Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
BENCANA alam kerap datang tanpa peringatan. Di balik semangat gotong royong dan keinginan membantu sesama, relawan sering kali langsung terjun ke lokasi bencana tanpa persiapan yang cukup. Padahal, niat baik saja tidak selalu cukup. Tanpa pemahaman yang tepat, bantuan justru berisiko menimbulkan masalah baru, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa penanganan korban bencana membutuhkan kesiapan, bukan hanya empati. Hal ini ia sampaikan dalam forum bersama wartawan di sela peluncuran buku penanganan bencana IDAI di Gedung IDAI, Jakarta Pusat, Senin (22/12).
“Jangan sampai ketika turun ke daerah bencana, relawan atau tenaga medis datang tanpa persiapan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan,” ujar dr. Piprim.
Salah satu kesalahan yang masih sering terjadi di lokasi bencana adalah menyamakan kebutuhan anak dengan orang dewasa. Padahal, menurut dr. Piprim, anak, terutama bayi dan balita memiliki kebutuhan yang sangat spesifik.
Dalam kondisi darurat, anak-anak lebih rentan mengalami gangguan kesehatan, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, penyakit kulit, hingga gangguan gizi. Lingkungan pengungsian yang padat, lembap, dan minim sanitasi menjadi faktor pemicu utama.
“Anak-anak itu bukan orang dewasa versi kecil. Penanganannya berbeda, baik dari sisi medis, nutrisi, maupun perlindungannya,” kata dr. Piprim.
Masalah makanan menjadi isu krusial di lokasi bencana. Banyak relawan dan donatur mengirim makanan instan dalam jumlah besar karena dianggap praktis. Namun, jika berlangsung terlalu lama, makanan instan justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan anak.
Menurut dr. Piprim, pada fase darurat awal, sekitar satu hingga tiga hari, makanan instan masih dapat diterima untuk bertahan hidup. Namun setelah akses mulai terbuka, relawan perlu memikirkan asupan yang lebih bergizi.
“Kalau sampai berminggu-minggu hanya makan makanan instan yang tinggi garam dan minim protein, anak-anak bisa mengalami malnutrisi,” jelasnya.
Relawan dianjurkan mendukung penyediaan dapur umum atau makanan siap saji bergizi yang aman, seperti makanan kemasan steril tanpa bahan kimia berbahaya, yang mengandung protein hewani, lemak, dan karbohidrat seimbang.
Dalam situasi bencana, pemberian ASI tetap menjadi pilihan utama untuk bayi. ASI lebih aman, higienis, dan melindungi bayi dari risiko diare. Namun, dr. Piprim menegaskan bahwa susu formula tetap bisa menjadi pemilihan.
“Tidak semua bayi beruntung. Ada yang kehilangan orang tua, ada yang ibunya tidak bisa menyusui. Dalam kondisi seperti itu, susu formula bisa direkomendasikan oleh tenaga medis,” ujarnya.
Masalah utama susu formula di pengungsian adalah sanitasi. Botol yang tidak steril dan air yang tidak bersih justru dapat meningkatkan risiko diare. Karena itu, keputusan pemberian susu formula harus melalui pertimbangan tenaga kesehatan, bukan inisiatif relawan secara mandiri.
Selain penyakit fisik, anak-anak korban bencana juga menghadapi trauma psikologis. Ada yang menjadi pendiam, takut air, sulit tidur, hingga kehilangan nafsu makan. Trauma ini tidak selalu muncul secara langsung, tetapi dapat membekas dalam jangka panjang.
Relawan memiliki peran penting dalam membantu pemulihan mental anak, bahkan tanpa latar belakang medis. Mengajak anak bermain, menggambar, atau sekadar berbincang dapat membantu mereka merasa aman.
“Hal-hal sederhana seperti bermain kertas, bercerita, atau mendampingi anak itu sangat berarti. Yang penting anak merasa diperhatikan,” kata dr. Piprim.
Namun, untuk kasus trauma berat, kolaborasi dengan psikolog atau psikiater anak tetap diperlukan.
Meski begitu, tidak semua masalah bisa diselesaikan di pengungsian. Anak dengan penyakit kronis, seperti diabetes yang membutuhkan insulin rutin, memerlukan rujukan cepat ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai. Keterlambatan akses obat atau transportasi dapat berujung fatal.
Karena itu, relawan perlu memahami batas perannya dan segera berkoordinasi dengan tenaga kesehatan atau pihak berwenang jika menemukan kondisi gawat darurat.
Air kelapa memang memiliki manfaat kesehatan yang nyata, namun fungsinya lebih bersifat sebagai pendukung cairan tubuh.
IDAI mengingatkan cacar air sangat menular. Satu anak bisa menularkan varicella ke 8–12 anak lain, terutama di sekolah dan lingkungan dengan kontak erat.
ISTILAH superflu kini sedang menjadi tren di luar negeri, yakni varian virus K dari influenza A (H3N2). Ini Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk mencegah anak tertular.
KASUS influenza A H3N2 subclade K atau super flu sudah masuk ke Indonesia. Ketua Umum IDAI dr Piprim B Yanuarso mengimbau orangtua meningkatkan kewaspadaan terhadap super flu
Lonjakan kasus influenza terjadi secara signifikan di Amerika Serikat. Kota New York mencatat lebih dari 71.000 kasus flu dalam sepekan hingga 20 Desember 2025
Ketersediaan air bersih tidak hanya diperlukan untuk konsumsi, tetapi juga untuk menjaga sanitasi lingkungan, mencegah penyebaran penyakit, serta menunjang aktivitas harian.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus mempercepat penanganan bencana Aceh melalui pembangunan Hunian Sementara (Huntara) bagi masyarakat terdampak.
Bencana banjir bandang di Kecamatan Simpenan terjadi pada Desember 2024 dan Maret 2025
Donasi ini merupakan hasil penggalangan dana sukarela dari Aparatur Sipil Negara (ASN), pegawai BUMD, serta masyarakat Kabupaten Sumedang
BPMI dan Istiqlal Global Fund (IGF) menunjukkan aksi kepedulian kemanusiaan dengan menyalurkan bantuan dari jemaah Masjid Istiqlal kepada masyarakat terdampak bencana alam di Aceh Tamiang
Wamen PPPA juga mengajak para ibu untuk memanfaatkan microgreen sebagai sumber pangan sehat dan cepat panen.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved