Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
PENDEKATAN jangka pendek dalam menangani bencana banjir dinilai sudah tidak lagi memadai di tengah kepungan perubahan iklim. Diperlukan reformasi tata kelola air yang permanen dan terintegrasi untuk menghadapi lonjakan curah hujan ekstrem, kenaikan muka air laut, serta fenomena amblesan tanah.
Pakar Geologi Lingkungan dan Kebencanaan sekaligus Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) periode 2017-2025, Dwikorita Karnawati, menegaskan bahwa penataan ulang sistem tata kelola air harus menjadi fondasi utama kebijakan pemerintah.
"Solusi yang lebih permanen dalam mengatasi atau mencegah banjir direkomendasikan dengan langkah menata ulang sistem tata kelola air," ujar Dwikorita saat dihubungi, Jumat (23/1).
Lompatan Kapasitas
Dwikorita menjelaskan, peningkatan kapasitas sistem pengelolaan air tidak bisa lagi dilakukan secara bertahap atau konvensional. Dibutuhkan lompatan signifikan yang mengintegrasikan pendekatan berbasis alam (nature-based solutions), pembangunan infrastruktur, serta aspek sosial-budaya.
Langkah krusial untuk mengembalikan fungsi ekosistem mencakup penghutanan kembali kawasan konservasi, pemulihan daerah resapan air, hingga naturalisasi sungai.
Menurutnya, pembenahan ini harus sejalan dengan penataan ulang tata ruang wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berlandaskan prinsip kelestarian lingkungan.
"Edukasi dan literasi terkait pentingnya menjaga kelestarian lingkungan untuk pencegahan atau mitigasi bencana banjir," tambahnya.
Konsistensi Regulasi
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya penegakan hukum dalam tata ruang. Penegakan regulasi tata ruang lestari harus dilakukan secara konsisten guna mencegah pelanggaran yang selama ini memperparah risiko banjir di berbagai wilayah.
Dwikorita menilai, dengan pendekatan menyeluruh dari hulu ke hilir—mulai dari teknis tata kelola air hingga peningkatan literasi publik—Indonesia akan memiliki ketahanan jangka panjang dalam menghadapi ancaman banjir yang kian kompleks. Perubahan perilaku masyarakat diharapkan berjalan seiring dengan pembenahan kebijakan dan infrastruktur yang dilakukan pemerintah. (Mir/P-2)
BMKG menyebut cuaca hari ini, Rabu, 25 Maret 2026 dan beberapa hari ke depan di sejumlah wilayah Indonesia diperkirakan akan mengalami peningkatan intensitas.
"Perubahan cuaca yang cepat juga perlu menjadi perhatian dalam merencanakan perjalanan darat, laut, dan udara, termasuk aktivitas luar ruang seperti ibadah dan wisata."
IDAI peringatkan risiko KLB Campak saat mudik 2026. Simak tips dr. Piprim Basarah agar anak tetap sehat dan daftar obat wajib di kotak P3K.
Hadapi cuaca panas ekstrem di Jakarta, Pemprov DKI imbau warga lakukan langkah pencegahan. Simak panduan kesehatan dan instruksi Gubernur Pramono Anung di sini.
Cuaca ekstrem di Jawa Tengah sudah mulai mereda pada Rabu (18/3), namun di banyak daerah masih berpeluang diguyur hujan ringan-sedang terutama di jalur mudik.
Libur Lebaran, DPRD DIY Ingatkan Kewaspadaan terhadap Potensi Cuaca Ekstrem
Prioritas penanganan difokuskan pada Sungai CBL dan Sungai Ciherang karena peran vital keduanya dalam mengendalikan debit air di wilayah hilir, terutama kawasan permukiman padat penduduk.
Mengapa Jakarta selalu banjir? Simak analisis geologis mendalam mengenai land subsidence, kondisi tanah aluvial, dan tantangan geografis ibu kota.
Pemprov DKI melakukan mitigasi untuk menghadapi potensi cuaca ekstrem, mulai dari pemantauan intensif BMKG hingga kesiapan infrastruktur pengendali banjir
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).ota Malang mulai melakukan pemetaan wilayah rawan banjir sebagai upaya memperkuat mitigasi bencana
Upaya mitigasi dilakukan secara menyeluruh mulai dari penyiagaan pompa, pengerukan badan air, hingga optimalisasi sistem drainase dan waduk.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved