Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Waspada, Kurang Tidur Bisa Picu Lonjakan Nafsu Makan dan Obesitas

Basuki Eka Purnama
17/3/2026 11:56
Waspada, Kurang Tidur Bisa Picu Lonjakan Nafsu Makan dan Obesitas
Ilustrasi(Freepik)

MASALAH kurang tidur ternyata tidak hanya berdampak pada munculnya rasa lelah atau kantuk di siang hari. Dokter spesialis neurologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia - Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), Astri Budikayanti, memperingatkan bahwa durasi tidur yang tidak mencukupi dapat mengganggu keseimbangan hormon dan memicu peningkatan nafsu makan yang berisiko pada obesitas.

Dalam sebuah diskusi kesehatan daring di Jakarta, Senin (16/3), Astri menjelaskan bahwa ada kaitan erat antara sistem metabolisme tubuh dengan pola istirahat seseorang. Ketika waktu tidur berkurang, tubuh secara alami akan mencari kompensasi energi dari sumber lain, salah satunya melalui makanan.

“Ketika kita kurang tidur, tubuh membutuhkan energi lebih. Akibatnya hormon yang memicu rasa lapar meningkat, sehingga kita jadi ingin makan terus,” ujar Astri.

Keseimbangan Hormon dan Berat Badan

Kondisi ini, jika dibiarkan terjadi dalam jangka panjang, dapat menjadi faktor risiko signifikan terhadap kenaikan berat badan. 

Oleh karena itu, Astri menekankan bahwa menjaga pola tidur yang cukup merupakan bagian krusial dalam upaya menjaga berat badan ideal, selain menjaga pola makan dan olahraga.

Mengenai durasi, Astri merekomendasikan orang dewasa untuk memenuhi waktu tidur minimal enam jam setiap malam. Namun, durasi paling ideal yang disarankan tetap berada pada rentang tujuh hingga delapan jam.

Pentingnya Kualitas dan Fase Tidur

Selain durasi, kualitas tidur juga memegang peranan penting yang ditentukan oleh fase-fase tidur sepanjang malam. Astri merinci bahwa tidur manusia terbagi dalam dua bagian besar:

  1. Paruh Pertama Malam: Tubuh biasanya memasuki fase tidur dalam (deep sleep). Fase ini berfungsi utama untuk memulihkan kondisi otak setelah beraktivitas seharian.
  2. Paruh Kedua Malam: Tubuh lebih banyak memasuki fase Rapid Eye Movement (REM). Fase inilah yang berperan penting dalam proses pemulihan memori serta fungsi kognitif manusia.

Gangguan pada fase-fase ini dapat berdampak langsung pada kebugaran saat terbangun. 

“Kalau fase tidur ini terganggu, seseorang bisa bangun dalam keadaan tidak segar atau bahkan merasa seperti belum tidur,” tambahnya.

Dampak pada Kognitif dan Imbauan Medis

Lebih lanjut, buruknya kualitas tidur juga diketahui dapat menurunkan kemampuan berpikir dan daya ingat seseorang. 

Mengingat risiko kesehatan fisik dan mental yang mengintai, Astri mengimbau masyarakat untuk mulai menerapkan pola tidur yang konsisten.

Masyarakat disarankan untuk menghindari kebiasaan yang merusak kualitas istirahat, seperti sering begadang atau penggunaan perangkat elektronik secara berlebihan sesaat sebelum tidur. 

Dengan menjaga disiplin waktu tidur, metabolisme tubuh diharapkan tetap terjaga dan risiko obesitas dapat ditekan. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya