Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
GERAKAN Tutup Mulut (GTM) pada anak masih menjadi tantangan besar bagi orangtua dalam memenuhi kebutuhan gizi di masa awal pertumbuhan. Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele karena berdampak langsung pada kecukupan zat gizi penting, terutama zat besi yang krusial bagi tumbuh kembang anak.
Dokter spesialis anak, dr. Centaura Naila Alfin Camielle, Sp.A, M.Biomed, menjelaskan bahwa kebutuhan gizi bayi dan balita sangat tinggi, sementara kapasitas lambung mereka masih sangat terbatas. Hal inilah yang membuat pemilihan jenis makanan menjadi sangat vital.
“Untuk memenuhi kebutuhan zat besi harian saja, bayi membutuhkan asupan yang cukup besar, setara dengan 11 potong daging ayam. Karena itu, orang tua perlu memastikan makanan yang diberikan padat gizi dan anak mau mengonsumsinya,” ujar Centaura.
Senada dengan hal tersebut, dokter spesialis anak dr. Ayuca Zarry, Sp.A, menyoroti bahwa minat makan anak sangat dipengaruhi oleh pengalaman sensorik, termasuk variasi rasa dan aroma. Pengolahan MPASI yang kreatif dianggap mampu meningkatkan antusiasme anak dalam makan.

“MPASI yang dikreasikan dengan variasi rasa dan aroma yang menggugah selera akan membuat anak lebih antusias makan, sehingga kebutuhan gizinya lebih mudah terpenuhi,” jelas Ayuca.
Penggunaan bumbu alami seperti bawang merah, bawang putih, dan daun jeruk dapat memberikan aroma alami yang merangsang nafsu makan.
Menjawab tantangan GTM, program Gerakan Lahap Makan SUN kembali dilanjutkan pada 2026. Program ini bertujuan membekali para ibu dengan panduan praktis melalui tiga metode utama: pemberian makan saat anak lapar dan tidak mengantuk, variasi rasa dan tekstur sesuai usia, serta teknik pemberian makan yang tepat.
Rangkaian kegiatan tahun ini diawali di Kota Malang dan Bogor, sebelum nantinya diperluas ke 100 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia. Program ini melibatkan kolaborasi antara dokter anak, kader PKK, dan kader Posyandu sebagai Duta Lahap Makan.
Etyk Hartuti, Manager Indofood Nutrition and Special Foods Division PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, menekankan bahwa GTM adalah kondisi berulang yang membutuhkan solusi aplikatif.
“Melalui Gerakan Lahap Makan, kami ingin hadir sebagai sahabat bagi para ibu untuk belajar bersama, saling berbagi, dan menemukan solusi yang bisa diterapkan untuk mendukung pemenuhan gizi anak,” ungkap Etyk.
Dalam implementasinya, para Duta Lahap Makan juga memberikan edukasi praktik, seperti demo masak MPASI berbasis pangan lokal. Perwakilan Duta Lahap Makan Bogor, Hj. Aas Kusdianawati, mencontohkan pembuatan Bubur Ayam Spesial yang diperkaya rempah.
“Jangan lupa untuk mengombinasikan bahan pangan lokal yang mudah didapat, seperti talas, bayam, dan ayam, dengan SUN sehingga MPASI menjadi lebih lezat dan bernutrisi,” pesannya.
Sebagai inovasi, SUN juga menghadirkan rangkaian produk "Cinta Rasa Indonesia" dengan cita rasa Nusantara seperti Liwet Ayam Kampung, Soto Ayam, dan Opor Ayam yang diperkaya dengan Esenutri untuk mendukung tumbuh kembang optimal anak. (Z-1)
Kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia dinilai masih berisiko tertinggal dari rata-rata dunia dan dapat menjadi ancaman serius di masa depan.
Orangtua diminta lebih peka terhadap penyebab anak melakukan gerakan tutup mulut dan mencari solusi yang tepat.
Alyssa Soebandono bercerita ketika mulai memberi MPASI pada anak sulungnya, Ariendra, ia dan Dude Herlino sudah terlebih dahulu panik karena tidak mengerti apa penyebab munculnya GTM.
Gerakan Tutup Mulut (GTM) pada anak merupakan fenomena yang kerap memicu kekhawatiran di kalangan orang tua, khususnya ibu.
Gemas sama anak orang boleh, tapi jangan main cium, pegang, apalagi asal suapin. Kita gak tau kuman apa yang nempel di tangan kita.
Penguatan pelayanan kesehatan primer, terutama Puskesmas dan Posyandu, harus menjadi prioritas dalam strategi nasional penanganan kesehatan mental anak.
Pemerintah mengajak para orangtua untuk kembali menghadirkan waktu berkualitas di rumah melalui gerakan #SatuJamBerkualitas Bersama Keluarga.
Tingginya mobilitas masyarakat, terutama pada momen libur lebaran, menjadi salah satu faktor risiko yang patut diwaspadai orangtua mengenai risiko campak pada anak.
Waktu ideal untuk pemberian vaksinasi adalah minimal 14 hari atau dua pekan sebelum keberangkatan guna memastikan perlindungan optimal selama liburan.
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved