Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Bukan Sekadar Refleks, Ekspresi Wajah Ternyata Direncanakan Secara Matang oleh Otak

Thalatie K Yani
20/1/2026 10:57
Bukan Sekadar Refleks, Ekspresi Wajah Ternyata Direncanakan Secara Matang oleh Otak
Penelitian terbaru mengungkap ekspresi wajah primata dan manusia adalah tindakan terencana, bukan sekadar respons emosional otomatis. (freepik)

SELAMA ini, banyak ilmuwan meyakini ekspresi wajah hanyalah reaksi emosional otomatis. Senyum atau kerutan dahi dianggap sebagai cermin langsung dari apa yang dirasakan seseorang di dalam hati, sebuah refleks cepat yang terjadi tanpa keterlibatan area otak yang lebih tinggi untuk berpikir atau merencana.

Namun, penelitian terbaru dari Nottingham Trent University dan The Rockefeller University mengungkap fakta yang mengejutkan. Ekspresi wajah ternyata jauh lebih terorganisir dan terencana daripada yang diperkirakan sebelumnya. Otak manusia dan primata memainkan peran aktif dalam membentuk ekspresi tersebut, bahkan sebelum otot wajah mulai bergerak.

Satu Sistem Otak yang Terpadu

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science ini mengamati perilaku monyet makaka dalam interaksi sosial alami. Alih-alih melatih subjek untuk membuat gerakan tertentu, para ilmuwan membiarkan mereka berperilaku bebas sambil merekam aktivitas di beberapa area korteks otak.

Hasilnya mematahkan teori lama yang membagi gerakan wajah menjadi dua kategori: emosional (otomatis) dan sukarela (terkontrol). Studi ini menemukan semua wilayah otak yang diamati, baik yang terkait dengan gerakan, sensasi, perencanaan, maupun motivasi, terlibat dalam menghasilkan setiap jenis gerakan wajah. Tidak ada pemisahan sistem antara ekspresi spontan dan ekspresi yang disengaja.

Perencanaan Sebelum Beraksi

Temuan paling signifikan berkaitan dengan waktu (timing). Otak menunjukkan pola aktivitas yang jelas sebelum gerakan wajah dimulai. Pola awal ini bervariasi tergantung pada ekspresi apa yang akan ditampilkan.

Artinya, otak memutuskan ekspresi apa yang paling tepat berdasarkan konteks sosial sebelum wajah bereaksi. Bahkan ekspresi yang terasa spontan sekalipun sebenarnya telah "disiapkan" oleh otak dengan mempertimbangkan siapa yang hadir, apa yang baru saja terjadi, dan respons sosial apa yang paling masuk akal.

"Otak berencana terlebih dahulu, barulah wajah mengikuti," ungkap laporan tersebut. Hal inilah yang menjelaskan mengapa sebuah senyuman bisa bermakna sangat berbeda, mulai dari senyum tulus, gugup, hingga sarkastik, tergantung pada situasinya.

Potensi Terapi di Masa Depan

Pemahaman bahwa ekspresi wajah adalah tindakan yang disengaja dan didorong konteks memiliki implikasi praktis yang besar, terutama dalam bidang medis. Banyak kondisi neurologis yang memengaruhi gerakan dan ekspresi wajah seseorang.

Dengan memahami cara otak merencanakan dan mengendalikan gerak wajah, ilmuwan berharap dapat mengembangkan terapi baru atau teknologi asisten. Di masa depan, alat komunikasi berbasis otak mungkin dapat membantu orang-orang dengan kelumpuhan otot wajah untuk tetap bisa mengekspresikan niat dan emosi mereka secara efektif.

Penelitian ini menegaskan wajah kita bukanlah sekadar monitor emosi yang pasif, melainkan alat aktif yang digunakan otak untuk menavigasi kehidupan sosial yang kompleks dengan penuh makna. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya