Kamis 21 April 2022, 14:43 WIB

Pasukan Rusia Mulai Kuasai Kota Mariupol Sepenuhnya 

Cahya Mulyana | Internasional
Pasukan Rusia Mulai Kuasai Kota Mariupol Sepenuhnya 

Alexander NEMENOV / AFP
Pasukan militer Rusia berpatroli di kota pelabuhan strategis Mariupol, Ukraina, yang mulai dikuasai sepenuhnya pada Selasa (12/4).

 

PRESIDEN Rusia Vladimir Putin mengatakan pasukan Rusia akan merebut benteng utama perlawanan terakhir di Kota Mariupol yang terkepung pada Kamis (21/4).'

Pernyataan Putin disampaikan setelah Ukraina mengusulkan pembicaraan tentang evakuasi pasukan dan warga sipil di sana.

Mariupol akan menjadi kota terbesar yang akan direbut oleh Rusia sejak menginvasi Ukraina delapan minggu lalu dalam serangan yang memakan waktu lebih lama dari perkiraan beberapa analis militer. Sudah lebih dari lima juta orang melarikan diri ke luar negeri dan mengubah kota menjadi puing-puing.

"Sebelum makan siang, atau setelah makan siang, Azovstal akan sepenuhnya berada di bawah kendali pasukan Federasi Rusia," kata Ramzan Kadyrov, Presiden Republik Chechnya.

Baca juga: Mariupol Terancam Jatuh, Ukraina Minta Negosiasi

Kementerian Pertahanan Ukraina tidak segera dapat dihubungi untuk dimintai komentar. Staf umumnya mengatakan bahwa serangan rudal dan bom berlanjut di seluruh negeri.

Beberapa puluh warga sipil berhasil meninggalkan kota pada Rabu dengan konvoi bus kecil, menurut saksi mata. Seorang komandan marinir Ukraina, Serhiy Volny, mengatakan para pejuang di pabrik baja mungkin tidak dapat bertahan lebih lama lagi.

Presiden Volodymyr Zelenskiy mengatakan sekitar 1.000 warga sipil berlindung di sana. Ukraina siap untuk putaran negosiasi khusus tanpa syarat.

"Untuk menyelamatkan orang-orang kami, militer, warga sipil, anak-anak, yang hidup dan yang terluka," kata perunding Ukraina Mykhailo Podolyak di Twitter.

Kyiv telah mengusulkan untuk menukar tawanan perang Rusia dengan jalan yang aman bagi warga sipil dan tentara yang terperangkap. Tidak diketahui apakah Rusia telah menanggapi tawaran negosiasi khusus.

Pejuang tetap bersembunyi di pabrik dan mengabaikan ultimatum Rusia untuk menyerah. Di tempat lain di timur, Ukraina mengatakan telah menahan serangan oleh pasukan Rusia yang mencoba untuk maju dalam apa yang disebut Kyiv sebagai Pertempuran Donbas.

Pasukan Rusia telah melakukan serangan terhadap puluhan fasilitas militer di timur dan telah menembak jatuh sebuah helikopter Mi-8 Ukraina di dekat desa Koroviy Yar, kata kementerian pertahanannya.

Intelijen militer Inggris mengatakan pasukan Rusia ingin menunjukkan keberhasilan yang signifikan dengan peringatan 9 Mei Perang Dunia Kedua, dan memberikan dukungan udara dekat untuk serangan di timur di mana pasukan Rusia maju menuju kota Kramatorsk.

Putin mengatakan uji peluncuran pertama rudal balistik antarbenua Sarmat Rusia pada Rabu, tambahan baru dan telah lama ditunggu-tunggu untuk persenjataan nuklirnya.

"Itu akan memberikan bahan pemikiran bagi mereka yang dalam panasnya retorika agresif yang hiruk pikuk, mencoba mengancam negara kita," kata Putin.

Barat telah memberlakukan sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Rusia dan memberikan dukungan luas kepada Ukraina, termasuk senjata.

Presiden AS Joe Biden akan menyampaikan soal paket senjata baru bagi Ukraina, yang kemungkinan senilai US$800 juta, kata seorang pejabat AS.

Para menteri keuangan G7 mengatakan Rusia seharusnya tidak lagi berpartisipasi dalam forum internasional, termasuk pertemuan G20, Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia.

Pejabat tinggi dari Inggris, Amerika Serikat dan Kanada tidak mengundang perwakilan Rusia pada pertemuan G20 di Washington.

Wakil Komandan Resimen Azov Ukraina di Mariupol, Svyatoslav Kalamar, mengatakan beberapa bunker di bawah pabrik itu masing-masing masih menampung sekitar 80 hingga 100 warga sipil. Asap hitam mengepul dari pabrik pada hari Rabu (20/4) ketika para pengungsi mengantri untuk naik bus.

Tamara, 64, mengatakan dia akan tinggal bersama saudara perempuannya di Zaporizhzhia. Dia pergi bersama suami, putri, menantu dan cucunya.

"Senang, pergi setelah mimpi buruk ini. Kami tinggal di ruang bawah tanah selama 30 hari," katanya sambil menangis.

Rusia membantah menargetkan warga sipil dan menyalahkan Ukraina atas kegagalan upaya sebelumnya untuk mengatur koridor kemanusiaan di luar Mariupol.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan pembicaraan damai kemungkinan akan gagal. Para pemimpin dunia, termasuk Biden, telah menyepakati senjata untuk Ukraina.(Channelnewsasia/Cah/OL-09)

Baca Juga

AFP/Brendan SMIALOWSKI

Merespons Ancaman Rusia, Biden Tingkatkan Pasukan AS di Eropa

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 29 Juni 2022, 23:40 WIB
Langkah-langkah oleh negara-negara yang sebelumnya netral yaitu Finlandia dan Swedia untuk memasuki aliansi akan membuat NATO lebih kuat...
ANTARA/Galih Pradipta

Indonesia Minta Malaysia Perbaiki Kondisi Detensi Imigrasi

👤Cahya Mulyana 🕔Rabu 29 Juni 2022, 23:25 WIB
Dalam waktu dekat, Duta Besar RI untuk Malaysia akan mengunjungi Sabah dan bertemu dengan pihak terkait guna segera mematangkan...
Biro Pers Setpres

Presiden: Kunjungan ke Ukraina Wujud Kepedulian Indonesia

👤Andhika Prasetyo 🕔Rabu 29 Juni 2022, 23:04 WIB
Meskipun masih sangat sulit dicapai, ia tetap menyampaikan pentingnya penyelesaian konflik dengan jalan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya