Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Persiapan Fisik Tiga Bulan Sebelum Haji: Kunci Kebugaran Jemaah di Tanah Suci

Basuki Eka Purnama
16/1/2026 11:45
Persiapan Fisik Tiga Bulan Sebelum Haji: Kunci Kebugaran Jemaah di Tanah Suci
Ilustrasi(ANTARA/Mohammad Ayudha)

KEMENTERIAN Kesehatan, melalui Pusat Kesehatan Haji, mengimbau para jemaah haji yang telah dinyatakan sehat dan melunasi biaya perjalanan untuk segera memulai pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Langkah ini sangat krusial dilakukan setidaknya tiga bulan sebelum jadwal keberangkatan, yang direncanakan pada April mendatang.

Kepala Pusat Kesehatan Haji (Kapuskes Haji) Kemenkes, Liliek Marhaendro Susilo, menekankan bahwa kebugaran fisik tidak bisa didapatkan secara instan. 

Jemaah diharapkan mulai membangun kebiasaan positif sejak dini untuk menghadapi perbedaan iklim dan aktivitas fisik yang berat di Arab Saudi.

Membangun Fondasi Kebugaran di Tanah Air

Dalam masa persiapan, jemaah disarankan untuk disiplin menjaga asupan nutrisi dan aktivitas fisik. Liliek menyarankan agar jemaah mengonsumsi makanan bergizi seimbang dalam jumlah cukup serta menjaga kebersihan tangan sebelum makan.

“Memperbanyak aktivitas fisik seperti berolah raga ringan setiap hari minimal 30 menit per hari, berjalan kaki ke masjid untuk mendirikan salat fardhu berjamaah (jika masjidnya relatif dekat dengan rumah), menyapu halaman, dan sebagainya,” ujar Liliek, dikutip Jumat (16/1).

Selain gerak fisik, pola istirahat menjadi perhatian serius. Jemaah diminta untuk menjaga durasi tidur minimal 6 jam sehari dan membiasakan diri tidur tidak lebih dari pukul 22.00. Pola ini diharapkan dapat menguatkan sistem imun sebelum menghadapi puncak ibadah haji.

Strategi Menghadapi Cuaca Ekstrem

Setibanya di Tanah Suci, tantangan utama jemaah adalah suhu udara yang panas. Liliek mengingatkan jemaah agar tetap konsisten menerapkan pola hidup sehat yang telah dibentuk di tanah air. Salah satu poin utamanya adalah efisiensi energi; membatasi aktivitas fisik di luar rangkaian ibadah wajib demi menghindari kelelahan akut.

Untuk menyiasati cuaca panas, jemaah diimbau tidak terlalu sering keluar pondokan pada siang hari. Jika terdapat keperluan mendesak, penggunaan alat pelindung diri menjadi kewajiban.

“Jika ada keperluan mendesak harus keluar dari pondokan di siang hari, jangan lupa menggunakan alat pelindung diri, masker, kacamata hitam, beralas kaki yang nyaman (sedapat mungkin tidak menggunakan sandal jepit untuk berjalan jauh), pelindung kepala, bawa semprotan air dan air minum,” jelasnya.

Pencegahan Dehidrasi dan Manajemen Obat

Risiko dehidrasi menjadi perhatian khusus tim kesehatan. Jemaah diingatkan untuk minum air mineral minimal 200 mililiter per jam atau total dua liter per hari. Prinsipnya, minum dilakukan sedikit demi sedikit setiap 10-15 menit sekali tanpa menunggu rasa haus datang.

Petugas kesehatan di lokasi juga akan bersiaga menyediakan cairan pendukung seperti oralit untuk dikonsumsi sehari sekali guna menjaga keseimbangan elektrolit. Sebagai tambahan, jemaah diperbolehkan mengonsumsi suplemen atau madu untuk menjaga daya tahan tubuh.

Terakhir, bagi jemaah yang memiliki riwayat penyakit tertentu, Liliek memberikan peringatan keras agar tidak mengabaikan jadwal pengobatan rutin. 

Obat-obatan pribadi harus selalu dibawa dan diminum secara teratur, kapan pun dan di mana pun jemaah berada, guna mencegah kekambuhan saat prosesi ibadah berlangsung. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya