Headline
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH pesawat militer Rusia terbang di langit di atas Berdyansk, sebuah kota di Ukraina selatan.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," kata seorang wanita tua yang duduk di bangku di alun-alun kecil di sore akhir pekan yang cerah. "Itu salah satu milik kita," sambungnya.
Pasukan Rusia mengambil alih kota pelabuhan di Laut Azov ini pada hari-hari pertama kampanye militer yang mereka luncurkan di Ukraina pada akhir Februari, hampir tanpa perlawanan.
Setelah itu pasukan Moskow dan separatis pro-Rusia menyerang daerah untuk menghubungkan Ukraina timur dan selatan. Wilayah Berdyansk dan Melitopol menjadi bagian penting dan strategis bagi Rusia karena menghubungkan ke Krimea.
Baca juga: 100 Ribu Warga Mariupol Masih Terperangkap Konflik
Di kedua kota tersebut, Moskow telah membentuk pemerintahan lokal yang bertugas mengembalikan kehidupan normal.
"Kami berada dalam fase transisi, dari Ukraina ke Rusia," kata kepala pemerintahan baru di Berdyansk, Alexander Saulenko, kepada wartawan di kota itu.
"Kami melihat masa depan kami dengan Rusia," sambungnya.
Beberapa langkah sudah diambil, dengan rencana mulai membayar gaji dan pensiun sektor publik dalam rubel Rusia, bukan hryvnia Ukraina. Kekurangan dana untuk menjaga kota tetap berjalan, Saulenko mengatakan "kami akan meminta bantuan Rusia".
Kota yang terbagi
Wilayah Melitopol, sebuah spanduk komunis berkibar di atas Lapangan Kemenangan pusat dan lagu-lagu patriotik era soviet dikumandangkan dari pengeras suara truk militer. Di tempat lain di kota, itu adalah bendera tiga warna Rusia yang dipajang.
Situasi di keduankota itu tidak terlihat jejak pertempuran atau kehancuran akibat peperangan. Itu kontras dengan Mariupol yang hanya 70 kilometer (40 mil) timur Berdyansk.
"Semua pasukan (Ukraina) meninggalkan kota" sebelum kedatangan pasukan Rusia, kata Svetlana Klimova, seorang mantan pekerja pompa bensin berusia 38 tahun di Berdyansk. "Jika mereka tetap tinggal, itu akan seperti Mariupol."
Beberapa warga di kota itu mengungkapkan kelegaan mereka karena telah lolos dari nasib Mariupol, dan beberapa antusias dengan kehadiran Rusia.
"Ketika saya mendengar (tentang kedatangan Rusia), saya sangat senang hingga air mata saya berlinang," kata Valery Berdnik, seorang mantan buruh pelabuhan berusia 72 tahun dengan kumis besar berwarna abu-abu.
Dia mengatakan kota-kota lain di Ukraina, seperti Zaporizhzhia atau Kharkiv akan dikuasai Rusia. Tentara Rusia sudah berpatroli di jalan-jalan.
Tidak semua orang di Berdyansk memiliki antusiasme yang sama dengan Berdnik, dengan Saulenko mengakui bahwa populasi kota telah turun menjadi antara 60.000 dan 70.000, dari sebelumnya 100.000.
"Di Melitopol kota ini terbagi," kata Elena, seorang guru sekolah berusia 38 tahun yang berjalan di jalan dengan kacamata hitam besar, anting berbentuk salib di satu telinga.
"Ada yang senang, ada juga yang mengkritisi keadaan tersebut,” ujarnya.
Wali Kota Melitopol Ivan Fedorov sempat ditahan selama beberapa hari oleh pasukan Rusia pada bulan Maret, dan akhirnya meninggalkan kota.
Beberapa demonstrasi terjadi sejak awal menentang kehadiran Rusia, tetapi sekarang telah berhenti, kata seorang warga Melitopol lainnya.
Olga Chernenko, 50, penduduk Mariupol yang memilih untuk berada di Berdyansk. Ia mengatakan Ukraina menyerahkan Berdyansk merupakan pilihan yang tepat.
"Jika kita ingin menyelamatkan nyawa, kita tidak bisa bertarung di kota," katanya.
Berdyansk dan Melitopol mungkin tampak tenang, tetapi antrian di depan bank dan kantor penukaran mata uang mengingatkan bahwa situasinya jauh dari normal.
"Tidak ada uang tunai, mesin bank tidak berfungsi," kata Klimova, yang berharap rusia akan membantu dengan membayar tunjangan dan pensiun.
Pihak berwenang di kedua kota ingin membawa penduduk berpihak dengan mengembalikan kehidupan normal sesegera mungkin.
Di Melitopol, wartawan dibawa ke peresmian arena skating, di mana beberapa orang berseluncur sebentar, lalu menghilang saat kamera dimatikan. Di Berdyansk, terdapat kantor pernikahan lokal yang kembali dioperasikan. (France24/Cah/OL-09)
Komandan Islamic Revolutionary Guard Corps mengancam meluncurkan rudal ke Siprus di tengah eskalasi konflik Iran-AS-Israel. Jerman bersiap mengevakuasi warganya dari kawasan Timur Tengah.
Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPR RI, Jazilul Fawaid, menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya Wakil Presiden ke-6 RI, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno.
Serangan dua drone Iran memicu kebakaran di Pangkalan Al Salam Abu Dhabi yang menampung pasukan Prancis. UEA memastikan tidak ada korban jiwa.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menekankan pentingnya peran satuan-satuan tempur sebagai fondasi utama kekuatan pertahanan nasional.
PRESIDEN Xi Jinping melakukan penyelidikan antikorupsi terhadap sejumlah petinggi militer, termasuk Jenderal senior Zhang Youxia, untuk memperkuat profesionalisme angkatan bersenjata.
Korban tewas protes Iran lampaui 5.100 jiwa. AS kirim armada tempur USS Abraham Lincoln saat militer Iran siaga tempur.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian desak Rusia dukung hak sah Iran di tingkat internasional pasca-serangan AS dan Israel. Simak detail diplomasi Teheran dan pembelaan hukumnya di PBB
PRESIDEN Rusia Vladimir Putin menyatakan akan mempertimbangkan penghentian pasokan energi Rusia ke Eropa dan mengalihkannya ke pasar Asia.
SEBUAH penemuan luar biasa datang dari tim peneliti Rusia yang berhasil menghidupkan kembali tanaman berbunga asal Siberia, Silene stenophylla, dari biji yang telah terkubur 32 ribu tahun.
Rosatom mengatakan telah mengevakuasi hampir 100 orang dari Iran.
Sistem rudal bahu tersebut disebut akan dipasok Rusia ke Iran secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan sebagai bagian dari kontrak bernilai ratusan juta euro.
Uni Eropa mengusulkan larangan transportasi dan layanan minyak Rusia, namun AS menolak dukungan, sementara negara G7 lain belum memberikan janji jelas.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved