Selasa 07 September 2021, 08:59 WIB

Universitas Dibuka Bersamaan Aturan Baru dari Taliban di Afghnistan

 Nur Aivanni | Internasional
Universitas Dibuka Bersamaan Aturan Baru dari Taliban di Afghnistan

Aamir QURESHI / AFP
Kendati telah memasuki hari pertama Universitas Gharjistan di Kota Kabul, Afghanistan tapi suasanya masih sepi.

 

SEJUMLAH universitas di Kabul hampir kosong pada hari pertama tahun ajaran Afghanistan pada Senin (6/9), ketika para profesor dan mahasiswa bergulat dengan aturan baru Taliban yang membatasi ruang kelas.

Taliban telah menjanjikan pemerintahan yang lebih lembut daripada selama pertama kali mereka berkuasa dari 1996-2001, ketika kebebasan perempuan di Afghanistan sangat dibatasi dan mereka dilarang mengenyam pendidikan tinggi.

Kali ini kelompok Taliban mengatakan perempuan akan diizinkan untuk kuliah di universitas swasta di bawah pemerintahan baru, tetapi mereka menghadapi pembatasan ketat pada pakaian dan gerakan mereka.

Taliban mengatakan bahwa perempuan hanya dapat menghadiri kelas jika mereka mengenakan abaya dan niqab dan dipisahkan dari pria.

"Mahasiswa kami tidak menerima ini dan kami harus menutup universitas," kata Noor Ali Rahmani, Direktur Gharjistan University di Kabul, di kampus yang hampir kosong. "Mahasiswa kami memakai jilbab, bukan niqab," tambahnya.

Otoritas pendidikan kelompok garis keras tersebut mengeluarkan dokumen panjang pada hari Minggu (5/9) yang menguraikan langkah-langkah mereka untuk ruang kelas, yang juga memutuskan bahwa pria dan perempuan harus dipisahkan - atau setidaknya dipisahkan dengan tirai jika ada 15 siswa atau kurang.

"Kami mengatakan kami tidak menerimanya karena itu akan sulit dilakukan," kata Rahmani kepada AFP. "Kami juga mengatakan bahwa itu bukan Islam yang sebenarnya, bukan apa yang dikatakan Al-Qur'an," tambahnya.

Mulai sekarang di perguruan tinggi dan universitas swasta, yang menjamur sejak kekuasaan pertama Taliban berakhir, perempuan hanya boleh diajar oleh perempuan lain, atau "pria tua", dan menggunakan pintu masuk khusus perempuan.

Mereka juga harus mengakhiri pelajaran mereka lima menit lebih awal dari laki-laki agar mereka tidak berbaur saat berada di luar. Sejauh ini, Taliban tidak mengatakan apa-apa tentang universitas negeri.

Namun, bagi beberapa siswa, melegakan karena perempuan masih bisa kuliah di universitas di bawah rezim Taliban yang baru.

Zuhra Bahman, yang menjalankan program beasiswa untuk perempuan di Afghanistan, mengatakan di media sosial dia telah berbicara dengan beberapa siswa.

"Mereka senang bisa kembali kuliah, meski berhijab," katanya. "Taliban membuka universitas untuk perempuan adalah kemajuan penting. Mari terus terlibat untuk menyepakati hak dan kebebasan lain," ujarnya.

Jalil Tadjlil, juru bicara Universitas Ibnu Sina di ibu kota, mengatakan pintu masuk terpisah telah dibuat untuk pria dan perempuan. "Kami tidak memiliki wewenang untuk menerima atau menolak keputusan yang telah diberlakukan," katanya kepada AFP.

Universitas itu mengunggah gambar daring siswa pria dan perempuan yang dipisahkan oleh tirai.

Gambar yang dibagikan di Facebook oleh departemen ekonomi dan manajemen universitas tersebut menunjukkan enam perempuan mengenakan jilbab dan sepuluh siswa pria dengan tirai abu-abu terbentang di antara mereka, ketika seorang guru pria menulis di papan tulis.

 Semuanya Berubah 

Biasanya, koridor kampus pada hari pertama semester akan penuh sesak. Tetapi pada hari Senin, jumlah kehadiran yang sangat rendah di universitas-universitas Kabul. Itu membuat para pemimpin pendidikan bertanya-tanya berapa banyak anak muda dan berbakat yang telah meninggalkan negara itu.

Rahmani mengatakan hanya 10% hingga 20% dari 1.000 siswa yang mendaftar tahun lalu datang ke Gharjistan University pada Senin, meskipun tidak ada jadwal kelas.

Dia memperkirakan hingga 30% siswa meninggalkan Afghanistan setelah Taliban mengambil alih kendali pada pertengahan Agustus. "Kita harus melihat dulu apakah siswa datang," katanya.

Reza Ramazan, seorang dosen ilmu komputer di universitas tersebut mengatakan bahwa mahasiswi sangat berisiko ketika bepergian ke kampus. "Ini bisa berbahaya di pos pemeriksaan," katanya. "Taliban dapat memeriksa telepon dan komputer mereka," terangnya.

Untuk mahasiswa ilmu komputer yang berusia 28 tahun, Amir Hussein, mengatakan bahwa semuanya berubah total setelah pengambilalihan Taliban.

"Banyak siswa yang tidak tertarik lagi untuk belajar karena tidak tahu akan seperti apa masa depan mereka," ujar Amir. "Kebanyakan dari mereka ingin meninggalkan Afghanistan," tandasnya. (AFP/Nur/OL-09)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Biro Pers Setpres/Laily Rachev/Handout

Presiden Dorong G7 Investasi di Sektor Energi Bersih di Indonesia

👤Andhika Prasetyo 🕔Senin 27 Juni 2022, 21:10 WIB
Menurut kepala negara, potensi Indonesia sebagai kontributor energi bersih, baik di dalam perut bumi, di darat, maupun di laut, sangat...
AFP/Mazen Mahdi.

Israel, Negara-Negara Arab Perdalam Kerja Sama Jelang Kunjungan Biden

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 27 Juni 2022, 20:42 WIB
Emir Qatar mengunjungi Kairo untuk pertama kali sejak kedua negara memulihkan hubungan menyusul keretakan yang dipimpin...
Ist

Menkominfo dan Dubes Bulgaria Bahas Potensi Kerja Sama Sektor Digital

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 27 Juni 2022, 20:30 WIB
Bahasan mengenai keamanan siber menjadi salah satu fokus diskusi antara Johnny dan Andonov sehingga dapat saling menguatkan ruang digital...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya