Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Makan Bergizi Gratis, Langkah Awal Menuju Generasi Sehat

Haryanto Mega
22/11/2025 21:20
Makan Bergizi Gratis, Langkah Awal Menuju Generasi Sehat
Ahli gizi mengecek suhu makanan menggunakan termometer masak digital saat pemorsian contoh menu makan bergizi gratis (MBG) pada makanan khas nasi megono di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polres Batang di Kabupaten Batang, Jawa Tengah.(ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra)

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) terus diperluas sebagai upaya pemerintah membangun generasi yang sehat menuju Indonesia Emas 2045. Melalui penyediaan makanan bergizi untuk anak sekolah dan kelompok rentan, program ini tidak hanya membantu pemenuhan gizi harian, tetapi juga memperkuat fondasi kesehatan jangka panjang.

Direktur Badan Gizi Nasional (BGN), Dr. Taufiq Wibisono, menyebut MBG sebagai investasi jangka panjang bangsa.

“Anak yang mendapat gizi cukup hari ini akan tumbuh lebih cerdas dan produktif di masa depan. Ini langkah awal menuju generasi kuat,” ujarnya.

Secara nasional, data SPPG mencatat lebih dari 1,2 juta penerima manfaat telah terlayani, termasuk anak sekolah, lansia, dan warga rentan. Menu MBG disusun sesuai standar gizi seimbang oleh ahli gizi, mencakup karbohidrat, protein, sayur, dan buah.

Di daerah, sekolah mulai merasakan dampaknya. Kepala SDN di Semarang, Rudi Santoso, mengungkapkan adanya peningkatan fokus belajar siswa.

“Mereka datang ke kelas dalam kondisi lebih siap. Itu perubahan besar,” katanya.

Program ini juga menggerakkan ekonomi lokal. Banyak UMKM dan petani daerah kini terlibat dalam rantai pasok. Pemilik UMKM katering, Mawar Kusuma, mengaku pesanan meningkat signifikan sejak menjalin kerja sama dengan MBG.

Meski terdapat beberapa catatan kecil terkait distribusi, pemerintah daerah memastikan perbaikan terus dilakukan.

“Yang penting kualitas makanan tetap terjaga,” ujar seorang pejabat Pemda Semarang.

Untuk memperkuat kualitas layanan, Pemerintah Kota Semarang bersama BGN, SPPG, sekolah, dan UMKM pangan lokal menggelar Monitoring Bersama Gizi secara daring. Kegiatan ini diikuti ratusan peserta dari berbagai kecamatan.

Pemkot menegaskan komitmen memperluas cakupan program gizi terpadu yang tahun ini menyasar lebih dari 42.000 anak PAUD dan SD.

Perwakilan BGN menyampaikan bahwa secara nasional SPPG telah menjangkau lebih dari 1,2 juta penerima manfaat, dengan sekitar 18.500 di antaranya berada di Kota Semarang.

Menurut BGN, implementasi MBG di Semarang menunjukkan tren positif, meski masih ditemukan catatan seperti keterlambatan pembaruan data sekolah dan perlunya penguatan koordinasi dengan UMKM penyedia pangan.

“Kritik-kritik kecil ini bersifat konstruktif. Justru menjadi energi untuk meningkatkan kualitas pendampingan gizi di lapangan,” ujar perwakilan BGN.

SPPG Kota Semarang mencatat 325 pendamping aktif yang bekerja di seluruh kecamatan. Sebanyak 86% sekolah dampingan sudah melakukan penimbangan bulanan secara rutin. Edukasi kepada orang tua juga terbukti meningkatkan pemahaman mengenai Isi Piringku hingga 30% di wilayah seperti Tembalang, Banyumanik, dan Gayamsari.

Tantangan yang masih terlihat mencakup ketersediaan alat ukur standar serta kemampuan pencatatan digital di sejumlah sekolah. Namun, partisipasi guru dan orang tua terus meningkat.

Pihak sekolah juga menilai program MBG turut mendorong peningkatan kapasitas guru dalam pengukuran antropometri dan implementasi kantin sehat. Mereka berharap dukungan alat ukur tambahan dan pelatihan lanjutan dapat diprioritaskan.

Dari sisi ekonomi, 27 UMKM telah mendapatkan pelatihan keamanan pangan dasar dan 12 UMKM menjadi pemasok makanan sehat ke sekolah. UMKM mengakui tantangan terkait sertifikasi lanjutan dan kapasitas produksi, namun menyatakan kesiapannya mendukung program.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor sebagai kunci keberhasilan.

“Kita ingin anak-anak Semarang bukan hanya tumbuh, tetapi tumbuh sehat, aktif, dan berdaya. Program MBG ini membantu memastikan setiap langkah kita berada di jalur yang tepat,” ujarnya.

Kegiatan MBG menegaskan bahwa perbaikan gizi di Kota Semarang merupakan gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, ahli gizi, sekolah, UMKM, dan masyarakat. Dengan sinergi yang semakin kuat, Semarang diharapkan menjadi salah satu kota percontohan dalam perbaikan gizi berbasis komunitas dan data. (Adv)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya