Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Gelombang Alfa Otak, Kunci Rahasia Mengapa Kita Merasa Memiliki Tubuh Sendiri

Thalatie K Yani
15/1/2026 11:32
Gelombang Alfa Otak, Kunci Rahasia Mengapa Kita Merasa Memiliki Tubuh Sendiri
Ilustrasi(freepik)

PERNAHKAH Anda bertanya-tanya bagaimana otak Anda begitu yakin tangan yang Anda gerakkan adalah milik Anda sendiri? Meski terasa otomatis, otak sebenarnya bekerja keras memproses informasi sensorik untuk menjaga perasaan stabil terhadap diri sendiri. Sebuah studi terbaru dari Karolinska Institutet yang diterbitkan dalam Nature Communications berhasil mengungkap peran krusial gelombang otak alfa dalam proses ini.

Penelitian ini menunjukkan osilasi alfa, ritme aktivitas listrik di otak, membantu memisahkan tubuh kita dari dunia luar. Kecepatan ritme ini menentukan seberapa presisi otak mencocokkan apa yang kita lihat dengan apa yang kita rasakan secara fisik.

Eksperimen "Tangan Karet" dan Frekuensi Otak

Melibatkan 106 partisipan, tim peneliti menggunakan kombinasi eksperimen perilaku, rekaman otak (EEG), hingga stimulasi otak elektrik. Salah satu metode yang digunakan adalah rubber hand illusion (ilusi tangan karet). Dalam eksperimen ini, sebuah tangan palsu diletakkan di depan partisipan sementara tangan asli mereka disembunyikan.

Ketika tangan palsu dan tangan asli disentuh secara bersamaan, otak sering kali "tertipu" dan mulai merasa  tangan karet tersebut adalah bagian dari tubuhnya. Hasil studi menemukan orang dengan frekuensi gelombang alfa yang lebih cepat memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi. Mereka lebih peka dalam mendeteksi perbedaan waktu sekecil apa pun antara apa yang dilihat dan dirasakan, sehingga memiliki batasan diri yang lebih tegas.

"Kami telah mengidentifikasi proses dasar otak yang membentuk pengalaman berkelanjutan kita tentang tubuh," jelas Mariano D'Angelo, penulis utama sekaligus peneliti di Departemen Ilmu Saraf, Karolinska Institutet. "Temuan ini dapat memberikan wawasan baru mengenai kondisi kejiwaan seperti skizofrenia, di mana rasa akan diri sering kali terganggu."

Batasan Antara Diri dan Lingkungan

Sebaliknya, partisipan dengan frekuensi alfa yang lebih lambat memiliki apa yang disebut peneliti sebagai 'jendela pengikat temporal' yang lebih lebar. Artinya, otak mereka cenderung menganggap sinyal visual dan sentuhan terjadi bersamaan meskipun sebenarnya sedikit tidak sinkron. Presisi waktu yang rendah ini membuat batas antara tubuh dan lingkungan sekitar menjadi lebih kabur.

Menariknya, peneliti mencoba mengubah kecepatan ritme alfa partisipan menggunakan stimulasi listrik non-invasif. Hasilnya, perubahan frekuensi tersebut secara langsung mengubah cara partisipan merasakan kepemilikan tubuh mereka. Hal ini membuktikan bahwa gelombang alfa bertindak sebagai pengatur waktu yang membentuk persepsi diri.

Manfaat untuk Masa Depan Prostetik dan VR

Penelitian ini tidak hanya penting untuk memahami fungsi dasar saraf manusia, tetapi juga memiliki aplikasi praktis yang luas. Dengan memahami bagaimana otak mengintegrasikan sinyal tubuh, ilmuwan dapat merancang teknologi yang lebih baik.

"Temuan kami membantu menjelaskan bagaimana otak menyelesaikan tantangan dalam mengintegrasikan sinyal dari tubuh untuk menciptakan rasa diri yang koheren," kata Henrik Ehrsson, profesor di Karolinska Institutet. "Ini dapat berkontribusi pada pengembangan anggota tubuh prostetik yang lebih baik dan pengalaman realitas virtual (VR) yang lebih realistis." (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya