Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA 2026, kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis. penyakit yang menular dari hewan ke manusia, kembali menjadi sorotan dunia kesehatan global. Salah satu yang paling diwaspadai adalah Virus Nipah (NiV).
Menyusul laporan klaster kasus baru di wilayah Asia Selatan pada awal tahun ini, pertanyaan mendasar mengenai "virus nipah menular lewat apa" menjadi sangat relevan untuk dijawab secara komprehensif.
Virus Nipah bukan sekadar flu biasa. Ini adalah virus dari genus Henipavirus yang memiliki tingkat kematian (fatality rate) tinggi, berkisar antara 40% hingga 75%, tergantung pada kemampuan penanganan medis setempat. Memahami rantai penularannya adalah kunci utama pertahanan diri kita, mengingat hingga saat ini belum ada vaksin atau obat khusus yang disetujui secara global untuk infeksi ini.
Berdasarkan data epidemiologi terbaru dan panduan organisasi kesehatan dunia tahun 2026, virus Nipah memiliki tiga jalur penularan utama. Virus ini sangat unik karena dapat melompat antarspesies dengan efisien.
Jalur ini adalah rute primer masuknya virus ke populasi manusia. Kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi menjadi faktor risiko terbesar.
Ini adalah jalur penularan yang sering tidak disadari namun sangat mematikan. Di wilayah Asia Selatan dan Tenggara, konsumsi nira (air sadapan pohon aren/kurma) mentah adalah penyebab umum.
PERINGATAN PENTING:
Jangan mengonsumsi nira atau air lahang mentah yang tidak dimasak hingga mendidih. Kelelawar buah sering hinggap di wadah penampungan nira di malam hari, meninggalkan air liur atau urin yang mengandung virus Nipah.
Selain nira, buah-buahan yang telah digigit sebagian oleh kelelawar dan kemudian dimakan manusia tanpa dicuci bersih atau dikupas juga menjadi media penularan yang efektif.
Meskipun virus Nipah tidak menular secepat virus influenza atau Covid-19 melalui udara (airborne) jarak jauh, penularan antarmanusia sangat mungkin terjadi melalui kontak erat.
Masa inkubasi virus Nipah bervariasi antara 4 hingga 14 hari, namun dalam beberapa kasus ekstrem bisa mencapai 45 hari. Gejala biasanya muncul secara bertahap:
| Fase | Gejala Umum |
|---|---|
| Awal (Mirip Flu) | Demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot (myalgia), muntah, dan sakit tenggorokan. |
| Lanjutan (Neurologis) | Pusing, mudah mengantuk, kesadaran menurun, dan tanda-tanda ensefalitis (radang otak). |
| Kritis | Kejang-kejang dan koma yang dapat terjadi dalam waktu 24-48 jam. |
Sekitar 20% pasien yang sembuh dilaporkan mengalami gejala neurologis sisa, seperti kejang atau perubahan kepribadian. Kasus relapse (kambuh) juga pernah dilaporkan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah sembuh.
Mengingat belum tersedianya vaksin komersial untuk manusia, pencegahan adalah satu-satunya senjata kita. Berikut adalah protokol keamanan yang direkomendasikan:
Hingga tahun 2026, pengobatan untuk infeksi virus Nipah masih bersifat suportif. Artinya, perawatan difokuskan untuk meredakan gejala dan menjaga fungsi organ vital tubuh agar pasien bisa melawan virus dengan sistem kekebalannya sendiri. Ini meliputi:
Penelitian imunoterapi monoklonal sedang dalam tahap lanjut, namun ketersediaannya masih sangat terbatas dan umumnya hanya dalam konteks penggunaan darurat (compassionate use).
Virus Nipah menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh kelelawar buah, babi yang terinfeksi, makanan yang terkontaminasi, serta kontak erat antarmanusia. Meskipun wabah besar belum terjadi di Indonesia, posisi geografis kita yang menjadi habitat alami kelelawar buah menuntut kewaspadaan tinggi.
Kunci keselamatannya sederhana: jaga kebersihan makanan, hindari kontak dengan hewan liar, dan segera cari pertolongan medis jika mengalami demam tinggi setelah bepergian ke daerah wabah atau berkontak dengan hewan berisiko. (Kemenkes/Alodok/Z-10)
Analisis mendalam mengenai Virus Nipah (NiV) di tahun 2026. Kenali gejala klinis, risiko penularan dari kelelawar, tingkat kematian, dan perkembangan terbaru vaksin.
Peneliti Australia ungkap bagaimana parasit penyebab diare, Giardia, bermutasi untuk menginfeksi berbagai spesies meski harus menghadapi kepunahan jangka panjang.
KEPALA Organisasi Riset Kesehatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indi Dharmayanti, menegaskan perubahan iklim bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga ancaman serius.
Kelelawar merupakan reservoir berbagai virus berbahaya seperti nipah dan hendra. Sementara tikus, dengan kemampuan reproduksi tinggi, membawa lebih dari 80 jenis patogen.
WALI Kota Kota Banjarmasin Muhammad Yamin menerbitkan Surat Edaran Nomor: 100.3/1415/KUM/2025 yang menegaskan larangan peredaran dan konsumsi daging anjing di wilayah tersebut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved