Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Menkes: Super Flu tidak Mematikan seperti Covid-19

Akmal Fauzi
02/1/2026 20:40
Menkes: Super Flu tidak Mematikan seperti Covid-19
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin(Antara)

MENTERI Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan bahwa influenza A (H3N2) subclade K, yang belakangan disebut sebagai super flu, sudah lama ada dan tidak berbahaya seperti Covid-19 atau tuberkulosis (TBC).

“Jadi nggak usah khawatir bahwa ini seperti Covid-19 mematikannya. Tidak. Ini adalah flu biasa. Influenza H3N2,” kata Budi dikutip dari Antara di Jakarta, Jumat (2/1). 

Menurut Budi, karakteristik influenza H3N2 serupa dengan flu musiman pada umumnya. Penyakit ini dapat kambuh dan biasanya mengalami peningkatan kasus di negara-negara dengan empat musim, khususnya saat musim dingin. Namun, di negara tropis seperti Indonesia, lonjakan kasusnya tidak terlalu signifikan.

“Itu sebabnya di negara-negara tersebut ada vaksin influenza setiap tahun yang mereka suntikkan,” ujarnya.

Meski tidak tergolong berbahaya, Budi tetap mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan dan imunitas tubuh dengan istirahat yang cukup serta rutin berolahraga.

“Kalau immune system kita bagus, itu kita bisa mengatasi sendiri tubuh kita karunia Tuhan ini luar biasa. Ini udah ada tentaranya sendiri yang ngelawan virus-virus itu.”

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan juga memastikan bahwa vaksin influenza yang tersedia saat ini masih efektif untuk mengurangi risiko sakit berat, rawat inap, hingga kematian akibat influenza A (H3N2). Pernyataan ini disampaikan sebagai respons atas pemberitaan mengenai situasi influenza A(H3N2) subclade K di sejumlah media.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati, menyatakan bahwa berdasarkan penilaian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) serta situasi epidemiologi terkini, super flu tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan klade atau subclade influenza lainnya.

“Gejala umumnya seperti flu musiman, yaitu demam, batuk, pilek, sakit kepala, nyeri tenggorokan,” katanya di Jakarta, Kamis (1/1).

Meski demikian, pemerintah terus melakukan pemantauan melalui surveilans dan pelaporan, serta menyiapkan kebijakan dan langkah antisipatif sesuai perkembangan situasi.

Hingga akhir Desember 2025, tercatat sebanyak 62 kasus influenza A (H3N2) di delapan provinsi. Jumlah kasus terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.

Widyawati menegaskan bahwa seluruh varian yang ditemukan merupakan varian yang sudah dikenal dan telah bersirkulasi secara global, serta terus dipantau melalui sistem surveilans WHO.

(Ant/P-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya