Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Ilmuwan Temukan Rahasia Parasit Giardia yang Mengancam Manusia dan Hewan

Thalatie K Yani
08/1/2026 21:17
Ilmuwan Temukan Rahasia Parasit Giardia yang Mengancam Manusia dan Hewan
Ilustrasi(freepik)

SEBUAH penelitian terbaru dari para ilmuwan di Walter and Eliza Hall Institute of Medical Research (WEHI), Australia, mengungkap strategi evolusi mengejutkan dari parasit Giardia duodenalis. Parasit penyebab diare kronis ini ternyata mampu memperluas jangkauan infeksinya ke berbagai spesies hewan, meskipun fleksibilitas tersebut harus dibayar dengan risiko kepunahan jangka panjang.

Giardia diperkirakan menyebabkan 280 juta kasus secara global setiap tahunnya. Parasit ini mengganggu penyerapan nutrisi di usus kecil, yang memicu diare berkepanjangan hingga malnutrisi, terutama pada anak-anak di komunitas terpencil.

Strategi "Fit-ish" dan Lompatan Antar-Spesies

Tim peneliti menemukan garis keturunan aseksual (tidak bereproduksi secara seksual) dari Giardia memiliki keunggulan jangka pendek dibandingkan garis keturunan seksual. Mereka mampu menjadi "generalis" yang menginfeksi berbagai inang, mulai dari manusia, hewan peliharaan, ternak, hingga satwa liar.

Pemimpin penelitian, Aaron Jex, menjelaskan parasit tidak perlu menjadi sempurna untuk menyebar.

"Ini bukan kelangsungan hidup bagi yang paling bugar (survival of the fittest) – ini adalah kelangsungan hidup bagi yang 'agak bugar' (survival of the fit-ish)," ujar Jex. "Keunggulan singkat itu memungkinkan parasit menyebar ke inang baru sebelum masalah genetik mengejarnya."

Konsekuensi Genetik

Meskipun mampu melompat antar-spesies dengan cepat, jalur aseksual ini memiliki "tanggal kedaluwarsa". Tanpa reproduksi seksual, parasit tidak dapat menukar materi genetik untuk membuang mutasi yang berbahaya.

Seiring waktu, mutasi buruk menumpuk dan perlahan mendorong garis keturunan tersebut menuju ambang kehancuran atau kepunahan. Namun, sebelum punah, parasit ini tetap mampu menyebabkan kerusakan nyata di dunia medis dan menciptakan wabah yang sulit diberantas.

Celah bagi Resistensi Obat

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications ini juga menghubungkan dinamika evolusi tersebut dengan masalah resistensi obat. Pada populasi aseksual, mutasi yang tahan terhadap obat-obatan dapat bertahan lebih lama dan menyebar karena proses seleksi alam yang tidak efisien.

"Temuan kami menunjukkan bahwa ketika aktivitas seksual berhenti, seleksi menjadi tidak efisien," kata Jex. "Ketidakefisienan yang sama itu bisa membiarkan parasit yang kebal obat bertahan dan menyebar."

Mengubah Pola Pengawasan Kesehatan

Temuan ini menjadi peringatan bagi otoritas kesehatan global. Pengawasan infeksi tidak lagi cukup hanya dengan menghitung jumlah kasus pada manusia, tetapi juga harus melacak pola genetik dan rute ekologi yang menghubungkan hewan, manusia, dan lingkungan.

Dengan memahami pola genetik di balik perpindahan inang ini, tim peneliti berharap sistem kesehatan dapat mengantisipasi munculnya infeksi zoonosis baru sebelum menyebar luas, bukan sekadar bereaksi saat wabah sudah terjadi. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya