Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
KASUS pelecehan dan eksploitasi seksual terhadap anak yang kian marak menjadi alarm keras bagi orangtua dan pemerintah. Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Kasandra Putranto, menekankan pentingnya pemahaman mendalam mengenai child grooming sebagai langkah preventif utama dalam melindungi buah hati.
Kasandra menjelaskan bahwa child grooming adalah proses manipulatif ketika pelaku, biasanya orang dewasa, membangun hubungan emosional dengan seorang anak. Tujuannya sangat spesifik dan berbahaya: mengeksploitasi anak tersebut secara seksual.
“Child grooming dapat terjadi melalui berbagai cara, termasuk interaksi langsung di lingkungan sosial, sekolah, atau melalui platform online seperti media sosial dan gim. Pelaku sering kali membangun hubungan emosional dengan anak untuk mendapatkan kepercayaan mereka,” ujar Kasandra, dikutip Kamis (15/1).
Proses ini sering kali berjalan sangat halus. Kasandra memaparkan bahwa pelaku melibatkan taktik penipuan dan penguasaan untuk mendapatkan kepercayaan, tidak hanya dari sang anak, tetapi juga dari orangtua korban. Dengan memenangkan hati lingkungan terdekat, pelaku dapat lebih leluasa melakukan tindakan pelecehan tanpa dicurigai.
Untuk menangkal hal ini, Kasandra membagikan sejumlah kiat bagi orangtua. Langkah pertama adalah membangun komunikasi terbuka. Orangtua harus menciptakan suasana yang membuat anak merasa nyaman berbagi pengalaman dan perasaan mereka tanpa rasa takut.
“Ajarkan anak tentang perilaku yang dapat membahayakan dirinya dan pentingnya berbagi informasi tentang barang atau pemberian dari orang lain kepada orangtua. Pentingnya mengatakan ‘tidak’ jika merasa tidak nyaman,” tambahnya.
Selain komunikasi, pendampingan aktif menjadi kunci. Kasandra menyarankan orangtua untuk melakukan role play atau bermain peran guna melatih anak memahami situasi berisiko dan mengambil keputusan yang tepat.
Orangtua juga diimbau memantau penggunaan media sosial serta mengajarkan konsep privasi digital.
Edukasi seksual yang tepat sesuai usia juga tidak boleh dianggap tabu. Kasandra menyarankan edukasi ini dimulai secara intensif terutama sejak usia 12 tahun untuk membantu anak memahami batasan tubuh dan risiko yang ada.
“Dorong diskusi terbuka tentang kejahatan seksual dan bagaimana cara melindungi diri, sehingga anak merasa lebih siap menghadapi situasi berisiko,” jelasnya.
Di sisi lain, Kasandra mengapresiasi langkah pemerintah yang terus memperkuat regulasi hukum dan sanksi tegas bagi pelaku pedofilia. Namun, ia mengingatkan bahwa aspek psikologis korban tetap harus menjadi prioritas utama.
“Korban pelecehan memerlukan dukungan psikologis untuk membantu mereka pulih dari trauma. Layanan konseling dan terapi harus tersedia secara luas bagi anak-anak yang menjadi korban,” tegas Kasandra.
Ia menutup dengan pesan bahwa kesadaran akan hak anak dan perlindungan hukum harus diperkenalkan sedini mungkin, baik di rumah maupun di lingkungan sekolah, guna menciptakan ruang gerak yang aman bagi generasi mendatang. (Ant/Z-1)
Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan isu sektoral semata, melainkan persoalan kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Orangtua perlu membedakan penggunaan gawai untuk kebutuhan produktif dan hiburan.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Data menunjukkan sekitar 30% bayi mengalami gumoh, dengan puncak frekuensi pada usia 3 hingga 4 bulan.
Pemerintah mengingatkan orangtua agar tidak melepas anak-anak ke dunia maya tanpa bekal pemahaman yang cukup mengenai konten yang mereka konsumsi beserta konsekuensinya.
Tantangan ruang digital bagi anak-anak di Indonesia kini telah bergeser dari sekadar konten negatif menuju ancaman yang bersifat personal dan sulit terdeteksi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved