Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Pengawas Gizi, Pengawas Keuangan dan Asisten Lapangan Harus Ngecek Bahan Baku Sebelum Dimasak

Media Indonesia
09/2/2026 08:43
Pengawas Gizi, Pengawas Keuangan dan Asisten Lapangan Harus Ngecek Bahan Baku Sebelum Dimasak
Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati menegaskan pengawasan ketat bahan baku dan alat dapur SPPG guna mencegah insiden keamanan pangan pada program Makan Bergizi Gratis.(BGN)

WAKIL Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bidang Komunikasi Publik dan Investigasi Nanik Sudaryati Deyang mengingatkan kepada para pengawas gizi, pengawas keuangan, dan Asisten Lapangan (Aslap) harus ngecek bersama-sama saat bahan baku datang, untuk memeriksa semua bahan makanan yang akan dimasak di dapur Satuan Pelaksana Pelayanan Gizi (SPPG) dengan teliti. Ketelitian ekstra harus dilakukan untuk mencegah terjadinya insiden keamanan pangan dari awal. 

“Bahan baku kalau memang dari awal sudah ada tanda-tanda ayam itu nggak sehat, sayuran nggak sehat, tahu mungkin nggak sehat, segera kembalikan ke mitra,” kata Nanik pada saat memberikan pengarahan langsung dalam acara Koordinasi dan Evaluasi untuk para Ahli Gizi Akuntan, dan Chef se Kabupaten Pacitan, Ponorogo, dan Trenggalek di Hurya Balroom, Pacitan, akhir pekan lalu Februari 2026.

Nanik juga memerintahkan kepada para Pengawas Gizi dan Pengawas Keuangan untuk menolak intervensi yang sering dilakukan mitra SPPG ke dapur-dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Apalagi jika mereka dengan sembarangan mengubah-ubah menu yang sudah disusun Pengawas Gizi. Biasanya mereka mengintervensi dan mengatur-atur, dengan dalih, karena para Ahli Gizi masih junior, masih belum berpengalaman, dan tidak tahu harga pangan.

“Laporkan ke saya. Kalau ada intervensi saya tutup langsung dapurnya.  Nggak boleh… Nggak boleh… (Penyusunan menu) nggak ada urusan dengan Mitra. Apalagi mengubah menu (yang telah disusun) Ahli Gizi. (Sorak sorai riuh dan tepuk tangan). Kalau ada yang berani mengubah, saya suspend! Biar mereka rasakan,” kata Ketua Harian Tim Koordinasi 17 Kementerian dan Lembaga untuk Pelaksanaan Program MBG itu dengan tegas.

Padahal, kata mantan wartawan senior itu, intervensi para mitra ke dapur dengan menganggap para pengelola dapur MBG masih masih junior, belum berpengalaman, dan tidak tahu harga pangan, hanyalah dalih. “Karena saya tahu, mereka akan memilihkan produk yang kurang bagus, supaya  bisa ambik untung banyak.(Sorak sorai riuh dan tepuk tangan) Awas saja! Ini yang bikin keracunan mulai dari pemilihan bahan baku yang nggak bener,” ujarnya pula.

Para Pengawas Gizi dan Jurutama Masak juga harus mengerti cara menangani bahan, dan memahami petunjuk teknis pemakaian alat. Hal ini penting, agar tidak terjadi insiden keamanan pangan gara-gara ketidakfahaman mereka dalam cara menangani bahan dan pemakaian alat. Saat barang datang dan dicek kualitasnya, ayam misalnya, ahli gizi bisa menentukan apakah ayam itu langsung direbus, atau disimpan di dalam chiller dengan suhu di bawah 5 derajad. 

Nanik menekankan pentingnya para Pengawas Gizi dan Jurutama Masak untuk benar-benar memahami petunjuk teknis pemakaian alat dan cara penanganan bahan makanan itu. “Ada di Magelang, (ayam itu) disimpan di chiller dengan suhu 19 derajad. Rak edan. Ini sama dengan mengungkep ayam mentah. Akibatnya salmonella datang dan terjadilah keracunan di Magelang, 200 orang teler,” ujarnya.  

Situasi lebih menyedihkan terjadi di salah satu SPPG di Boyolali yang pekan lalu mengalami insiden keamanan pangan. Sebab, Mitra SPPG ternyata hanya menyediakan chiller bekas, dan kulkas bekas dalam kondisi bermasalah. Karena itu Nanik berpesan kepada Chef yang lebih memahami kondisi alat, untuk memberitahu Kepala SPPG agar segera meminta alat pengganti kepada Mitra. Sebab, Mitra-lah yang bertanggung jawab untuk menyediakan peralatan dapur yang baru, dan berkualitas. Mitra yang tidak mau memperbarui peralatan dapur akan disuspend, sampai mereka memenuhi kewajibannya.

“Kalau alat-alat rusak, Chef saya minta, tolong beritahu bahwa alat yang tidak layak dipakai. Jangan dipaksakan. Minta! Karena kita sewa. Kalau ada alat rusak, harus Mitra yang ganti. Peralatan minta yang bagus, seperti apa di juknisya. Jangan kayak di Boyolali, chillernya bekas, kulkasnya bekas, semuanya bekas. Ini kan kurang ajar. Dia terima 6 juta sehari tapi barang bekas ditaruh,” kata Nanik.##



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya