Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
ANGGOTA Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto meminta pemerintah merespons temuan kasus yang ramai disebut sebagai “super flu” di Indonesia secara terukur dan berbasis sistem, tanpa memicu kepanikan di tengah masyarakat.
Istilah super flu yang belakangan banyak diberitakan merujuk pada influenza A (H3N2) subclade K, yakni varian baru influenza yang lebih mudah menular dan telah menyebar di berbagai negara. Peningkatan kasus dipengaruhi oleh ketidaksesuaian vaksin flu musim ini dengan strain dominan, serta rendahnya tingkat kekebalan populasi terhadap subclade tersebut. Varian ini disebut memiliki laju penularan yang lebih cepat, terutama pada kelompok anak-anak, remaja, dan lansia.
Menurut Edy, keberadaan subclade tersebut sejatinya telah terpantau dalam sistem surveilans kesehatan nasional. Karena itu, ia menilai masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan. Meski demikian, pemerintah juga tidak boleh lengah dalam mengantisipasi potensi dampaknya.
“Yang penting sekarang adalah memastikan kesiapsiagaan sistem kesehatan berjalan baik. Jangan hanya menyampaikan bahwa situasi aman, tetapi juga memastikan layanan kesehatan primer benar-benar siap di lapangan,” kata Politisi Fraksi PDI Perjuangan dikutip dari laman resmi DPR RI, Rabu (7/1.
Edy menekankan, isu super flu tidak bisa dipandang semata sebagai persoalan medis, melainkan juga berkaitan erat dengan kesiapan anggaran kesehatan. Ia menilai alokasi anggaran perlu lebih diarahkan pada upaya pencegahan, deteksi dini, dan penguatan sistem surveilans penyakit, bukan hanya respons ketika kasus sudah meningkat.
“Penguatan puskesmas, laboratorium, dan sistem pelaporan penyakit menular harus menjadi prioritas belanja kesehatan. Ini penting untuk melindungi kelompok rentan seperti balita, lansia, dan masyarakat dengan penyakit penyerta,” ujarnya.
Selain itu, Legislator Daerah Pemilihan Jawa Tengah III tersebut meminta Kementerian Kesehatan segera mengeluarkan serta memperbarui protokol kesehatan yang jelas dan mudah dipahami publik dalam menghadapi peningkatan kasus influenza. Protokol ini dinilai penting agar masyarakat memiliki panduan yang seragam.
“Protokol kesehatan harus disampaikan secara terbuka dan konsisten. Termasuk soal penggunaan masker pada kondisi tertentu, kebersihan tangan, serta panduan bagi sekolah dan fasilitas umum,” katanya.
Di sisi lain, Edy mengingatkan agar komunikasi pemerintah tidak bersifat sensasional. Pengalaman pandemi COVID-19, menurutnya, menunjukkan bahwa informasi yang tidak utuh justru berpotensi memicu kepanikan dan disinformasi.
“Kita perlu narasi yang berbasis data dan sains. Edukasi publik jauh lebih penting daripada istilah-istilah yang menimbulkan kekhawatiran,” tutur Edy.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan disiplin menjaga kesehatan. Publik diminta mengikuti anjuran resmi pemerintah, tidak mudah terpengaruh informasi menyesatkan di media sosial, serta konsisten menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Anggota Komisi XI DPR RI M Hasanuddin Wahid menaruh harapan besar kepada sosok yang akan menggantikan Iman Rahman sebagai Direktur Utama BEI.
Komisi VI DPR RI melakukan kunjungan kerja spesifik ke kilang minyak Pertamina di Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Kamis (29/1).
Menegaskan kembali posisi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) berada di bawah komando Presiden adalah keputusan yang tepat.
Mandeknya pembahasan bukan sekadar kendala teknis administrasi, melainkan indikasi kuat adanya upaya mempertahankan status quo.
Isu utama menuju Pemilu 2029 bukanlah sekadar penghapusan PT
Kebijakan ambang batas bukan sekadar instrumen penyaring peserta pemilu.
Satu kasus muncul di Kabupaten Sleman saat memeriksakan diri ke rumah sakit pada September 2025.
Super flu pada dasarnya merupakan virus influenza yang telah mengalami mutasi, sehingga muncul subklausa baru yakni Influenza A H3N2 Subclade K.
Virus super flu influenza A (H3N2) subclade K telah terdeteksi berada di Bandung dan 10 warga sekarang tengah menjalani pemeriksaan.
Masyarakat kembali diingatkan untuk selalu menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di lingkungan masing-masing untuk mencegah kasus super flu.
Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved