Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Virus Nipah: Gejala, Penularan, dan Status Vaksin di Indonesia 2026

 Gana Buana
27/1/2026 15:06
Virus Nipah: Gejala, Penularan, dan Status Vaksin di Indonesia 2026
Gejala klinis virus nipah, risiko penularan dari kelelawar, tingkat kematian, dan perkembangan terbaru vaksin.(Freepik)

DI tengah kewaspadaan global terhadap penyakit menular baru, Virus Nipah (NiV) tetap menjadi salah satu patogen prioritas yang diawasi ketat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2026. Dengan tingkat kematian (case fatality rate) yang berkisar antara 40% hingga 75%, virus ini menuntut pemahaman mendalam mengenai cara penularan dan pencegahannya, mengingat belum adanya pengobatan standar yang disetujui secara global untuk penggunaan massal.

Artikel ini menyajikan panduan komprehensif mengenai Virus Nipah, mulai dari sejarah kemunculannya, gejala klinis, hingga status penanganan medis terkini di tahun 2026.

Apa Itu Virus Nipah?

Virus Nipah adalah virus zoonosis, artinya virus ini ditularkan dari hewan ke manusia. Virus ini juga dapat menular melalui makanan yang terkontaminasi atau langsung antarmanusia. Inang alami virus Nipah adalah kelelawar buah dari genus Pteropus (sering disebut sebagai kalong).

Pertama kali diidentifikasi pada tahun 1999 saat terjadi wabah di kalangan peternak babi di Malaysia dan Singapura, virus ini dinamai berdasarkan nama desa Sungai Nipah di Malaysia. Sejak saat itu, wabah tercatat muncul secara berkala di Bangladesh dan India, dengan potensi penyebaran ke negara-negara Asia Tenggara lainnya, termasuk Indonesia, yang memiliki populasi kelelawar buah yang besar.

Cara Penularan Virus Nipah

Memahami rantai penularan adalah kunci pencegahan utama. Berdasarkan data epidemiologi hingga tahun 2026, berikut adalah jalur penularan utama:

  • Kontak Langsung dengan Hewan Terinfeksi: Penularan terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh (urine, air liur, darah) dari kelelawar buah atau hewan perantara lain yang sakit, seperti babi, kuda, atau hewan ternak lainnya.
  • Konsumsi Makanan Terkontaminasi: Di Bangladesh dan India, konsumsi nira kurma mentah (raw date palm sap) yang telah terkontaminasi urine atau air liur kelelawar buah menjadi sumber penularan utama. Buah-buahan yang memiliki bekas gigitan kelelawar juga berisiko tinggi.
  • Penularan Manusia ke Manusia: Terjadi melalui kontak erat dengan pasien yang terinfeksi, terutama keluarga yang merawat pasien atau tenaga medis yang tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) yang memadai.

Gejala Klinis dan Masa Inkubasi

Masa inkubasi (waktu dari infeksi hingga muncul gejala) virus Nipah bervariasi antara 4 hingga 14 hari, namun laporan medis mencatat kasus dengan masa inkubasi hingga 45 hari. Gejala dapat berkisar dari infeksi tanpa gejala (asimtomatik), infeksi saluran pernapasan akut, hingga ensefalitis (radang otak) yang fatal.

Gejala Awal:

  • Demam tinggi dan sakit kepala.
  • Nyeri otot (mialgia).
  • Muntah dan sakit tenggorokan.

Gejala Lanjutan (Fase Berat):

Jika infeksi berlanjut ke sistem saraf pusat, pasien dapat mengalami:

  • Pusing dan disorientasi.
  • Mengantuk berlebihan (drowsiness).
  • Kejang-kejang.
  • Koma dalam waktu 24 hingga 48 jam setelah gejala saraf muncul.
  • Gangguan pernapasan berat (pneumonia atipikal).

Dampak Jangka Panjang

Bagi penyintas yang sembuh dari ensefalitis akut, sekitar 20% mengalami konsekuensi neurologis jangka panjang, seperti gangguan kejang atau perubahan kepribadian. Kasus relapsing encephalitis (radang otak kambuhan) juga pernah dilaporkan terjadi berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah sembuh.

Diagnosis dan Pengobatan

Hingga tahun 2026, diagnosis dini tetap menjadi tantangan karena gejala awal yang tidak spesifik. Metode diagnosis utama meliputi tes RT-PCR (Real Time Polymerase Chain Reaction) dari cairan tubuh, serta tes ELISA untuk mendeteksi antibodi.

Status Vaksin dan Terapi

Meskipun penelitian telah berjalan pesat, saat ini belum ada obat atau vaksin khusus yang disetujui secara global untuk penggunaan komersial massal terhadap infeksi virus Nipah pada manusia. Namun, beberapa perkembangan signifikan di tahun 2026 meliputi:

  1. Uji Klinis Vaksin: Beberapa kandidat vaksin (termasuk berbasis mRNA dan vektor virus) sedang dalam tahap uji klinis tingkat lanjut di negara-negara endemik.
  2. Antibodi Monoklonal: Penggunaan antibodi monoklonal m102.4 masih digunakan di bawah protokol penggunaan darurat (compassionate use) di beberapa negara untuk kasus risiko tinggi.
  3. Perawatan Suportif: Penanganan utama tetap bersifat suportif, yaitu meredakan gejala, menjaga keseimbangan cairan tubuh, dan menangani komplikasi neurologis atau pernapasan secara intensif.

Langkah Pencegahan Efektif

Mengingat tingginya fatalitas dan belum adanya vaksin definitif, pencegahan adalah satu-satunya pertahanan terbaik:

Kategori Tindakan Pencegahan
Kebersihan Makanan Hindari minum nira kurma/aren mentah. Cuci bersih dan kupas buah-buahan sebelum dimakan. Jangan makan buah yang tampak bekas gigitan hewan.
Interaksi Hewan Gunakan sarung tangan dan pelindung saat menangani hewan sakit (babi/kuda). Hindari area yang banyak dihuni kelelawar buah.
Layanan Kesehatan Penerapan prosedur pengendalian infeksi standar (kewaspadaan kontak dan droplet) saat merawat pasien dengan gejala demam yang tidak diketahui penyebabnya.

Kesimpulan

Virus Nipah tetap menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang serius di tahun 2026. Meskipun belum menjadi pandemi global, sifatnya yang mematikan dan potensi penularan antarmanusia menuntut kewaspadaan tinggi. Bagi masyarakat Indonesia, menjaga kebersihan makanan dan menghindari kontak dengan inang alami virus adalah langkah mitigasi terbaik saat ini. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya