Kamis 27 Oktober 2022, 12:18 WIB

PBB Kecam Malaysia dan Tindakan Junta Myanmar

Cahya Mulyana | Internasional
PBB Kecam Malaysia dan Tindakan Junta Myanmar

AFP/Angela Weiss.
Logo UN.

 

Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam tindakan junta Myanmar yang membumihanguskan sekitar 80 orang yang mengadiri acara musik dengan dua jet tempur. Senjata itu buatan Rusia yang digunakan juga di Ukraina.

"Beberapa jenis senjata yang digunakan untuk membunuh orang di Ukraina digunakan untuk membunuh orang-orang Myanmar. Dan senjata itu berasal dari sumber yang sama mereka berasal dari Rusia," ungkap pelapor khusus PBB untuk Hak Asasi Manusia (HAM) di Myanmar, Tom Andrews.

Andrews mendesak negara-negara anggota PBB membentuk koalisi. Itu seperti yang mereka lakukan di Moskow atas Ukraina, untuk menargetkan dan menekan pemerintah militer Myanmar.

Myanmar berada dalam krisis sejak tentara menggulingkan pemerintah terpilih pemimpin Aung San Suu Kyi pada Februari 2021, menahannya dan pejabat lainnya dan melancarkan tindakan keras berdarah terhadap protes dan perbedaan pendapat lainnya.

"Masyarakat internasional harus mengoordinasikan upaya mereka untuk menargetkan mereka, dan kemudian bekerja sama untuk menerapkan langkah-langkah ini," jelas Andrews.

Dewan Keamanan PBB telah lama terpecah di Myanmar, dengan para diplomat mengatakan Tiongkok dan Rusia kemungkinan akan melindungi junta dari tindakan keras. Karenanya, Andrews mengatakan, koalisi negara seharusnya menargetkan junta dengan sanksi dan embargo senjata.

"Itu tidak dilakukan sekarang. Bukan karena kami tidak tahu bagaimana melakukannya. Kami tahu bagaimana melakukannya. Jika Anda ingin buku pedoman, lihat Ukraina," sambungnya.

Amerika Serikat dan sekutu Eropa telah mengoordinasikan penerapan sanksi mereka terhadap Rusia sejak Moskow menginvasi negara tetangga Ukraina pada 24 Februari.

Setelah Andrews memberi pengarahan kepada komite hak asasi manusia Majelis Umum PBB kemarin, Wakil Duta Besar Rusia untuk PBB Gennady Kuzmin mempertanyakan laporannya, dengan mengatakan itu sering tidak didukung oleh fakta.

"Bukan terserah Anda untuk mengatakan senjata siapa yang membunuh warga sipil, orang tua, wanita, anak-anak di seluruh dunia. Anda telah ditunjuk sebagai pelapor khusus Myanmar, jadi berurusanlah dengan Myanmar, bukan Ukraina," kata Kuzmin kepada komite tersebut.

Bulan lalu, Inggris mengusulkan rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB kepada 15 anggota badan yang akan menuntut diakhirinya semua kekerasan di Myanmar, mengancam sanksi PBB dan menyerukan junta untuk membebaskan semua tahanan politik, termasuk Aung San Suu Kyi. Draf yang direvisi diedarkan ke dewan minggu ini.

Tidak jelas kapan pemungutan suara dapat dilakukan. Untuk lolos, sebuah resolusi membutuhkan sembilan suara yang mendukung dan tidak ada veto oleh Tiongkok, Rusia, Amerika Serikat, Prancis atau Inggris.

Andrews juga mengecam Malaysia karena mendeportasi lusinan warga negara Myanmar. "Menurut pendapat saya, mereka akan menghadapi penyiksaan dan kemungkinan besar eksekusi," kata dia.

"Terus terang saya akan terkejut jika mereka masih hidup sekarang. Ini keterlaluan, tidak dapat diterima dan menjadi pelanggaran berat terhadap hukum internasional," pungkasnya. (AFP/OL-12)

Baca Juga

Antara

Indonesia-Selandia Baru Bahas Kerja Sama Jaminan Produk Halal

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 07 Desember 2022, 17:19 WIB
Wamenag berharap, kerja sama jaminan produk halal yang dilakukan dapat memberikan keuntungan bagi dua...
AFP/SPENCER PLATT

Gelombang PHK Menghantui AS

👤Fetry Wuryasti 🕔Rabu 07 Desember 2022, 13:30 WIB
Bank of America Corp pun juga mulai memperlambat proses perekrutan. Morgan Stanley saat ini diperkirakan akan mulai memangkas tenaga...
AFP/HECTOR RETAMAL

Taiwan Bantah Dalangi Protes di Tiongkok

👤Cahya Mulyana 🕔Rabu 07 Desember 2022, 13:20 WIB
"Kebebasan berekspresi, kebebasan berbicara adalah hak dasar, dan kami tentu berharap pemerintah Tiongkok akan memperhatikan hak dasar...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya