Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Bukan Sekadar Hujan, Inilah Alasan Geologis Mengapa Jakarta Sulit Lepas dari Banjir

Irvan Sihombing
12/1/2026 14:02
Bukan Sekadar Hujan, Inilah Alasan Geologis Mengapa Jakarta Sulit Lepas dari Banjir
Ilustrasi(ANTARA/Siti Nurhaliza)

Jakarta dan banjir adalah dua hal yang seolah tak terpisahkan dalam narasi perkotaan Indonesia. Namun, narasi yang berkembang sering kali hanya menyentuh permukaan, seperti masalah sampah atau pompa yang mati. Secara geologis, Jakarta berdiri di atas fondasi yang memang rawan terhadap genangan. Memahami anatomi tanah Jakarta adalah langkah pertama untuk menyadari bahwa solusi banjir tidak bisa hanya sekadar jangka pendek.

Kondisi Geografis: Berdiri di Atas Kipas Aluvial

Secara geologis, Jakarta berdiri di atas dataran aluvial pantai utara Jawa yang tersusun dari endapan sungai (fluvial) dan laut (marin) berusia Kuarter. Lapisan tanah ini didominasi sedimen lunak seperti lempung, lanau, dan pasir, yang secara alami bersifat mudah memadat dan rentan mengalami penurunan muka tanah.

Karakteristik tanah sedimen ini secara alami memiliki sifat kompresibilitas yang tinggi—artinya, tanah ini mudah memadat dan turun. Ketika beban bangunan di atasnya meningkat dan pengambilan air tanah dilakukan secara masif, proses pemadatan ini melaju jauh lebih cepat dari proses alami.

Land Subsidence: Ancaman Nyata di Bawah Kaki

Salah satu alasan geologis utama mengapa banjir Jakarta semakin parah adalah land subsidence atau penurunan muka tanah. Data dari berbagai lembaga riset menunjukkan bahwa beberapa wilayah di Jakarta Utara mengalami penurunan hingga 10-25 centimeter per tahun. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata kenaikan permukaan air laut global yang hanya sekitar 0,3 centimeter per tahun.

Penurunan ini menyebabkan wilayah Jakarta berubah menjadi menyerupai "mangkuk". Area yang dulunya berada di atas permukaan laut, kini berada di bawahnya. Hal ini membuat air hujan tidak bisa mengalir secara gravitasi ke laut, melainkan harus dipompa keluar—sebuah sistem yang sangat bergantung pada teknologi dan energi.

Beban 13 Sungai Lintas Provinsi

Jakarta secara alami adalah muara bagi 13 sungai besar, termasuk Ciliwung, Pesanggrahan, dan Angke. Seluruh sungai ini membawa air dari hulu di wilayah Jawa Barat menuju Laut Jawa melalui Jakarta. Masalah geologis muncul karena kemiringan lereng di Jakarta sangat landai (hampir datar), sehingga kecepatan aliran air melambat drastis saat memasuki wilayah kota. Akibatnya, sedimentasi meningkat, dasar sungai mendangkal, dan kapasitas tampung air berkurang secara alami.

People Also Ask: Memahami Banjir Jakarta Lebih Dalam

Mengapa Jakarta sering banjir padahal tidak hujan di kota?

Ini dikenal sebagai "banjir kiriman". Karena posisi geografis Jakarta yang berada di dataran rendah di bawah kaki pegunungan, hujan deras di wilayah hulu (Bogor dan Puncak) akan mengalir ke bawah menuju Jakarta melalui 13 sungai utama. Jika kapasitas sungai melampaui batas, air akan meluap meski di Jakarta cuaca sedang cerah.

Apa perbedaan banjir rob dan banjir lokal?

Banjir lokal disebabkan oleh curah hujan tinggi di wilayah Jakarta yang tidak mampu diserap tanah atau dialirkan oleh drainase. Sedangkan banjir rob terjadi karena kenaikan muka air laut atau pasang laut yang masuk ke daratan, diperparah oleh kondisi tanah Jakarta yang sudah turun di bawah permukaan laut.

Apakah pemindahan ibu kota ke IKN menyelesaikan banjir Jakarta?

Pemindahan ibu kota dapat mengurangi beban pembangunan dan konsumsi air tanah oleh gedung-gedung pemerintahan, namun tidak secara otomatis menghentikan fenomena geologis yang sudah terjadi. Jakarta tetap membutuhkan investasi besar dalam infrastruktur pengendali banjir seperti tanggul laut dan waduk retensi.

Analisis Celah (Gap Analysis): Poin yang Sering Terlewatkan

Krisis akuifer dalam menjadi salah satu faktor geologis utama penurunan muka tanah di Jakarta. Pengambilan air tanah dalam secara masif menyebabkan penurunan tekanan pori di dalam lapisan sedimen. Ketika tekanan air berkurang, butiran-butiran sedimen saling mendekat dan mengalami kompaksi permanen. Proses ini bersifat tidak dapat dipulihkan (irreversible) pada skala waktu manusia, sehingga meskipun pengambilan air tanah dihentikan, permukaan tanah yang telah turun tidak dapat kembali ke kondisi semula. Solusi banjir Jakarta bukan hanya soal mengalirkan air, tapi soal menghentikan ekstraksi air tanah dan melakukan recharges (pengisian kembali) melalui sumur resapan dalam.

Checklist Mitigasi Banjir untuk Warga Jakarta

  • Pantau Tinggi Muka Air: Gunakan aplikasi seperti Pantaubanjir atau ikuti akun resmi BPBD DKI Jakarta.
  • Siapkan Tas Siaga Bencana: Berisi dokumen penting (bungkus plastik), obat-obatan, senter, dan powerbank.
  • Instalasi Biopori & Sumur Resapan: Upayakan setiap rumah memiliki lubang resapan untuk membantu tanah menyerap air lokal.
  • Evaluasi Instalasi Listrik: Pastikan panel listrik berada di posisi tinggi untuk menghindari korsleting saat genangan masuk ke rumah.
  • Asuransi Properti: Pertimbangkan asuransi yang mencakup klausul bencana banjir untuk perlindungan finansial jangka panjang.

Kesimpulannya, banjir Jakarta adalah hasil pertemuan antara kondisi geologis yang rentan, perubahan iklim, dan aktivitas manusia. Tanpa intervensi yang menyentuh akar masalah geologis—terutama penghentian penurunan muka tanah—Jakarta akan terus berpacu dengan waktu melawan air.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya