Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
Selama ini berat badan sering dikaitkan dengan pola makan dan olahraga. Namun, penelitian terbaru menunjukkan kualitas tidur memiliki peran penting dalam menjaga berat badan sehat. Kurang tidur ternyata tidak hanya membuat tubuh terasa lelah, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko obesitas.
Sejumlah penelitian membuktikan bahwa orang yang tidur kurang dari 7 jam/malam cenderung memiliki indeks massa tubuh (BMI) lebih tinggi. Dibandingkan dengan mereka yang tidur cukup. Bahkan, durasi tidur di bawah 6 jam dikaitkan dengan risiko lebih besar terkena diabetes tipe 2.
Kurang tidur tidak selalu berarti begadang hingga dini hari. Beberapa faktor juga dapat memengaruhi kurang tidur. Seperti tidur yang sering terputus karena stres, tanggung jawab pekerjaan, atau faktor lingkungan juga dapat menurunkan kualitas istirahat. Kondisi ini berdampak pada metabolisme, nafsu makan, dan pola aktivitas harian.
Kurang tidur membuat laju metabolisme tubuh menurun sehingga pembakaran kalori berkurang. Di sisi lain, rasa lelah mendorong peningkatan asupan kalori. Khususnya dari makanan tinggi gula dan karbohidrat. Kondisi ini diperparah oleh berkurangnya motivasi untuk berolahraga atau menyiapkan makanan sehat.
Faktor hormonal juga berperan besar. Tidur yang tidak cukup menyebabkan:
Kombinasi perubahan ini membuat tidur yang buruk mendorong pola makan tidak sehat. Pada akhirnya memperburuk kualitas tidur. Kurang tidur juga membuat otak lebih cenderung mencari makanan tinggi gula, lemak, dan kalori.
Kondisi ini sering disebut sebagai “craving” yang dipicu oleh kebutuhan energi cepat. Alhasil, orang yang kurang tidur cenderung mengonsumsi makanan ringan, minuman manis, atau junk food di malam hari. Kebiasaan ini berkontribusi langsung pada peningkatan berat badan dan risiko obesitas.
Banyak riset internasional memperkuat temuan ini. Misalnya, studi jangka panjang di Amerika Serikat. Mereka menemukan bahwa individu yang tidur 5 jam atau kurang memiliki risiko obesitas 50% lebih tinggi.
Dibandingkan dengan mereka yang tidur 7-8 jam. Data serupa ditemukan di berbagai negara, menandakan bahwa masalah ini bersifat global. Tidak hanya terjadi di lingkungan tertentu.
Kabar baiknya, memperbaiki kualitas tidur dapat membantu menjaga berat badan. Beberapa langkah sederhana antara lain:
Jika ada masalah serius seperti sleep apnea, sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan medis. Perawatan yang tepat dapat meningkatkan kualitas tidur sekaligus membantu pengendalian berat badan.
Tidur bukan hanya waktu untuk beristirahat, tetapi bagian penting dari keseimbangan energi dan kesehatan tubuh. Dengan tidur yang cukup dan berkualitas, pola hidup sehat dapat lebih mudah dijalani. (Glamour/Z-10)
Ketika waktu tidur berkurang, tubuh secara alami akan mencari kompensasi energi dari sumber lain, salah satunya melalui makanan.
Sebelum memutuskan untuk berkonsultasi dengan ahli, Audy Item sempat mencoba berbagai metode diet dan olahraga berdasarkan informasi dari internet maupun rekomendasi teman.
Obesitas adalah penyakit kronis kompleks. Dokter spesialis gizi ungkap faktor hormonal dan sel memori yang bikin berat badan susah turun. Simak solusinya!
Obesitas bukan sekadar berat badan berlebih, tapi penyakit kronis. Simak penjelasan dr. Vardian Mahardika mengenai risiko PCOS, Alzheimer, hingga sleep apnea.
Prevalensi obesitas di Indonesia naik menjadi 23,4%. Kemenkes imbau masyarakat cermat pilih pangan olahan dan batasi GGL. Simak panduan lengkapnya di sini.
PREVALENSI obesitas nasional pada penduduk berusia sekitar 18 tahun di Indonesia mengalami peningkatan. Angka ini naik dari 21,8% pada tahun 2018 menjadi 23,4% pada tahun 2023.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved