Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
DEPARTEMEN Luar Negeri Amerika Serikat menyarankan warganya di Ukraina untuk segera meninggalkan negara itu. Alasannya, ada ancaman invasi Rusia di tengah krisis yang sedang berlangsung di Eropa Timur.
Dalam peringatan perjalanan yang diperbarui pada Kamis (10/2) tersebut, Amerika Serikat juga mendesak warganya yang tetap berada di Ukraina untuk berhati-hati karena potensi operasi tempur jika Rusia mengambil tindakan militer. "Jangan bepergian ke Ukraina karena meningkatnya ancaman aksi militer Rusia dan covid-19. Mereka yang berada di Ukraina harus berangkat sekarang melalui sarana komersial atau pribadi," kata peringatan tersebut.
Ada empat tingkat peringatan AS, yang terendah yaitu melakukan tindakan pencegahan normal. Ukraina sudah berada pada level jangan bepergian tertinggi karena covid-19 dan ketegangan dengan Rusia.
Namun bagi orang Amerika yang sudah berada di Ukraina, peringatan sebelumnya mengatakan bahwa mereka harus mempertimbangkan untuk pergi dari negara itu. Pedoman baru juga memperingatkan orang Amerika bahwa pemerintah AS tidak akan dapat mengevakuasi mereka jika terjadi aksi militer Rusia di mana pun di Ukraina. "Tindakan militer dapat dimulai kapan saja dan tanpa peringatan serta akan sangat berdampak pada kemampuan Kedutaan Besar AS untuk memberikan layanan konsuler, termasuk bantuan kepada warga AS yang meninggalkan Ukraina," tuturnya.
Militer Rusia telah mengumpulkan pasukan di dekat perbatasan negara itu dengan Ukraina. Ini memicu krisis diplomatik dan meningkatkan ketakutan di AS dan Eropa bahwa Rusia mungkin bersiap untuk invasi yang akan segera terjadi terhadap tetangganya.
Rusia telah membantah bahwa mereka berencana untuk menyerang Ukraina, tetapi dengan keras menentang upaya negara tetangganya itu untuk bergabung dengan NATO. Moskow menginginkan jaminan keamanan bahwa aliansi yang dipimpin AS akan menghentikan ekspansinya ke bekas republik Soviet, tetapi Washington dan NATO telah menolak permintaan itu sebagai bukan permulaan sambil mengatakan mereka terbuka untuk membahas langkah-langkah pengendalian senjata di Eropa.
Para pejabat AS telah memperingatkan Rusia tentang konsekuensi ekonomi yang parah jika menyerang Ukraina, menggarisbawahi bahwa perang akan mengerikan bagi warga sipil di wilayah tersebut. Pekan lalu, Presiden Joe Biden menyarankan agar warga AS di Ukraina tidak tinggal di negara itu. "Saya pikir akan bijaksana untuk meninggalkan negara ini. Saya tidak sedang berbicara tentang korps diplomatik kita. Saya berbicara tentang orang Amerika yang ada di sana," katanya.
"Saya tidak suka melihat mereka (warga Amerika) terjebak dalam baku tembak jika mereka (Rusia) memang menyerang. Dan tidak perlu untuk itu. Jika saya memiliki seseorang di sana, saya akan mengatakan pergi," tambahnya.
Dia mengulangi pesan itu dalam wawancara yang sebagian dirilis pada Kamis. "Warga Amerika harus pergi sekarang," kata Biden. Ia menekankan bahwa pemerintahannya tidak akan mengirim pasukan untuk mengevakuasi warga AS jika terjadi perang.
"Ini tidak seperti kita berurusan dengan organisasi teroris. Kita berhadapan dengan salah satu tentara terbesar di dunia. Ini situasi yang sangat berbeda dan segalanya bisa menjadi gila dengan cepat," tuturnya.
Baca juga: AS dan Tiongkok Bersitegang Terkait Ukraina di PBB
Bulan lalu, Washington memerintahkan kepergian anggota keluarga staf di kedutaan besarnya di Kyiv dan mengizinkan karyawan yang tidak penting untuk pergi secara sukarela. Awal Februari, militer AS mengerahkan pasukan tambahan ke Eropa Timur dalam langkah yang disebutnya sebagai sinyal komitmen Washington terhadap keamanan anggota NATO di wilayah tersebut. Namun para pejabat AS telah mengenyampingkan konfrontasi militer dengan Rusia jika memutuskan untuk melakukan serangan ke Ukraina yang bukan anggota NATO. (Aljazeera/OL-14)
Rusia menegaskan tidak memiliki rencana merebut Greenland. Menlu Sergei Lavrov menyatakan AS memahami Moskow dan Beijing tak mengancam wilayah tersebut.
Menlu Rusia Sergei Lavrov menyebut Greenland bukan bagian alami dari Denmark. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan AS dan Eropa terkait rencana Donald Trump.
Di balik ketegangan NATO, media pemerintah Rusia justru memuji rencana Donald Trump mencaplok Greenland. Apakah ini taktik pecah belah Barat?
PENGAMAT militer Khairul Fahmi, mencurigai adanya jalur klandestin atau perantara yang memfasilitasi rekrutmen eks personel Brimob Bripda Rio menjadi tentara bayaran Rusia
Pengamat kepolisian Bambang Rukminto menyoroti kasus Bripda Muhammad Rio, mantan personel Satuan Brimob Polda Aceh, yang diketahui bergabung dengan pasukan tentara bayaran di Rusia
Seorang anggota dapat dijatuhi PTDH jika meninggalkan tugasnya secara tidak sah (desersi) dalam waktu lebih dari 30 hari kerja secara berturut-turut.
Menurut Donald Trump, satu-satunya faktor yang membuat posisi Ukraina tetap bertahan hingga saat ini adalah peran dirinya.
Namun pada 3 Januari, Rusia hanya berdiri dan menyaksikan ketika Amerika Serikat (AS) secara paksa membawa Maduro dan istrinya ke New York.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky resmi menunjuk Kyrylo Budanov sebagai Kepala Staf Presiden di tengah skandal korupsi dan perombakan kabinet besar-besaran.
Pejabat keamanan nasional AS menyatakan Ukraina tidak menargetkan Presiden Rusia Vladimir Putin atau kediamannya dalam serangan drone baru-baru ini
Para pihak juga saling bertukar pandangan mengenai paket kemakmuran untuk Ukraina.
PRESIDEN Rusia Vladimir Putin menyatakan keyakinannya bahwa negaranya akan keluar sebagai pemenang dalam perang di Ukraina.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved