Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Cara Virus Nipah Menular, dari Kelelawar hingga Antarmanusia

 Gana Buana
27/1/2026 15:34
Cara Virus Nipah Menular, dari Kelelawar hingga Antarmanusia
Cara Virus Nipah Menular, dari Kelelawar hingga Antarmanusia.(Freepik)

PADA 2026, kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis. penyakit yang menular dari hewan ke manusia, kembali menjadi sorotan dunia kesehatan global. Salah satu yang paling diwaspadai adalah Virus Nipah (NiV).

Menyusul laporan klaster kasus baru di wilayah Asia Selatan pada awal tahun ini, pertanyaan mendasar mengenai "virus nipah menular lewat apa" menjadi sangat relevan untuk dijawab secara komprehensif.

Virus Nipah bukan sekadar flu biasa. Ini adalah virus dari genus Henipavirus yang memiliki tingkat kematian (fatality rate) tinggi, berkisar antara 40% hingga 75%, tergantung pada kemampuan penanganan medis setempat. Memahami rantai penularannya adalah kunci utama pertahanan diri kita, mengingat hingga saat ini belum ada vaksin atau obat khusus yang disetujui secara global untuk infeksi ini.

Mekanisme Utama Penularan Virus Nipah

Berdasarkan data epidemiologi terbaru dan panduan organisasi kesehatan dunia tahun 2026, virus Nipah memiliki tiga jalur penularan utama. Virus ini sangat unik karena dapat melompat antarspesies dengan efisien.

1. Penularan dari Hewan ke Manusia (Zoonosis)

Jalur ini adalah rute primer masuknya virus ke populasi manusia. Kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi menjadi faktor risiko terbesar.

  • Kelelawar Buah (Natural Host): Kelelawar dari famili Pteropodidae (terutama genus Pteropus) adalah inang alami virus ini. Mereka membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit. Penularan terjadi jika manusia menyentuh air liur, urin, atau kotoran kelelawar tersebut.
  • Babi (Inang Perantara): Dalam wabah-wabah sebelumnya, babi berperan sebagai "amplifier" atau penguat virus. Babi yang memakan buah bekas gigitan kelelawar dapat terinfeksi, lalu menularkannya ke peternak melalui cairan tubuh (darah, urin, air liur) atau jaringan tubuh saat penyembelihan.
  • Hewan Ternak Lain: Meski lebih jarang, kuda, kambing, domba, anjing, dan kucing juga teridentifikasi berpotensi menjadi inang perantara jika terpapar virus dari kelelawar.

2. Penularan Melalui Makanan (Foodborne Transmission)

Ini adalah jalur penularan yang sering tidak disadari namun sangat mematikan. Di wilayah Asia Selatan dan Tenggara, konsumsi nira (air sadapan pohon aren/kurma) mentah adalah penyebab umum.

PERINGATAN PENTING:
Jangan mengonsumsi nira atau air lahang mentah yang tidak dimasak hingga mendidih. Kelelawar buah sering hinggap di wadah penampungan nira di malam hari, meninggalkan air liur atau urin yang mengandung virus Nipah.

Selain nira, buah-buahan yang telah digigit sebagian oleh kelelawar dan kemudian dimakan manusia tanpa dicuci bersih atau dikupas juga menjadi media penularan yang efektif.

3. Penularan Antarmanusia (Human-to-Human)

Meskipun virus Nipah tidak menular secepat virus influenza atau Covid-19 melalui udara (airborne) jarak jauh, penularan antarmanusia sangat mungkin terjadi melalui kontak erat.

  • Keluarga & Perawat: Orang yang merawat pasien terinfeksi di rumah memiliki risiko tinggi tertular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh pasien (muntahan, urin, darah, atau percikan ludah).
  • Tenaga Kesehatan (Nosokomial): Di rumah sakit, penularan dapat terjadi jika prosedur pengendalian infeksi (seperti penggunaan APD) tidak diterapkan dengan ketat saat menangani pasien yang sakit parah, terutama pasien dengan gejala pernapasan akut.

Gejala Klinis: Apa yang Harus Diwaspadai?

Masa inkubasi virus Nipah bervariasi antara 4 hingga 14 hari, namun dalam beberapa kasus ekstrem bisa mencapai 45 hari. Gejala biasanya muncul secara bertahap:

Fase Gejala Umum
Awal (Mirip Flu) Demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot (myalgia), muntah, dan sakit tenggorokan.
Lanjutan (Neurologis) Pusing, mudah mengantuk, kesadaran menurun, dan tanda-tanda ensefalitis (radang otak).
Kritis Kejang-kejang dan koma yang dapat terjadi dalam waktu 24-48 jam.

Sekitar 20% pasien yang sembuh dilaporkan mengalami gejala neurologis sisa, seperti kejang atau perubahan kepribadian. Kasus relapse (kambuh) juga pernah dilaporkan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah sembuh.

Langkah Pencegahan Efektif di Tahun 2026

Mengingat belum tersedianya vaksin komersial untuk manusia, pencegahan adalah satu-satunya senjata kita. Berikut adalah protokol keamanan yang direkomendasikan:

Bagi Masyarakat Umum:

  • Cuci Buah dan Sayur: Kupas dan cuci bersih semua buah sebelum dimakan. Buang buah yang memiliki tanda gigitan hewan atau kerusakan fisik mencurigakan.
  • Hindari Nira Mentah: Pastikan semua minuman tradisional berbahan dasar nira/aren dimasak hingga mendidih sebelum dikonsumsi.
  • Jauhi Hewan Sakit: Jangan menyentuh hewan ternak yang tampak sakit atau mati mendadak tanpa pelindung diri. Hindari area yang diketahui menjadi sarang kelelawar.

Bagi Peternak dan Pekerja Kebun:

  • Gunakan sarung tangan, masker, dan sepatu bot saat membersihkan kandang atau memproses hasil kebun.
  • Lakukan karantina segera jika ada hewan ternak yang menunjukkan gejala sakit.

Bagi Tenaga Medis:

  • Terapkan kewaspadaan standar (Standard Precautions) untuk semua pasien.
  • Gunakan APD lengkap saat melakukan prosedur yang menghasilkan aerosol pada pasien suspek Nipah.

Status Pengobatan Terkini

Hingga tahun 2026, pengobatan untuk infeksi virus Nipah masih bersifat suportif. Artinya, perawatan difokuskan untuk meredakan gejala dan menjaga fungsi organ vital tubuh agar pasien bisa melawan virus dengan sistem kekebalannya sendiri. Ini meliputi:

  • Istirahat total dan hidrasi yang cukup.
  • Pemberian obat penurun demam dan pereda nyeri.
  • Penanganan kejang dan perawatan intensif untuk kasus ensefalitis.

Penelitian imunoterapi monoklonal sedang dalam tahap lanjut, namun ketersediaannya masih sangat terbatas dan umumnya hanya dalam konteks penggunaan darurat (compassionate use).

Kesimpulan

Virus Nipah menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh kelelawar buah, babi yang terinfeksi, makanan yang terkontaminasi, serta kontak erat antarmanusia. Meskipun wabah besar belum terjadi di Indonesia, posisi geografis kita yang menjadi habitat alami kelelawar buah menuntut kewaspadaan tinggi.

Kunci keselamatannya sederhana: jaga kebersihan makanan, hindari kontak dengan hewan liar, dan segera cari pertolongan medis jika mengalami demam tinggi setelah bepergian ke daerah wabah atau berkontak dengan hewan berisiko. (Kemenkes/Alodok/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya