Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Peringatan Dini BMKG: Hujan Lebat Meluas Awal 2026 13–19 Januari 2026, Waspadai Dampak Cuaca Ekstrem

Atalya Puspa    
13/1/2026 08:18
Peringatan Dini BMKG: Hujan Lebat Meluas Awal 2026 13–19 Januari 2026, Waspadai Dampak Cuaca Ekstrem
Ilustrasi(ANTARA/SULTHONY HASANUDDIN)

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang meluas di berbagai wilayah Indonesia pada periode 13–19 Januari 2026. Kondisi ini dipicu oleh pertemuan sejumlah faktor dinamika atmosfer, terutama pola konvergensi angin di wilayah Indonesia bagian selatan.

Dalam beberapa hari terakhir, BMKG mencatat hujan dengan intensitas sangat lebat terjadi di sejumlah daerah, antara lain Makassar dengan curah hujan mencapai 126,7 mm per hari, Jawa Barat 129 mm, Nusa Tenggara Timur 126 mm, serta Bali 120 mm. Hujan ringan hingga lebat juga terpantau mendominasi sebagian besar wilayah Tanah Air.

BMKG menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi oleh penguatan Monsun Asia yang disertai peningkatan kecepatan angin dari Laut Cina Selatan menuju selatan melalui Selat Karimata hingga Pulau Jawa. Aliran angin ini memicu terbentuknya daerah konvergensi di sepanjang Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara, yang mendukung pertumbuhan awan hujan intensif.

"Selain itu, keberadaan daerah tekanan rendah di timur Australia turut memodifikasi sirkulasi angin di Indonesia bagian selatan. Pola ini menyebabkan perlambatan massa udara dan memperkuat proses naiknya udara, sehingga meningkatkan potensi hujan lebat di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara," ungkap BMKG dalam keterangan resmi, Selasa (13/1). 

Dalam sepekan ke depan, dinamika atmosfer global, regional, dan lokal masih berperan signifikan. ENSO terpantau berada pada fase negatif atau La Niña lemah yang berpotensi meningkatkan pasokan uap air. Suhu muka laut yang relatif hangat di perairan Indonesia turut memperkuat pembentukan awan hujan.

Aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) diprakirakan aktif melintasi Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, hingga Papua. Kombinasi MJO dengan gelombang Kelvin dan Rossby Ekuator juga terpantau aktif di wilayah Samudra Pasifik hingga Laut Arafura, yang berkontribusi terhadap peningkatan hujan di kawasan timur Indonesia.

BMKG juga memantau bibit siklon 91W di Samudra Pasifik utara Papua dengan kecepatan angin maksimum 15 knot dan tekanan udara minimum 1007 hPa. Daerah konvergensi diprediksi memanjang di sejumlah wilayah, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Pada periode 13–15 Januari 2026, hujan sedang hingga lebat berpotensi terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, hingga Papua. BMKG menetapkan status siaga hujan lebat hingga sangat lebat untuk Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, NTT, dan Papua Pegunungan.

Sementara itu, pada periode 16–19 Januari 2026, hujan lebat berpotensi terjadi di Sumatra Barat, Jawa Timur, NTT, dan Papua Pegunungan. Angin kencang juga berpeluang terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia.

BMKG mengimbau masyarakat dan pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang. Masyarakat diminta berhati-hati dalam merencanakan perjalanan darat, laut, dan udara, serta aktivitas luar ruang.

Informasi cuaca terkini dapat dipantau melalui laman resmi BMKG, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial @infoBMKG. BMKG juga menyediakan layanan Digital Weather for Traffic untuk membantu masyarakat memperoleh informasi cuaca sepanjang rute perjalanan. (H-2)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya