sisi lain, David Barnea (Mossad) bertemu utusan Donald Trump bahas serangan militer.
Situasi di berbagai kota besar Iran dilaporkan sunyi senyap menyusul tindakan keras mematikan dari otoritas keamanan setempat yang berhasil meredam gelombang protes besar.
Gelombang protes yang mengguncang Iran sejak akhir Desember mencatatkan rekor kelam sebagai kerusuhan paling mematikan dalam sejarah pemerintahan negara tersebut.
AS menyita dua kapal tanker pada Rabu (7/1), termasuk satu yang melarikan diri dari blokade AS di dekat Venezuela dan sedang dikawal kapal selam Rusia serta kapal angkatan laut Rusia di Atlantik.
Penjaga Pantai AS terlibat aksi pengejaran kapal tanker Bella 1 di perairan internasional dekat Venezuela. Langkah ini merupakan eskalasi blokade minyak rezim Maduro.
Amerika Serikat menjatuhkan sanksi baru terhadap enam kapal pembawa minyak Venezuela dan keluarga Presiden Nicolás Maduro, sehari setelah penyitaan tanker Skipper.
Departemen Kehakiman AS menyita kapal tanker “The Skipper” yang diduga terlibat jaringan pengiriman minyak ilegal dari Venezuela dan Iran.
Hingga saat ini PIS mengelola secara langsung 2.500 kru kapal milik yang digunakan untuk inhouse ship management.
Daftar tersebut melaporkan hanya terdapat dua perusahaan asal Indonesia yang termasuk pemilik kapal terbanyak yaitu Waruna Group dan Pertamina.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved