Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
TANTANGAN ruang digital bagi anak-anak di Indonesia kini telah bergeser dari sekadar konten negatif menuju ancaman yang bersifat personal dan sulit terdeteksi.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Boni Pudjianto, menekankan bahwa peran orangtua kini menjadi garda terdepan dalam menjaga keamanan anak di dunia maya.
Boni mengingatkan bahwa internet bukanlah ruang yang sepenuhnya aman bagi tumbuh kembang anak.
Ia mengibaratkan bahwa dunia digital saat ini tidaklah bersih seperti kertas putih, melainkan penuh dengan risiko yang mampu merusak psikologis hingga ancaman kejahatan fisik.
"Ranah digital atau internet itu tidak bersih seperti kertas putih. Ada kejahatan yang berdampak pada psikologis anak, bahkan kejahatan seksual berbasis online. Ini nyata dan tugas kita bersama untuk menguranginya," ujar Boni dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (4/2).
Berdasarkan data yang ada, urgensi perlindungan ini sangat mendesak mengingat sekitar 48% pengguna internet di Indonesia, atau sekitar 110 juta jiwa, adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun.
Besarnya angka ini menuntut pengawasan yang lebih sistematis dan regulasi yang tegas.
Sebagai langkah konkret, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik Dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS). Aturan ini secara spesifik mengatur batasan usia pengguna media sosial.
"Anak di bawah 13 tahun tidak diperkenankan memiliki akun. Anak usia 13 hingga 18 diatur secara ketat dalam kepemilikan dan penggunaan akun. Oleh sebab itu orang tua harus tegas mengawasi agar anak tidak memiliki akun sebelum mereka benar-benar siap dan matang secara usia," tegas Boni.
Meskipun Kemkomdigi terus berupaya memblokir konten negatif seperti judi online, pornografi, dan pinjaman online ilegal, Boni mengakui adanya tantangan besar pada kejahatan personal seperti child grooming.
Berbeda dengan konten platform yang bisa langsung diturunkan (takedown), child grooming terjadi melalui interaksi pribadi yang intens sehingga sulit terdeteksi oleh sistem otomatis.
"Kejahatan yang berbasis platform digital lebih mudah kami takedown. Namun, untuk pendekatan yang bersifat individual dan personal, memerlukan bantuan pengawasan orang tua serta guru sebagai kunci utama dalam menjaga anak-anak kita," tambahnya.
Sebagai langkah preventif jangka panjang, Kemkomdigi gencar mensosialisasikan konsep literasi digital CABE, yang meliputi empat pilar utama: Cakap digital, Aman digital, Budaya digital, dan Etika digital.
Program ini diharapkan dapat menjadi imunisasi mental bagi anak-anak agar memiliki ketahanan diri saat berinteraksi di ruang siber, sehingga mereka tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga konsumen informasi yang cerdas dan waspada. (Ant/Z-1)
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Kelengkapan imunisasi sesuai usia merupakan benteng terkuat bagi anak.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Data menunjukkan sekitar 30% bayi mengalami gumoh, dengan puncak frekuensi pada usia 3 hingga 4 bulan.
Pemerintah mengingatkan orangtua agar tidak melepas anak-anak ke dunia maya tanpa bekal pemahaman yang cukup mengenai konten yang mereka konsumsi beserta konsekuensinya.
Ancaman utama dari Virus Nipah terletak pada angka kematiannya yang sangat tinggi, yakni mencapai 75%.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved